Life Observer

world in my arms

PESAN DALAM KESEPIAN ISYARAT

with 2 comments

Senja, jelasnya aku ingin bercerita tentang engkau dalam kesepian yang membawaku pada kenikmatan suasana. Meneguhkan badai-badai rindu yang mengatenuasi kelupaanku. Mengandam kekeluan risau. Membungkusnya dengan kebebasan hati. Serta kurasakan engkau makin dekat dalam hati ini.

Senja, hanya waktu yang mampu membuktikan keindahan apa yang kini sedang aku alami. Di dalam ketiadaanmu aku berpikir tentang pencarian rasa. Rasa yang membawaku pada dominasi diri. Menenggelamkan kebimbangan, dan mengubahnya dalam gradasi pelangi yang berkilau. Lukiskan itu untukku. Pada saatnya nanti, akulah yang akan menyandang itu.

Senja, aku yakin keikhlasan akan membawaku pada denting hati yang demikian sunyi. Hati yang terisi dengan keberterimaan tinggi. Perkenankan aku untuk memaklumi ini. Aku tahu kau hanya bisa menanggapiku di derai hening. Kemudian mulai berbicara dengan alam sebagai isyarat yang dapat aku mengerti, dan hanya aku yang mengerti.

“Duhai sang pencerita. Engkau mungkin tak tahu bahwa sebenarnya ku mengamatimu setiap saat. Setiap saat kau berpikir akan keindahan, keselarasan, dan keikhlasan menerima. Aku tahu hatimu benar seperti itu. Hanya aku merasa terjebak pada desau semesta yang tak mengerti apa sebenarnya yang kau pikirkan.

Tempatkan aku semampu engkau mengurai cerita tentangku, dan aku tak akan menolak itu. Aku tak akan menyayat pilu di hatimu. Aku tak akan menebar gelisah dalam perihnya engkau menampung kerinduan. Hanya rasa ini demikian tak bisa ku tahan. Rasa untuk sekedar menyapamu, walau dalam mimpi. Tapi jauh lebih dalam yang aku rasakan kerinduanmu mampu menembusku dan menjadi sarana dialog yang menyejukkanku di periode malam.

Ku yakin engkau memahami aku di setiap masa. Di setiap langkahmu. Di setiap peraduan semi yang kurasa kau akan selalu menantikannya. Endapkanlah rasa itu. Khidmatkan dan simpan aku di memorimu, maka di sini aku merasakan apa yang kau rasakan. Percayalah bintang malam ini, bulan malam ini, dan udara yang dingin kan memandu berjuta pesanmu untuk disampaikan padaku, yang malam pun akan merasakan ada suatu suasana yang berbeda.

Duhai engkau, lukislah anganmu demikian tinggi hingga batas di mana aku tak lagi bisa menggapainya. Jangan merasa gelisah karena itulah yang aku inginkan dari apa yang telah kau pikirkan. Bermainlah dengan rasa itu. Kabarkan pada semesta bahwa hanya padaku pesan itu berlabuh.

Tenanglah….

Dan kerjapkan pandangmu pada ujung simfoni cakrawala

Menghiasi detik-detikku di akhir kehadiran.”

Ketahuilah bahwa aku takkan berhenti untuk mencari ke mana pesan itu kan terbawa. Senja aku tak menyangka kau luluh hanya dengan kata-kata. Tapi aku bersyukur, engkau telah begitu setia menghimpun derai demi derai kata yang mengalir dalam setiap kesendirianku.

Senjaku, zaman kan mencatat sejarah ini sebagai memori terindah bagiku. Kendati berjuta kata telah kureka, berlama waktu telah menunggu, takkan pernah ku lepaskan engkau hanya dalam kelelahanku berujar tentang simfoni kehidupan. Dan perlu kau tahu bahwa simfoni itulah yang telah engkau warnai di hatiku.

Written by Deri

Juni 3, 2009 at 9:18 am

Ditulis dalam Heart Express, Literature

CERITAKAN PADAKU TENTANG MALAM

tinggalkan komentar »

Senja, ada kawan yang memintaku berkisah tentang malam. Tentang kesunyian yang selalu membuat manusia terhening dalam kesendirian. Menatap bulan yang tak sekedar bersinar. Memandang bintang yang tak sekedar berkelip. Malam juga telah membuat kekaguman di hatiku. Tumbuh merintis angan dalam sepi.

Senja, kau mungkin tahu malam tak pernah bersamamu. Malam tak selalu membuatmu indah. Malam telah membisikkan padaku dinginnya. Tapi kini kuminta engkau bercerita tentang rantai-rantai yang membelenggu kawanku itu. Tentang malam yang seperti bisu. Di sini sendiri aku akan mendengarkanmu,

Wahai engkau yang ingin aku bercerita tentang malam melalui sinar. Maaf aku tak bisa berkisah banyak tentang malam. Sinarku tak mampu menembus apa yang membuat malam itu indah menurutmu. Malam juga melambaikanku pada ujung waktu, untuk membuatku kembali datang, menyapa semesta alam. Aku tak pernah mengharapkan sebuah ketinggian yang akan membawaku. Kemudian mengantar pada dera kebimbangan. Menilam kesepian. Menghadirkan gundah di hatimu. Percayalah malam tidaklah buruk. Ia indah. Buktinya aku selalu melihat engkau berterawang dengannya. Menikmati dingin dan sunyi. Gelap dan riaknya yang lembut hingga menentramkanmu.

Ada kalanya sebuah tanya tak bisa dijawab dengan kata-kata. Menjadi sebuah misteri yang akan terjawab seiring zaman memandang hijau. Engkau, engkau mungkin baru pertama kali mendengarku. Di antara kekaguman. Di antara penat yang dulu membelenggumu. Coba ketahuilah bahwa saat satu bintang berkelip, aku tahu itulah akhirku. Malam telah memberikan keindahan yang lain pada semesta dan pada pengagumnya. Akan tetapi mengapa kau tak berkisah tentang itu saja? Tentang sunyinya. Tentang pekat yang menentramkanmu.

Wahai engkau, aku tak tahu siapa yang selalu melukisku. Adakah itu engkau? Percayalah aku dan malam sama saja. Keindahannya menurutmu melegakan dalam kesendirian ujung hari. Kepastian mana yang lebih indah aku tak mampu menjabarkannya.

