Archive for Januari 15th, 2008
THE QUIRE FROM UNDERPRESSURE
Apa yang membuat orang berpikir? Mampukah setiap apa yang dikehendaki itu mudah terterima di dalam pikiran orang lain? Kalau aku tak bisa menanamkan pengaruhku pada orang lain maka dengan pertanyaanlah aku mampu menelisik lorong hati mereka. Aku hanya hendak mengutarakan apa yang menurutku baik, apa yang menurutku berbeda, dan apa yang menurutku memiliki semangat zaman. Sayang memang begitu sulit untuk mendapatkan keberterimaan dalam hati mereka. Tidakkah manusia berpikir bahwa kekalahan yang paling parah itu adalah mengikuti apa yang dikatakan yang menang. Selama ini aku hanya ingin membuat sesuatu yang berbeda, sesuatu yang memiliki semangat baru, sesuatu yang membuat kita berpikir akan arti sebuah kesia-siaan, dan aku yakin walaupun kesia-siaan itu adalah sesuatu yang melenakan, aku takkan membiarkan itu terus tumbuh subur dalam kedangkalan berpikir manusia zaman ini. Tidak bosankah kita dengan alur zaman yang seperti itu saja? Mengapa kita cenderung terlalu mendramatisasi keadaan. Aku tak mengerti. Namun sebuah konklusi yang terbersit dalam naluriku bahwa zaman ini akan sulit berubah, zaman ini akan lama sekali merindukan sebuah peradaban yang membuat dunia sedikit melebarkan senyumnya. Aku baru menyadari bahwa kekuatan enjoy with this situation telah menenggelamkan kita jauh dari sebuah mahakarya sebagai manusia. Sebuah mahakarya kemanusiaan yang akan menyokong peradaban dunia sesaat lagi. Namun kebanyakan manusia malah tidur dalam kenyamanan berpikir mereka ketika kereta peradaban tlah menghampiri mereka saat subuh hari. Dan dapat diterka paginya mereka terperanjat dan tlah tertinggal oleh kaum-kaum yang terlebih dulu mengukir sejarah, tlah lebih dulu mengisi bahan bakar kereta peradaban. Sesaat kemudian aku yakin mereka akan berada di ujung zaman untuk menunggu kereta selanjutnya. Sesaat aku berpikir mengapa ketika ada suara sumbang malah diikuti gema yang tinggi hingga aku terkejut. Padahal itu adalah sebuah gema yang hanya mendorong kata yang sia-sia. Sering kemudian seruan mulia hanya dibiarkan berlalu saja, hening dalam keramaian semangat, tanpa sedikitpun dibisikkan dalam hati masing-masing. Lalu akan tercatatlah dalam sejarah bahwa zaman dulu ketika manusia termakan oleh yang namanya globalisasi, alam raya menangis dalam keheningan yang membuat dunia diam.

