Tersebutlah di sebuah zaman yang tidak terbatas pada dimensi ruang dan waktu, ada sebuah percakapan antara Saksi Sejarah dan Pelaku Sejarah.
“Kurasa zaman pasti lebih menghargai Saksi Sejarah ketimbang Pelaku Sejarah,” Kata Saksi Sejarah.
“Mengapa kau menganggap seperti itu?” tanya Pelaku Sejarah.
“Sebab aku tahu bahwa Saksi Sejarah-lah yang akan banyak dijadikan rujukan oleh generasi zaman berikutnya”
“Anggapanmu tak berdasar, kau hanya melihat dari sisi itu saja. Aku rasa zaman akan lebih menghargai para Pelaku Sejarah karena mereka diciptakan agar sejarah tidak punah”
“bukankah justeru saksi sejarah yang bisa menjaga sejarah agar tidak punah!”
“sekali lagi kau keliru memandang ini. Aku yakin pelaku sejarah-lah yang paling dihargai, karena mereka telah melakukan perubahan revolusioner dan jelas mereka akan terukir indah di cetak sejarah”
“bukankah mereka itu yang telah merusak sejarah? Bukankah mereka itu yang telah membuat sejarah berubah? Kau lihat saksi sejarah sepertiku telah merangkai beribu memori yang teknologi teleportasi-pun tak akan mampu menandingi.”
“dari tadi aku selalu sangsi akan kekuatan opinimu. Aku melihat sejarah tidaklah statis seperti yang kau kira. Aku yakin generasi-generasi pelaku sejarah telah menorehkan karya nyata yang telah membuat zaman tersenyum memandang itu.”
“aku justeru malah bingung dengan analisismu. Aku merasa pelaku sejarah malah banyak yang merusak karya-karya generasi sebelumnya. Yang ternyata karya itu merupakan karya monumental sepanjang sejarah peradaban. Itu yang membuat saksi sejarah menjadi sulit untuk mendiferensiasi kisah zaman pada generasi berikutnya. Masihkah kau menyangkal itu?”
“engkau terlalu men-generalisasi. Dari mana saksi sejarah bisa menyimpulkan momen sejarah tanpa pelaku sejarah mewujudkan sebuah karya.”
“Justeru di situ aku merasa bingung!”
“di mana? Pernyataan mana yang membuatmu bingung?”
“aku merasa pelaku sejarah tak menghargai karya yang telah diukir oleh generasi sebelum mereka. Mereka malah mengubahnya. Mereka malah menggantikan itu. Tidakkah itu telah membuatku beranggapan bahwa pelaku sejarah itu egois?”
“aku tak sependapat!”
“terserah!”
“bukankah saksi sejarah banyak berutang budi pada pelaku sejarah?”
“mengapa?”
“bagaimana mungkin saksi sejarah bisa menyimpan sejarah zaman monumental, tanpa pelaku sejarah yang mewujudkannya?”
“dari pernyataanmu kumaknai kau terlalu egois!”
(SUASANA MENJADI HENING, PERCAKAPAN TERHENTI, DAN ZAMAN KEMBALI PADA BIASANYA)
“baiklah, mari kita perjelas pembicaraan kita kali ini. Konkretkan makna pelaku sejarah dan saksi sejarah” Ujar Pelaku Sejarah
“OK”
“lalu apa yang menjadi dasar angapanmu sebenarnya?”
“kau tahu siapa itu pengajar? Pendidik? Atau bisa kita anggap itu guru. Guru dalam arti apapun. Bukankah ia disebut guru karena ia telah begitu luar biasa menyimpan memori sejarah zaman yang bahkan siapapun sulit melakukannya.”
“ah, kuanggap itu terlalu kecil. Kau tahu bahwa tokoh yang zaman mencatatnya adalah tokoh yang luar biasa. Kau tahu siapa yang menghantarkan kita ke zaman teknologi canggih saat ini? Kau tahu siapa yang membebaskan kita dari belenggu penjajahan? Kau tahu siapa sebenarnya pencetus revolusi di berbagai negara? Kau tahu siapa yang mengemukakan teori atau hukum yang banyak termaktub di ranah ilmu pengetahuan?”
“justeru itu kuanggap tidak konkret! Jelasnya kau tidak cukup menggambarkan siapa itu pelaku sejarah menurutmu.”
“kurasa zaman telah mencatat tokoh-tokoh semacam itu.”
“baiklah, aku akui itu. Namun kurasa dialog kita ini terlalu menekankan hal yang tidak esensial. Aku memaknainya sebagai penguatan egositas kita.”
“aku juga merasakan hal yang sama. Aku pikir pelaku sejarah dan saksi sejarah itu sama pentingnya di setiap zaman.
“ya, aku sependapat”
“sayangnya, generasi zaman kini tak mengenal itu”
“bukan hanya tidak mengenal! Tapi sudah pada taraf tidak menghargai!”
“entahlah,”
Zaman kembali mengalun membawa kabar pada generasi seterusnya……