Engkau mungkin tahu akan arti keindahan. Menentramkan hati. Menyiangi gelisah dengan sejuk abadi. Tapi ketahuilah aku tak lagi mampu membawamu pada semesta keindahan yang terlampau tinggi. Menidurkan impian dan menghambat kenyataan untuk hadir bersamamu.

Andai malam mau berbagi kisah denganku tentang sebuah keindahan abadi merangsang manusia untuk menyadari bahwa hakikat diri itu adalah sebuah keindahan, aku kan membawamu pada ‘singgasana’ waktuku, dan kan kubiarkan kau melihatku seperti apa.

Ada hening, ada tanya, ada kekaguman.

Semua terangkum dalam satu kata.

Mengiris sepiku dalam gelisah.

Dan malam menutup kehadiranku.”

Ada hati yang pilu, namun cepat menyadari sebuah tanda tanya besar yang tak akan terungkap dengan seribu bahasa jawaban, aku takkan terpuaskan dengan itu.

Percayalah senja kan kucari arti dibalik semua ini. Sampai kau masih dalam pandanganku, menentramkan jiwa menghadirkan bening yang menghapus keraguan.

Written by Deri

Juni 3, 2009 at 9:15 am

Ditulis dalam Heart Express

Rekam Jejak 16 Mei (Enam Tahun Terakhir)

with 6 comments

Sabtu 16 Mei 1987 aku terlahir. Tepatnya pada 17 Ramadhan 1407 H. Ingin mencoba mengenang kembali momen itu. Momen peringatan (ah gak pernah diperingati juga :P ) hari kelahiranku.

Hmmm…mencoba mengingat-ingat yang ada di kepala ini, momen apa saja yang ada kala itu. Meski hanya sepotong saja yang dapat teringat, tapi semoga bisa dijadikan bahan refleksi. Berikut adalah rekam jejaknya.

Minggu, 16 Mei 2004

Kelas 2 SMA di SMAN 1 Leles. Hari Senin-nya waktu itu akan diadakan ulangan umum. Sudah menjadi kebiasan aneh, entah itu menjelang ulangan umum atau ketika ulangan umum aku selalu sakit. Sakit biasalah. Atau juga ketika Idul Fitri. Biasanya sakit selalu setia menemani, hahaha. Dasar penyakitan. 16 Mei di tahun 2004 ini tak banyak yang dapat diingat momen apa saja. Hanya momen sakit saja yang dapat teringat. Lemas terasa, karena seharian penuh tak keluar kamar, kecuali ke kamar mandi. Ditemani buku-buku pelajaran mencoba merefresh kembali hafalan materi pelajaran. Jenuh dan betul-betul lemah kala itu. Waktu itu kalau tidak salah sudah beberapa hari aku sakit. Demam, pilek, sakit kepala, sekujur tubuh sakit semua, lemas. Dalam kondisi seperti itu, tubuhku malah dipaksakan untuk belajar. Apa mau dikata keringat mengalir sekujur tubuh. Dingin. Dan aku tak mampu berbuat apa-apa. Tak terasa lelah belajar membuatku tertidur dan kemudian bangun di waktu sore. Masih dengan kondisi lemas, namun sakit kepala sedikit berkurang, aku mencoba keluar kamar dan duduk menghela nafas di ruang tamu. Ada ibu dan kedua adikku.

”mah, sekarang teh ulang tahun si aa” seru adikku yang perempuan

Sejenak ibuku berkerut keningnya, dan kemudian tersungging senyum di bibirnya.

”oh, iya…”

Sedikit terlupa, akupun sejenak terdiam berpikir. Iya benar sekarang Minggu tanggal 16 Mei, begitu gumamku.

Malamnya ibu memberiku buah pear, sebenarnya juga untuk kami bertiga (aku dan adik2ku).

”yah, itung2 kado ulang tahun-lah”

Iya memang adikku yang perempuan berulang tahun tanggal 19 Mei dan adikku yang laki-laki berulang tahun pada tanggal 02 April. Ya,,anggaplah sekalian saja.

Dan aku memakan buah pear itu dengan lahap. Anggap aja obat biar cepat sembuh, apalagi besok ada ulangan umum (UAS), begitu pikirku kala itu.

Senin, 16 Mei 2005

Masa libur menunggu hasil kelulusan UN dan perpisahan kelas 3 sangat membosankan. Apalagi saat itu aku sudah menjalani hampir sebulan libur. Tak ada aktivitas berarti selain main-main dan mengajar ngaji. Arrrrgghhh….bosan! Diam di rumahpun malah semakin membuat kebosananku menjadi-jadi. Saat itu tanggal 16 Mei 2005, hari ultahku ke 17 (kata orang mah harusnya sweet seventeen) aku malah membuat ibuku meneteskan air mata. Sebab apa? Keinginanku yang sangat kuat untuk berkuliah. Harus mencoba mempertahankan keinginan itu walaupun kami berada di sekat-sekat keterbatasan yang ada. Terutama masalah materi. Siapa yang akan membiayai kuliah-ku? Untungnya Pamanku bersedia membiayai kalo ibuku tak sanggup memenuhi pembiayaan kuliah. Walaupun berita menyedihkan itu datang, tepat 5 hari aku diterima sebagai mahasiswa ITB, pamanku itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Ya benar, hari ultah yang diisi dengan keterbatasan ibuku untuk memenuhi keinginanku agar bisa berkuliah. Keinginan itu begitu kuat, sampai-sampai aku mengutarakan kekecewaanku jika aku tak bisa berkuliah. Yah memang ulang tahun yang penuh suasana yang tak mengenakan. Tapi di situlah sebenarnya daya nalar dan pemikiran kritisku bermulai. mulai berpikir untuk banyak hal, menganalisis kejadian atau fenomena yang terjadi di sekitar, dan lebih banyak mengamati perilaku orang lain. Lebih banyak menjadi pendiam (walaupun sebenarnya telah lama menjadi pendiam). Sebuah kenangan yang memang harus dibayar mahal sampai sekarang ini.

Selasa, 16 Mei 2006

Resmi menjadi mahasiswa ITB.16 Mei 2006. Saat itu merupakan masa-masanya UAS. UAS Kalkulus lagi. Wehey mantaff cuy!!! Tak ada yang istimewa selain momen UAS Kalkulus yang alhamdulillah dilalui dengan lancar (lebih mantabh lagi dua minggu setelah itu, ternyata awa dapet skor 99, wekekekekek). Paginya hanya dilaui dengan membaca-baca buku Kalkulus Purcell (still remember???), latihan soal dari bundel soal Gamais yang dilakukan di rumah (setahun pertama aku tinggal di rumah sodara). Siangnya kembali membaca-baca catatan kuliah dan buku Kalkulus di Masjid Salman (tempat paporit awa waktu TPB buat belajar).

Sorenya UAS Kalkulus. Beres ujian yah biasa weh pulang ke rumah lagi, sambil membeli roti bakar di Pasar Sederhana (oiya waktu TPB tinggal di Sukajadi). Malamnyapun dimakan bareng2 anaknya sodara (tante) yang berusia 5 dan 10 tahun. Imut2 dan menggemaskan. Senang dan cukup tenang. Malamnya ada SMS ucapan selamat ulang tahun dari ibu. Momen sederhana tapi cukup bermakna.

Rabu, 16 Mei 2007

Memasuki tingkat dua lepas dari masa TPB. Mata kuliah susah-susah tapi IP malah lebih baik dari masa TPB, ehhehe… oia tingkat dua ini aku mulai tinggal di asrama salman. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku ada yang mengucapkan selamat ulang tahun selain keluargaku. Siapa? Ya temen2 asrama. Waktu itu pas rapat subuh di mihrab masjid salman. Peringatan yang sederhana juga, tapi mulia, karena diiringi doa dan ucapan yang sungguh membuatku terharu (tapi tak sampai menitikkan air mata, wehehehehe…). Bermakna dari sebuah ucapan yang sederhana tapi mulia. Ucapan dan doa itu menjadi energi yang luar biasa saat aku menjalani kuliah hari itu.

Dan untuk pertama kalinya juga aku mendapatkan ucapan selamat ultah dari temen2 SMA. Melalui SMS. Senang rasanya menerima SMS dari mereka, terutama dari seseorang yang aku kagumi (ssssssssttttttttt, wahahahahahaha….)

Jumat, 16 Mei 2008

Untuk lebih jelasnya momen apa yang ada pada tanggal ini, bisa di baca di blogku http://meidian.wordpress.com judulnya Momen Yang Terlupakan. Di situ dijelaskan secara detail kronologis momen yang terjadi di pada hari itu. Sedikit menggambarkan saja. Aku sempat lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. Ini terjadi karena kesibukan tugas dan kuliah yang menjadi-jadi menjelang akhir semester (tapi udah biasa sih). Dua kata yang menggambarkan sekali hari ulang tahun ini: capek dan ngantuk (lebih jelasnya baca di blog itu, wehehehe, sekalian promosi).

Tapi tetep ada senang2nyalah, walaupun ucapan selamat dari temen2 asrama gak ada (coz pada sepi siyyy…), dan ucapan lewat SMS-pun cuman 3 biji. Yang menghebohkan ibu nelpon cuy, weheheehhe…

Dan di penghujung sore alias malam, mie goreng, roti bakar, n pisang bakar menemani kontemplasiku di beranda asrama. Sendirian, hehhhehehe.

Sabtu, 16 Mei 2009

Nah, ni dia yang baru berlangsung deket2 ini. Apa momen yang terjadi. Terus terang untuk pertama kalinya aku menunggu-nunggu hari ulang tahunku. Dari seminggu sebelumnya kalo tidak salah. Sudah merencanakan juga untuk pulang ke Garut sekalian check-up. Tapi ah apa mau dikata, ternyata hari itu ada kuliah kebijakan iklim. Yang terakhir sepanjang aku menjadi mahasiswa, hehehe. Yaud pulang ke garut jadi harus sore2, naik kereta biar murah.

Namun hari yang membahagiakan ternyata tak seperti yang diharapkan. Dalam perjalanan pulang ke garut mengalami musibah yang sangat biadab (walah lebay…), ah tak pantas diceritakan. Sampai di garut beli roti bakar dulu. Oia sebelum itu pertama kalinya dalam sejarah hidupku juga, aku menerima banyak ucapan melalui SMS, dari keluarga ataupun teman, dan ucapan selamat temen2 di pesbuk juga (weehehehee). Seneng, tapi ada yang mengganjal.

Sampai di rumah jadi serba salah. Makan tak enak. Dan sehabis shalat jama maghrib-isha, tiba-tiba jadi pengen nangis. Ibu yang mau ngucapin selamat ultah aja heran. Aku menangis. Untuk pertama kalinya semenjak SD. Ibukupun heran. Dan untuk kedua kalinya di ulang tahunku aku membuat ia kembali menangis.

”kenapa aa?? Ada apa? Tak biasanya aa nangis kayak gini…” isak ibuku

Aku memeluknya, iapun memelukku. Dan berkali-kali yang terungkap dari mulutku saat itu hanya maaf, maaf dan maaf. Maaf untuk segala dosa dan kesalahanku kepada orang tua dan adik2ku. Ibuku malah heran mempertanyakan mengapa aku menangis, ada masalah apa? Itu yang beliau terus tanyakan, soalnya aku orang yang jarang terbuka dan bercerita. Tapi berkali-kali juga aku menegaskan bahwa tidak ada apa2. Permohonan maaf itu terus mengalir dari mulutku disertai isak tangis aku dan ibu. Ibu malah minta maaf tidak bisa membahagiaakan aku. Tapi segera kutepis anggapan itu. Dan saat itu aku hanya ingin memohon maaf. Maaf atas segala kesalah dan dosaku selama 22 tahun ini terhadapnya terhadap adik2ku.

Ah, ulang tahun yang sungguh aneh, dan di luar yang diharapkan. Nano-nano pokoknamah….

Begitulah rekam jejak 16 Mei dalam 6 tahun terakhir, semoga ada manfaatnya terutama bagi aku pribadi. Amiin…

Written by Deri

Mei 20, 2009 at 9:35 am

Ditulis dalam Heart Express

Bintang Kesepian dan Cerita dalam Hujan (part II)

with 3 comments

Bintang itu terkejut saat tepat tetes air hujan terakhir turun menapak bumi, ia menangkap kemunculan purnama di balik awan. Hening dalam keletihan yang membuat ia tak mampu lagi fokus terhadap keadaan sekelilingnya. Ia mencoba memperkuat intensitas sinarnya, namun tinggal remah-remah saja yang mampu menjaganya dari ketidakberdayaan.

Saat silau sinar itu semakin menipis ada asa yang ia kembangkan di sekeliling angkasa. Menyeruak dalam keharibaan malam. Menusuk jiwanya, melapangkan keberterimaan bintang itu.

Namun sejengkal demi sejengkal sirat sinar purnama itu tertutup awan hitam. Bintang kecewa. Bintang termenung. Ada yang menghilang. Tapi ia tetap bersinar meski lambatlaun meredup. Sementara itu tetes-tetes hujan mulai berlomba untuk jatuh ke bumi. Ia tak peduli.

Written by Deri

Maret 9, 2009 at 6:12 pm

Ditulis dalam Heart Express

My Personality (part II)

with 2 comments

Hasil tes kepribadian dari:

http://www.quizbox.com/personality/test82.aspx

Your view on yourself: Other people find you very interesting, but you are really hiding your true self. Your friends love you because you are a good listener. They’ll probably still love you if you learn to be yourself with them.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for: You like serious, smart and determined people. You don’t judge a book by its cover, so good-looking people aren’t necessarily your style. This makes you an attractive person in many people’s eyes.

Your readiness to commit to a relationship: You prefer to get to know a person very well before deciding whether you will commit to the relationship.

The seriousness of your love: Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates. Your views on education Education is less important than the real world out there, away from the classroom. Deep inside you want to start working, earning money and living on your own.

The right job for you: You’re a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you’ll be set for life.

How do you view success: You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying. What are you most afraid of: You are afraid of things that you cannot control. Sometimes you show your anger to cover up how you feel.

Who is your true self: You like privacy very much because you enjoy spending time with your own thoughts. You like to disappear when you cannot find solutions to your own problems, but you would feel better if you learned to share your thoughts with a person you trust.

Written by Deri

Maret 5, 2009 at 5:11 am

Ditulis dalam Heart Express

Seberapa Yakin Kita Ber-KM ITB Sekarang? (Refleksi Menuju Pemilu Raya KM ITB 2009)

with 2 comments

Membaca link di bawah ini saya kemudian jadi berpikir:

http://km.itb.ac.id/web/index.php?option=com_content&view=article&id=171:forum-rembug-km-itb-2009-garis-start-perbaikan-km-itb-oleh-kita-bersama&catid=75:diskusi-diluar-isu-energi-pangan-dan-pendidikan&Itemid=110

ternyata hasil dari forum rembug ini kuranglah membahas atau memunculkan apa masalah yang saya ingin dengar dari dulu sebenarnya. Masalah yang saya ungkapkan ketika Kongres KM ITB 0809 roadshow ke lembaga saya (HMME “ATMOSPHAIRA”). Masalahnya apa? Mungkin pada saat forum rembug dibahas sedikit, namun sayang sekali tidak secara komprehensif masalah itu dikupas. Apakah masalah itu? Oke, saya akan mencoba membahasnya menggunakan analogi kemahasiswaan terpusat-lembaga dan kelurahan-kepala keluarga (kk).

Taruhlah misalnya khasusnya begini, Kelurahan, melalui pak Lurah mengundang warganya untuk mengikuti penyuluhan yang diadakan di balai kelurahan tentang pentingnya wajib belajar belajar 12 tahun. Akhirnya pak Lurah pun mengundang seluruh kepala keluarga untuk mengikuti penyuluhan tersebut. Ketika penyuluhan di mulai pak Lurah memberikan pernyataan bahwa wajib belajar 12 tahun adalah penting. Pak Lurah juga menginstruksikan agar semua warga turut mendukung dan berpartisipasi dalam program wajib belajar 12 tahun itu.

Setelah Pak Lurah mengeluarkan statement seperti itu, para warga banyak juga yang menanggapi.

1.       “saya sepakat dengan pak Lurah. WAJAR 12 Tahun itu penting!”

2.       “kami juga mendukung! Anak kami akan kami sekolahkan sampai SMA”

3.       “demi memajukan kelurahan kita, kami sepakat”

4.       “kami akan terus mendukung program ini, pak. Sebab kami telah banyak mendapatkan manfaat dari program ini”

Itulah tanggapan dari sebagian para warga. Namun ada juga yang memberikan tanggapan yang bisa dibilang bertolak belakang dengan komentar sebelumnya, walaupun pada intinya ada yang tetap mendukung program tersebut.

A.      “kenapa harus WAJAR 12 tahun? Kenapa tidak 16 tahun? Itu lebih kerasa manfaatnya..”

B.      “ah,,,buat apa pak lurah, mendingan pak Lurah lengser saja. Ganti dengan pak Lurah yang baru. Pak Lurah sekarang banyak program, tapi banyak masalah, kelurahan kita gak maju-maju”

Mendengar pernyataan yang berbeda tersebut pak Lurah kemudian berpikir. Ada yang mendukung programnya, ada yang tidak mendukung programnya, termasuk warga yang tidak hadir di penyuluhan itu dia kategorikan sebagai warga yang tidak mendukung programnya.

Saya pikir ada yang keliru dari anggapan yang diambil oleh pak Lurah ini.

-          Dia kurang menyosialkan bahwa adanya penyuluhan di balai kelurahan, sehingga banyak warga yang tidak hadir

-          Dia menganggap warga yang tidak hadir tidak mendukung programnya

-          Dia terlalu memikirkan warga yang hadir, yang memberikan pernyataan yang bertolak belakang tadi, padahal banyak warga yang tidak hadir justru itulah yang perlu diperhatikan.

Saya pikir begini mungkin warga yang tidak hadir memiliki alasan yang kuat mengapa mereka tidak hadir dalam penyuluhan tersebut

1.       Sosialisasi kurang gencar sehingga banyak warga yang tidak hadir

2.       Banyak warga juga yang belum memiliki anak sehingga mereka berpikir buat apa datang toh belum memiliki anak

3.       Akses perjalanan mereka ke balai kelurahan sangatlah sulit, mereka harus melewati rawa-rawa yang rawan binatang buas, atau karena hujan.

4.       Warga belum memahami arti pentingnya menghadiri penyuluhan tersebut

5.       Warga merasa penyuluhan tersebut hanya berguna bagi segelintir orang saja

6.       Warga merasa pak Lurah kurang memperhatikan warganya, sehingga mereka lebih “tertarik” untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, ketimbang menghadiri penyuluhan tersebut.

Itulah yang salah dari pak Lurah (kelurahan) atau mungkin dari warganya sendiri. Tapi di sini lebih banyak pak Lurah (kelurahan) yang salah. Bagitupun dengan kemahasiswaan kita. Masalah yang dibahas ketika forum rembug bukanlah masalah yang sebabnya kurang sepakat sepakat terhadap sistem. Sepakat sih sepakat untuk ber-KM ITB tapi saya yakin bukan hanya masalah itu muncul sebabnya kurang sepakat terhadap sistem. Saya pikir sebabnya bukan hanya pada sepakat atau tidak sepakatnya terhadap sistem. Ada sebab yang lain. Sebab yang bukan karena adanya keinginan untuk restarting system kemahasiswaan (analog dengan tanggapan dari warga yang B), atau sebab adanya keinginan dari satu atau beberapa lembaga untuk megarahkan sistem kemahasiswaan seperti begini, begitu, atau apapun (analog dengan tanggapan dari warga yang A). Saya pikir bukan seperti itu. Ada sebab lain. Ada sebab yang dianggap oleh kemahasiswaan terpusat, lembaga dipertanyakan komitmennya untuk ber-KM ITB (analog dengan ada sebab lain yang dianggap oleh kelurahan, warganya dipertanyakan untuk mendukung dan menyukseskan program penyuluhan pentingnya WAJAR 12 Tahun).

Dalam hal ini pak Lurah (kelurahan) adalah cermin dari kemahasiswaan terpusat, dan para warga (kepala keluarga) adalah cermin dari lembaga. Ada beberapa sebab lain yang perlu diurai di sini. Sebab ini analog dengan sebab “mengapa warga tidak datang penyuluhan, sehingga dianggap tidak mendukung program kelurahan?” Kembali dalam hal ini komitmen ber-KM ITB analog dengan menyukseskan program-program kelurahan. Sedangkan adanya penyuluhan wajib belajar 12 tahun analog dengan kegiatan-kegiatan atau apapun medianya dari kemahasiswaan terpusat, yang pada intinya jika bersepakat ber-KM ITB maka harus mengirimkan sumber daya, entah itu untuk langkah eksekusi program (kabinet) atau legislasi aturan dan landasan (kongres).

Mari kita urai sebab permasalahan tersebut memakai 7 sebab warga tidak datang penyuluhan di atas.

1.       Sosialisasi kurang gencar sehingga banyak warga yang tidak hadir.

Maksudnya: selama ini kemahasiswaan terpusat kurang gencar dalam menyosialkan even-even kemahasiswaan, sehingga lembaga-lembaga ada yang tidak mengetahui hal tersebut

2.       Banyak warga juga yang belum memiliki anak sehingga mereka berpikir buat apa datang toh belum memiliki anak

Maksudnya: selama ini kemahasiswaan terlalu menuntut untuk mengirimkan sumber daya (terutama sumber daya manusia), padahal tidak semua lembaga memiliki SDM yang berlimpah. Inilah kesulitan lembaga yang minim SDM, di internalnya sendiri mereka kurang maksimal menjalankan proker karena minimnya SDM, di sisi eksternal dianggap tidak berkomitmen untuk ber-KM ITB karena tidak mengirimkan SDM

3.       Akses perjalanan mereka untuk mengikuti penyuluhan sangatlah sulit, mereka harus melewati rawa-rawa yang rawan binatang buas, atau karena hujan.

Maksudnya: (mungkin) ada lembaga yang memang bersepakat ber-KM ITB, namun mereka kesulitan untuk menunjukkan komitmen itu. Di sini mungkin kemahasiswaan perlu memfasilitasi agar komitmen mereka ini lebih mudah untuk diperlihatkan

4.       Warga belum memahami arti pentingnya menghadiri penyuluhan tersebut

Maksudnya: selama ini (mungkin) ada lembaga yang kurang menyadari pentingnya beraktivitas dalam KM ITB, sehingga pemahaman mereka mengenai KM ITB itu sendiri sangat kurang. Sekali lagi, perlunya kemahasiswaan terpusat secara kontinu dan berkelanjutan memahamkan KM ITB ke semua lembaga.

5.       Warga merasa penyuluhan tersebut hanya berguna bagi segelintir orang saja.

Maksudnya: selama ini (mungkin banyak) kegiatan-kegiatan di KM ITB hanya mencerminkan identitas lembaga tertentu, sehingga ada anggapan KM ITB hanya milik pihak-pihak tertentu saja. Di sini mungkin kemahasiswaan terpusat harus kreatif menggali semua kekhasan tiap-tiap lembaga. Sebab ini juga dapat mematikan identitas lembaga tertentu dari sisi eksternal, sehingga bisa saja lembaga tersebut kurang dikenal, ada banyak sebab mungkin, tapi rasanya memang lebih baik agar (kegiatan-kegiatan ber-) KM ITB ini tidak hanya dimiliki atau diidentikkan dengan pihak atau lembaga tertentu saja.

6.       Warga merasa pak Lurah kurang memperhatikan warganya, sehingga mereka lebih “tertarik” untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, ketimbang menghadiri penyuluhan tersebut.

Maksudnya: sebab ini mungkin yang paling kelihatan di antara lembaga-lembaga. Selama ini kemahasiswaan terpusat atau bahkan antar lembaga kurang memahami masalah lembaga lainnya. Sehingga kecenderungan yang ada adalah ada lembaga yang beranggapan,”masalah internal saja belum beres, ngapain beraktivitas di kemahasiswaan terpusat?. Yang diperlukan di sini adalah tiap elemen KM ITB (kabinet, kongres, himpunan, unit, tim beasiswa, MWA WM beserta tim) harus memahami masalah serta situasi kondisi antar lembaga, serta bersama-sama mencari solusinya.

Pemilu Raya KM ITB 2009 sudah di depan mata. Walaupun dengan banyak rintangan dan respons dari massa kampus yang beragam, saya pikir Pemira KM ITB harus tetap fokus (namun dengan tidak mengabaikan aspirasi massa kampus). Saat ini (mungkin) ada 3 pasang calon Presiden KM ITB dan calon Anggota MWA Wakil Mahasiswa. Benny-Uchup (yang katanya sudah ditetapkan calon), Yunus Ridwan (dua orang ini pernah menjadi promotor Uchup-Benny), dan Ilham-Annas (ini pasangan baru). Semoga aja pemenang pemilu KM ITB sekarang ini mampu mengatasi persoalan dan masalah yang saya ungkapkan di atas.

Barangkali itulah yang ada di benak saya selama ini sejak saya pernah menjadi Senator, bahkan sampai selesainya forum rembug kemarin tidak ada satupun yang membahas kegelisahan saya ini. Atau mungkin juga kegelisahan beberapa lembaga terhadap masalah yang ada di mereka. Overall, forum rembug telah memberikan paradigma yang semestinya harus dipahami oleh semua elemen KM ITB dalam mewujudkan komitmen ber-KM ITB. Contoh paling jelas: forum rembug menjelaskan mana kabinet (atau kemahasiswaan terpusat) mana KM. Selama ini masih banyak pihak keliru menganggap kabinet sebagai KM.

Written by Deri

Maret 1, 2009 at 12:45 pm

Ditulis dalam Heart Express

-The Hud Hud as Sufi-

with one comment

The Birds, who  represent  humanity

are invited by the Hud Hud, the Sufi,

to  take  on  a  journey  to seek their

legendary King, Simurgh, who lives in

the  mountains   of   Kaf.  The  birds,

after the  initial excitement begin to

give  excuses  not  to  partake  on the

journey. To each  of their complaints,

the Hud Hud would reply with a story

to emphasize the uselessness of being

satisfied with what they have  versus

what  they  should  have.  Finally  the

Hud Hud mentions  that their journey

would entail travessing seven valleys.

These are the -

Valley of Quest, where the pilgrim

must renounce desires;

Valley of Love, where the Seeker is

completely consumed by a thirst

for the beloved;

Valley of Intuitive Knowledge, where

the heart receives directly the

illumination of Truth;

Valley of Detachment, where the

Traveller becomes completely

detached from desires and

dependence;

Valley of Unification, where the

Seeker understands that what seemed

to him to be different things and

ideas are in fact, only one;

Valley of Astonishment, where the

Traveller experiences both

astonishment and love;

Valley of Death, where the Seeker

understands the mystery, the

paradox, of how an individual “drop

can be merged with the ocean, and

yet remain meaningful”.

Sungguh aku ingin mewarisi semangat burung hud-hud. Burung kecil yang terbangnya rendah namun ia mampu melintas gurun, menahan angin kencang, menebas rintang, hingga ia mampu menempuh perjalanan yang demikian jauh, dari Yaman menuju negeri Putri Saba di Palestina.



Written by Deri

Februari 24, 2009 at 10:12 am

Ditulis dalam Heart Express

Mocca: Friends Lyrics–>

with 2 comments

Sebenarnya baru pertama kali ini posting lirik lagu di blog.

Mocca adalah salah satu grup band favorit saya. Musiknya asyik. Mewah dan lirik-liriknya sarat makna. Salah satu album paling favorit adalah yang berjudul Friends. Ada yang mau nyariin mp3-nya??? Kasetnya sih punya,,, tapi pengenlah transfer ke mp3 player.

Lagu yang paling disukai dan menggambarkan saya banget adalah track no.1, no.2, no.3, no.4, no.5, no.7, no.9, no.11

cariin lagu-lagunya dong!!!!!

1st : On the night like this

On the night like this
There’re so many things I want to tell you
On the night like this
There’re so many things I want to show you

Cause when you’re around
I feel safe and warm
When you’re around
I can fall in love every day

In the case like this
There are thousand good reasons
I want you to stay..

2nd : I think I’m in love

If you got an eerie feeling after hanging up the phone
Sort of happy feeling but you’re not sure what it’s called

If you’re haunted by his face whenever you’re asleep at night
And think you hear his silly voice just calling out your name

Reff:
Oh ,no! I think I’m in love with you..
Oh, no! I’m hoping you’ll want me too
So, please..don’t let me down!

Just can’t help but talk about him in every conversation
Till your friends are sick and tired of that same old crap

If you start wearing make up even when you go to bed
Crying like a baby when you hear a mellow song

Reff:..

3rd : My only one

We had a fight last night
And I called him: “mad!”
Makes me feel so sad
And I’m so ashamed

He’s my only one
I give him all my love
Even though my mom says: “No!”
I just go on and on..

No one’s gonna take him away from me..

Everyday and every night
I just wanna hold him tight and make sure that everything stays right
And everyday and every night
To dream of him is my delight and know that
He’ll stay with me all the way

4th : Friend

* If anyone can fill my world with joy and happiness
And cast away all of my loneliness
Always there beside me when I am down
And never left my face with a frown

Reff:
It’s you! Yes, it is you my friend who can make it all come true
It’s you! Yes, it is true a friend in need is a friend indeed

If anyone can fill my world with joy and happiness
And cast away all of my loneliness
Always there beside me when I am down
And never left my face with a frown

Reff:
It’s you! Yes, it is you my friend who can make it all come true
It’s you! Yes, it is true a friend in need is a friend indeed

When you’re around I wrap my self in a pearly smile
When you’re around you light the bulb inside my head
When you’re around I wrap my self in a pearly smile
When you’re around I dance and sway and kiss the ground
(*, reff)

When you’re around I wrap my self in a pearly smile
When you’re around you light the bulb inside my head
When you’re around I wrap my self in a pearly smile
When you’re around I laugh and sing out strong and loud

5th :Lucky Man

Some people say you’re a lucky man
To win the first prize lottery
Some people say you’re a lucky man
To have a high-flying bright career

But I know they’re wrong
And I’m sure they’re wrong

Some people say you’re a lucky man
To have a lot of friends out there
Some people say you’re a lucky man
To have doors open everywhere

But I know they’re wrong
You’re a very lucky man
To know such a girl like her

6th: I Would never..

Sentimental feeling in my heart
Growing bigger stronger everyday
Every single day and every night
All of them mean more than words can say

Believe me, as I believe in you..

I would never run away from you
I would never ever lie to you
I would never run away from you
I would never ever let you down

7th: You and me against the world

Baby, hold my hand
Count to ten
Break the chain
I’m gonna take you inside my space

Baby, don’t be afraid
Maybe it’s our fate
Just wait and see
I’m goin’ to shout about it
* It is you and me against the world
Don’t waste our time for tomorrow
With you by my side
I can do anything
You and me against the world
Goodbye to all of our sorrow

So let’s just put them aside
Put all the worries behind us (2x)

Repeat from *

8th: Buddy Zeus

I try to find that old blue leash
Here you are…but please don’t bark!
Running, playing in the park
Tryin’ to find your favorite spot

Go fetch that stick my furry friend
Or catch that Frisbee in the wind
I bounce the ball..You start to roll
But then you suddenly stop..

Reff:
Oh..God!you poo..But what can I do?
I hope no one sees that thing you do..
Oh..please don’t pee..You embarrass me..
I hope no one sees that thing you do..

My dear Buddy, it’s time for bath!
Don’t you dare to run away!
The suds are up, come on get up!
I’ve got a date please hurry up!

Here he comes the guy next door
And he’s the one that I adore
And then he smiles..I start to blush
But then you suddenly stop!

Reff:…

9rd : This Conversation

Hey, Boy! Did you know?
I lie awake in my dreamy bed
Thinking of you and those crazy times we’ve had

Sometimes I wonder..
Whether you’re a Jekyll or you’re a Hyde?
Sometimes you are wise and tell no lies

Reff: Oh I can’t tell..
‘cause you make me feel so loved and confused
This conversation may never happen

Hey, Girl! Did you know?
I miss you so though it may not show
Thinking of you and those crazy times we’ve had

My dear I have news to tell you
Your silly jokes did brighten me
You cheered me up when I was down..

Reff (2x) May never happen (3x)

10th : How wonderful life would be

Oh, dear! How wonderful life would be..
With you still in my heart
Oh, dear! How wonderful life would be..
With you still in my dreams

Only stars in the sky
Who will understand my tears?
Let the time pass me by
I am lonely as can be
Lonely raven in the sky
Who will understand my fears?
It is just you and I..
My aching despair..

11th: Swing it Bob

* Hello Dear! What can I do for you?
Will you go and swing along tonight?
Just take a step and they’ll do the rest
Just let it flow…and you will glow
Just like the moonbeam up in the sky tonight

Never mind…troubles that may have come
Just go along with the tunes the band are playing
But let’s go and dance!
Do tango or a mambo jumbo I don’t care!

To *

Do the cha-cha-cha..
Do the Tango..
Do the Samba..
Or Perhaps play something sweet..slow..and nice like…a waltz?

Na’ah! I prefer to go swinging…!

Repeat *

12th: It’s over now

I know that you’re very nice
Never ever tell me lies
You’re always there to comfort me
And cheer me up when I am down

* However that is it
You’ve got you’re world and I’ve got mine
And after all that we’ve been through I must say

Reff :
Sorry honey, my heart is not for you..
Sorry baby this love is not for you
Sorry honey, my heart is not for you..
Sorry baby this love is not for you
It’s over now..

To *, Reff

Written by Deri

Februari 17, 2009 at 7:26 am

Ditulis dalam Heart Express

Shalatku, Shalatmu, Shalat Kita, dan Shalat Mereka

with one comment

Masihkah kita merasa biasa-biasa saja ketika kita meninggalkan shalat? Padahal sabda Rasul SAW menyatakan bahwa shalat adalah amal yang akan diperiksa pertama kali ketika kelak di akhirat (H.R. Tirmidzi). Shalat ibarat gerbang awal terhadap pemeriksaan amal selajutnya. Lalu apakah dengan itu kita masih merasa biasa-biasa saja?

Secara pribadi, mungkin kita pernah meninggalakan shalat akibat kita kecapean atau terlupa. Bagaimanakah perasaan yang timbul? Apakah biasa-biasa saja? Kalau begitu mungkin shalat kita belum menjadi sebuah pemenuhan kebutuhan spiritual. Akan sama halnya dengan orang yang bahkan selama hidupnya jarang sekali menjalankan shalat (kalau tidak pada hari Jumat), terus kemudian perasaannya biasa-biasa saja, tentu tidak ada rasa menyesal ataupun niat untuk tidak meninggalkan shalat lagi.

Kawan, niatkan shalat sebagai amal dasar di dunia ini untuk kita mendapatkan pahala. Sehingga ketika kita diri ini lalai meninggalkan shalat dalam kondisi kecapean ataupun terlupa (mudah-mudahan kita dijauhkan dari kasus semacam ini), ada perasaan menyesal dan memohon ampun kepada Alloh SWT.

Sering saya pribadi merasa bertanya-tanya apakah orang yang diamanahi memegang kebijakan publik apakah sering melalaikan shalatnya? Dengan aktivitas demikian sibuknya melayani rakyat, membuat peraturan, menentukan kebijakan, apakah masih ada di dalam pikiran mereka terbersit untuk rehat sejenak beristirahat kemudian menunaikan shalat. Tentu mungkin dalam perjalanannya shalat mereka ada saja yang tidak khusyuk, karena harus dituntut aktivitas selanjutnya. Namun alhamdulillah dengan aktivitas yang insya Allah berpahala besar jika dijalankan dengan ikhlas, adil, dan kompeten, para pemegang kebijakan publik atau abdi negara itu masih tetap menjalankan shalatnya.

Jangan seperti artis kebanyakan kini. Saya pribadi yakin walaupun mereka muslim, banyak sekali yang jarang shalat atau bahkan tidak pernah shalat. Model artis begini apabila kita tanya mengapa tidak menjalankan rukun islam yang kedua ini secara konsisten, ada tiga tipe:

  1. Tipe Pertama: ah, saya masih belum siap untuk shalat, hati saya masih belum bersih, aktivitas saya masih banyak, mungkin nanti seandainya hidayah dari Yang Di Atas turun kepada saya.

Tanggapan: artis seperti ini perlu lebih banyak diarahkan. Shalat itu merupakan aspek dasar amal kita, dan proses menjalankannya tidak perlu menunggu hati bersih atau turunnya hidayah.

  1. Tipe Kedua: yang penting hati saya bersih tidak kotor, dan banyak beramal untuk orang miskin. Buat apa shalat kalau misalnya hatinya masih busuk?

Tanggapan: jawaban seperti ini selain yang terlontar dari artis juga mungkin terlontar dari orang kaya yang baik, atau orang desa yang pendidikan agamanya kurang, tapi sok-nya luar biasa. Orang seperti ini juga harus mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai hakikat shalat.

  1. Tipe Ketiga: buat apa shalat? Toh, tanpa shalat aku tetap menjadi kaya.

Tanggapan: orang seperti ini perlu dikembalikan ke jalan yang benar

Ya begitulah, sekedar ingin berbagi keresahan hati ini dengan kawan-kawan sekalian. Bolehkah aku bertanya? Bagaimana dengan shalatmu, kawan?

Written by Deri

Januari 29, 2009 at 2:27 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

Remaja Peduli

with 3 comments

Ini adalah pengalaman yang kurang mengenakan mungkin bagiku. Sekaligus menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam. Ceritanya gini, hari itu kira-kira pukul setengah enaman-lah. Aku berniat makan di warung Ayam Cola Gelap Nyawang. Sendiri, tapi memang karena ingin sendiri, rasanya perut ini tak bisa kompromi kalau diajak makan selepas maghrib nanti. Tanpa pikir panjang aku keluar kamar 405 turun sebanyak empat anak tangga menuju ke bawah (oiya kebetulan kejadian ini aku alami saat aku masih berada di Asrama Salman). Tanpa berlama-lama aku menuju langsung menuju warung Ayam Cola itu, mengingat memang warung itulah yang saat aku tiba masih kosong. Ku pesan langsung menu yang ada. Berpikir sejenak, langsung kupilih menu yang ingin ku makan. Ku minta cepat dibuatkan kepada bapak-bapak sang penjual. Huh, lapar dan cape sekali rasanya. Sesaat aku duduk menghadap jalan Gelap Nyawang. Agak kaget, terlihat di depanku ada sepasang anak SMA cewek-cowok duduk berhadapan dan agak sedikit merapat. Aku sih mencoba berpikiran positif gak berburuk sangka. Mungkin kedua anak itu sedang mendiskusikan pelajaran sekolah atau hanya sekedar bercerita. Lagian aku juga tak terlalu memperhatikan, karena memang aku sudah sangat kelaparan, dan makan siang (yang dimakan di waktu sore) telah tersaji di hadapanku. Akhirnya dengan agak apatis aku hanya mengarahkan pandanganku pada nasi dan Ayam Cola yang terhidang di atas mejaku. Mengingat perut tak bisa lagi dibuat bertahan, akhirnya ku serang juga itu Ayam Cola dengan buasnya.

Tapi lama kelamaan pemandangan yang kulihat di depanku itu malah membuat makanku menjadi tak berselera. Bagaimana tidak, kedua cewek cowok itu malah semakin merapat, yang cowok malah merangkul pinggang si cewek, walaupun si cewek agak menolak-nolak manja (huuueeekkk!). Aku tak mau menjelaskan lebih detail, yang jelas pemandangan seronok (jijik) itu. Ditambah lagi gerak muka si cowok yang nyosor ke si cewek, sungguh membuatku untuk cepat-cepat menyelesaikan makananku ini.

Tak berapa lama, aku menyelesaikan makanku. Langsung kubayar dan aku bergegas cepat meninggalkan Gelap Nyawang. Muak rasanya aku melihat itu. Aku mungkin salah, karena telah membiarkan kemaksiatan terjadi di depanku, tapi ah sudahlah, aku keburu ilfil ketika melihat pemandangan itu.

Aku jadi kepikir, kok bisanya kebanyakan remaja sekarang aktivitasnya seperti itu. Tak jauh dari budaya hedonis, matrealis, dan dangkal dalam berpikir mereka. Aku juga menyayangkan aktivitas mereka. Malah bergerombol tidak jelas ketimbang berdiskusi tentang pelajaran atau isu-isu aktual, malah ikut geng motor ketimbang aktif di kegiatan ekskul. Apakah kebanyakan remaja sekarang ini seperti itu? Saya jadi kaget, dulu ketika masih SMA atau SMP dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya biar bisa mendapat nilai sembilan untuk matpel matematika, fisika, kimia dan biologi kemudian mendapat ranking lima besar, atau bagaimana menjadi juara di ajang-ajang seperti cerdas cermat atau lomba karya tulis. Itulah yang saya pikirkan dulu, aktivitas saya dulu. Khawatir juga melihat aktivitas remaja sekarang ini. Walau sebenarnya saya tak menyangkal masih banyak remaja yang aktivitasnya malah mendatangkan manfaat, baik bagi diri mereka sendiri ataupun bagi lingkungan sekitar. Dan saya pikir aktivitas seperti ini pastilah banyak di sekitar mereka.

Saya kemudian jadi teringat nasyid yang berjudul remaja peduli, dari sapa gitu ya lupa, kalau tidak salah Edcoustic

Remaja peduli pintar dan mandiri

Giat berprestasi

Kupersembahkan untuk illahi…

Bersatu berjihad dalam dakwah islam

Di atas panji Al Quran dan As Sunah

Dari penggalan lirik lagu di atas sebenarnya jelas bahwa remaja seperti itu lebih punya nilai. Remaja yang selalu mengajak kepada kebaikan dan menarik simpul-simpul kemandirian dalam setiap aktivitasnya. Prestasi ia jadikan sebagai cermin diri untuk ajakan kepada kebaikan. Itulah cermin remaja yang diidamkan masa kini, remaja yang aktivitasnya selalu mendatangkan manfaat.

Written by Deri

Januari 29, 2009 at 2:21 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan