MOMEN YANG TERLUPAKAN
Sebenarnya tiap orang pasti mengingat akan momen ini, tapi mungkin juga ada beberapa orang yang karena sesuatu hal dapat melupakan hal ini, entah itu karena kesibukan ataupun memang hilang ingatan. Ini terjadi pada diriku. Kesibukan telah membuatku melupakan satu hal yang demikian bermakna dalam hidup ini (alah! Maenannya “hidup” lagi!)
Berikut adalah rentetan kejadian yang mendeskripsikan bagaimana aku melupakan momen penting itu. Mungkin bakalan kayak diari, tapi kurasa ini hanya sekedar perenungan saja, bahwa aku telah melewatkan momen penting itu. Suatu saat nanti apabila momen itu hadir kembali, tak akan ku biarkan apapun untuk dapat mengganggunya.
Kamis, 15 Mei 2008 pukul 10.30 di ruangan 1401 prodi Meteorologi ITB.
Akhirnya kuliah terakhir hidro kulalui dengan biasa saja, namun ada yang aneh kulihat bu dosen sepertinya bermuka pucat. Ah, mungkin itu karena beliau habis recovery dari sakit (cieee… pake bahasa rikoferi segala). Beliau dengan agak pelan bersuara menyampaikan materi kuliah dengan sangat membosankan menurutku. Tapi aku cukup memaklumi. Beliau kemudian memberikan semacam pokok materi kuliah yang mungkin akan keluar nanti pas UAS (dalam sejarahnya, para siswa atau mahasiswa lebih menyebut ini dengan “kisi-kisi”). Seperti biasa, walaupun aku agak kurang fokus perhatian, tapi kalau sudah bicara kisi-kisi,aku semangat, eh, bukan semangat ding, tapi emang perlu. Soalnya di tengah bahan kuliah yang demikian banyak, rasanya emang penting kalau ada kisi-kisi. (huh dasar mental lemah!)
Kuliah berakhir,kemudian si ibu berpesan bahwa di pertemuan terakhir itu beliau meminta maaf atas segala kesalahan dan kurang maksimalnya dalam mengajar. Aku pikir wajarlah ia mengatakan seperti itu di samping memang tiap dosen harus seperti itu di akhir kuliah juga karena beliau jarang hadir, ya karena sakit beliau itu.
Masih di hari yang sama pukul 11.00 di bangku bersejarah HMGM ITB
“Bhe, gimana mo bikin slide presentasi Metsat kapan?”ujarku pada teman yang panggilan namanya es-bhe (keren, kan?)
“udah malem aja, ntar gua ke kosan si egan, maneh oge ke sono, yak?”
“ah, palingan bisa cuman jam sembilan bhe, sebelumnya masih da yang harus diurus dulu,”
“ya udah nyusul gak papa”
“eh, sekarang daripada gak ada kerjaan mendingan cari bahan!”
“tentang apaan?”
“apapunlah, yang penting tentang teknologi satelit, o ya jangan lupa pula cantumin contoh citranya, yak?”
”trus engkau mo ke mana?”
Ia bertanya pas melihatku meninggalkannya (alah bahasa naon deuih ieu!!!)
”mo kuliah filsafat ilmu heula euy!!”
”cieee…” nyengirnya
Tak lama aku meninggalkannya untuk makan. Sekalian pulang dulu ke asrama untuk mengembalikan semangat kuliah yang telah lama menurun (alah emang biasanya kagak pernah semangat kuliah). Yah,,walopun sering kurang semangat dengerin materi kuliah tapi yang penting presensi pul (tapi kagak titip absen kok). Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan tugas melelahkan itu. Ya tugas Meteorologi Satelit, udah dua modul aku dan temen-temen sekelas dibikin begadang semalaman. Dan esoknya bisa ditebak presentasi dengan mata merah dan terus menguap.
Masih di hari yang sama pukul 13.00 di ruangan TVST C ITB
Aku masuk kelas untuk mengikuti kuliah filsafat ilmu. Dosennya pa Asep Zaenal Ausop, salah satu dosen sostek favoritku. Udah sekitar tiga puluhan orang yang masuk kelas, namun pak Asep blon juga menampakkan kehadirannya. Semua orang di kelas itu mulai ribut. Aku cukup maklum juga soalnya masih ada sekitar tiga kelompok lagi yang harus presentasi hari itu. Sedangkan hari itu adalah hari terakhir kuliah.
Masih terus menunggu, namun yang namanya pak asep juga belon dateng juga. Tiba-tiba (eh gak tiba-tiba juga ding!) aku menguap. Huaaaaaahhhhh! Ngantuks berat, soale tadi malem ngerjain tugas yang bejibun banyaknya. Heran saya semester ini cuman tiga mata kuliah yang ngadain praktikum, tapi malah jadi lima mata kuliah yang praktikum. Aneh! Beban dua sks serasa empat sks. Itu lebih mending coba yang bebannya empat sks serasa berapa sks coba?! Ah, tapi sudahlah tak ada gunanya meratapi kuliah ini (weleh-weleh sok bijak), yang penting aku harus mencapai hasil terbaik di semester ini. Semester yang menurutku adalah semester yang paling sibuk.
Sepuluh menit berselang dari aku menguap, Pak asep lon dateng juga, padahal ini udah lebih dari 30 menit beliau terlambat. Tapi selama selang sepuluh menit itu mataku merem melek karena ngantux.
Tidak berapa lama Pak Asep dateng juga. Peserta kuliah menjadi tenang. Beliau langsung menyebarkan kertas presensi. Setelah itu beliau menyampaikan kisi-kisi ujian akhir. Dan tak berapa lama presentasi kelompokpun dimulai. Aku tak memperhatikan karena ngantuks (alah alesan!). kepala ini keknya seperti ayam matuk-matuk ke bawah (Persis banget, yak?). kemudian kertas presensi itu sampai juga di bangkuku. Kulihat sejenak, kemudian aku membubuhkan paraf di kertas itu. Kulihat temen2 yang presentasi juga masih asyik menyampaikan presentasi tersebut. Aku merasa percuma mengikuti kuliah dengan keadaan tubuhku seperti ini. Gak akan fokus. Dengan berat hati (dengan senang hati kali yak?) aku meninggalkan kelas dan tanpa pamit (walah parah kabur!).
Masih di hari yang sama pukul 13.50 di depan sekre HMGM ITB
Aku ke himpunan. Cuman di sana gak ada orang sama sekali. Pintu udah dikunci. Tapi tasku ada di dalem. Gimana dong? Tiba-tiba pak kahim datang. Kupinta ia membukakan pintu untukku (sok romantik bahasanya!). kemudian aku mengambil tasku.
“pucet banget muka lu, der?!”
Pak kahim bertanya pada diriku. Oh, betapa perhatiannya (huuueeekkkss!!)
“iya nih, ngantux berat”
“trus lu mau balik?”
“ya gitu deh”
Kemudian aku meninggalkannya sendiri. Gak juga sih, banyak orang yang berkeliaran di situ sebenarnya. Orang yang lalu lalang.
Selang tak berapa lama aku sampai di asrama. Kemudian tidur. Plekkkkk
Masih di hari yang sama pukul 15.30 di Masjid Salman ITB
Setelah selesai shalat Ashar, aku diem di koridor selatan masjid. Diem merenung, merenung dan kemudian tertidur dengan suksesnya (wakakakakakakkk).
Setelah sekian menit aku tertidur, tiba-tiba aku terbangun. Ponsel di sakuku bergetar. Ada SMS dari seseorang.
Der, sabtu ini pulang, gak? Ketemuan yuk? Da banyak yang pengen diobrolin. Eh BTW dah penelitian, lon? KP maksudnya.
Itu SMS dari seorang teman SMA. Ia kini kuliah di UNDIP.
Kemudian aku balas SMS darinya,
Udah mo uas di sini mah. Jadi keknya gak bisa. KP masih bingung, kalo gak di Chevron, Starenergy, atau BPPT. KP-nya bulan Juli kyknya. Skr msh diurs.
Selang berapa lama ia membalas SMS dariku.
Oh, dah masuk UAS toh, kalo aku msh lama. O ya aku KP mngkn bln Januari. Eh, katanya si WS dah mo lulus ya? Berarti ia pling cpt dong di angkatan qt? Kudoakan smga sukses UASnya.
Aku tersenyum. Ah perhatian sekali temanku ini. Beda dengan daku yang gak pedulian. Maaf teman aku tak dapat memenuhi keinginanmu kali ini. Namun mungkin lain kali aku dapat memenuhinya.
Kurasa tidurku di koridor ini tak lagi nyenyak. Udah banyak orang yang duduk di koridor ini. Kagak enak juga kalo melentangkan badan di sini di tengah banyak orang. Ku akhirnya kembali ke asrama. Tidur lagi gak ya? Hmmmm….kasih tau gak gak ya? (lho, apa-apapun ini?). sampai di kamar tercinta aku teringat malam ini ada agenda Rapim lembaga di Basement CC. Yah…gimana bisa tidur nyenyak kalo banyak aktivitas gini.
Masih di hari yang sama pukul 19.45 di Basement CC barat ITB
Rapim lembaga yang diselenggarakan oleh kabinet di CC ini sebenarnya gak wajib ku hadiri. Tapi karena kewajiban kultural seorang senator, eh aku senator lho (kagak penting), senator dua tahun gitu lhoks. Ah aku jadi teringat dengan banyaknya mantan senator yang meledekku karena aku masih menjabat sebagai senator. Ah, tapi itu kagak penting!
Akhirnya aku ikuti rapim itu. Banyak juga orang yang hadir. Iya gitu para ketua lembaga banyak yang hadir. Ada banyak yang bakal dibahas di rapim ini. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya rapim dimulai juga.
Rapim mulai panas. Ada beberapa agenda tapi yang paling panas adalah mengenai sikap KM ITB terhadap isu kenaikan harga BBM (yang kini tak lagi sebagai isu ternyata). Sementara isu pornografi, baksil, dan kawasan siliwangi yang mau dijadiin mall sepi dari tanggapan.
Seperti biasa makin malam makin panas. Topik yang dibahas mulai klimaks (kayak bahasa apa aja klimaks segala!). Berbagai pihak perwakilan dari beberapa lembaga mahasiswa ingin berpendapat, karena apa yang dilakukan oleh kabinet cukup membuat kontroversi.
Akhirnya aku lari dari forum itu, karena teman kelompok menyuruhku untuk segera mengerjakan tugas Metsat yang belum dikerjakan sama sekali (akh…parah betul,,,masa harus menungguku?).
Masih di hari yang sama pukul 21.13 di Kost-an temen
Bukannya datang langsung mengerjakan tugas, kami malah nonton kejuaraan thomas dan uber dulu. Meskipun tugas ini harus dikumpulkan n harus dipresentasikan besok namun kami malah nyantei-nyantei aja. Nasi goreng Solo n Pisang panggang kacang coklat Dwi Lingga menemani kami malam itu. Barulah setelah acara bulutangkis itu selesai, kami mulai mengerjakan tugas yang mahadahsyat itu. Untungnya ada laptop n komputer, kalo nggak mungkin kerjaan ini gak akan selesai dalam satu malam. Kerja sangkuriang dimulai. Aku dan tiga temanku membagi tugas, ada yang kebagian translate, digitasi n analisis, bikin makalah n presentasinya, sedang aku sendiri kebagian tugas yang cukup berat sepertinya, yaitu mengolah dan interpretasi data. Sambil menikmati manisnya pisang bakar coklat yang gurih itu, aku mengerjakan tugas bagianku sambil terkantuk-kantuk. Akhirnya semua tertidur dengan suksesnya sekitaran pukul 03.00.
Jumat, 16 Mei 2008 masih di kost-an temen
Aku terbangun sekitaran pukul 04.45, kulihat semua temanku udah bergelimpangan tak sadarkan diri (tragis kaleee!!). aku lihat perkerjaanku, untungnya tinggal sedikit lagi. Ku mencoba mengecek pekerjaan temen2, gila masih banyak yang blon selesai. Makalah n slide presentasinya blon. Akhhh…cemana pula niy awak tengok, tak betul kalee kerjaan mereka (alah sok2an pake bahasa madura, eh batak kalee jauh amat yak!). Ku bangunkan mereka, kemudian kami shalat subuh. Selesai menunaikan itu (menunaikan apa? Kagak jelas niy), akhirnya kami secara maraton menyelesaikan tugas tersebut. Dan akhirnya selesai tepat pukul enam lebih sikit (lebih sedikit maksutte). Apa yang terjadi setelah itu? Kamipun tertidur lagi (ah,,,parah betul pemuda zaman sekarang!). Rasanya berat untuk membuka mata karena begitu kantuk menyerang, apalah daya yang bisa ditahan.
Beberapa saat kemudian aku terbangun. Kulihat jam yang ada di dinding. Busyet! Udah pukul 08.00. Gile setengah sembilan, kan presentasinya dimulai. Tanpa ba-bi-bu lagi aku,,,
”Oi!! Bangun oi!! Udah jam delapan nih!!!”
Ku teriaki temanku yang tidur. Tiba-tiba ada yang terbangun
”Waduh!!! Wah luw bangunin jam segini??”
Si es-bhe terbangun n terkejut sama sepertiku.
”Bangunin yang laen, bhe, urang cabut duluan, jangan lupa file makalah n presentasinya disatuin biar rapi. Yu, ah”
”ho-oh” tukasnya
Tak berapa lama aku meninggalkan mereka dengan sebagian masih ada yang tak sadarkan diri (kasian kalee-pun!). Sepanjang perjalanan dari Ciungwanara ke Asrama Salman aku berlari kencang, agak terengah-engah juga, akhirnya pas deket gelap nyawang aku berjalan.
Ku melihat jam di HP
Ow,,,ada sms, dari sapa yak?? Ah tapi ntar aja dibukanya tanggung nih bentar lagi jam setengah sembilan.
Waktu itu tinggal dua puluh menit lagi menuju waktu yang dimaksud.
Sampai asrama, tak sempet mandi cuman gosok igig n cuci akum (apa nih bahasanya gak ngerti?). Setelah itu aku cabut dari asrama menuju ruang 9231. di tengah perjalanan aku teringat aku gak bawa HP, aduh padahal tadinya aku ingin ng-sms mereka untuk cepet2 datang ke kelas, mereka kan besar kemungkinan terlambatnya (wah parah ngelabelin tmen kek gitu) akhhh kenapa harus di lantai paling tinggi pula? Udah ngantuk, capek lagi, keringatan dah badanku ini.
Masih di hari yang sama, ruang kelas 9231
Sampai di kelas, si bapak udah ada. Malu rasanya padahal minggu lalu udah diingatkan jangan terlambat (jadilah mahasiswa yang rajin, nak). Tapi untungnya aku presentasi terakhir, jadinya agak nyantei. Tak berapa lama presentasi dimulai. Kelompok pertama presentasi. Aku dan teman-teman di kelompokku dah berkumpul untuk menyempurnakan makalah, walaupun sebenarnya mereka kena semprot juga karena terlambat.
Satu kelompok, dua, tiga, empat, lima (belajar berhitung, mas?), sampai akhirnya tiba juga pada kelompok terakhir yaitu kelompokku. Kami terkejut karena presentasi yang kami sampaikan sangat berbeda dengan apa yang kelompok lain presentasikan (nah, lho). Mereka presentasi mengenai penjelasan beberapa satelit, sedangkan kelompokku malah membahas mengenai teknologi yang ada dalam satelit. Ah, masa bodo (ih, kok kek gitu?) yang penting tentang teknologi satelit. Akhirnya presentasi kami lewati dengan sukses karena gak banyak orang yang bertanya. Si bapak pun heran dengan apa yang kami presentasikan, karena mungkin ia baru pernah melihat materi yang kami presentasikan, hehehe.
Akhirnya semua kelompok selesai presentasi. Akan tetapi dengan menyesal semua kelompok diminta untuk menyempurnakan materi makalah dan materi presentasinya. Semuanya, ya semua kelompok. Mungkin si bapak tahu karena kami membuat materi itu dalam satu malam, gimana nggak coba dengan tugas yang menumpuk menjelang UAS, mana mungkin bisa mengerjakan dengan sempurna.
Masih di hari yang sama di asrama kira-kira pukul 11.20
Kuliah berakhir, dan kurasakan mata ini sangat berat bagiku. Ngatuks bos. Tapi bentar lagi jumatan. Dengan cepat kilat aku sampai di asrama, karena waktu jumatan semakin mepet, tambah lagi aku belon mandi. Sampai di asrama lempar tas ke kasur (wah, kebiasaan kagak baik tuh!). ambil peralatan tempur buat mandi, dan langsung meluncur ke kamar mandi, moga aja kantuk bisa menghilang.
Selesai mandi, biasa kukenakan pakaian yang biasa kukenakan ketika jumatan. Setelah beres berpakaian, aku ambil quran, kemudian melesat ke masjid. Sebelum ke masjid aku melihat HP, ow ternyata ini hp-ku, ah entar aja liat semeses-nya (wah parah gimana kalo ada yang minta balez segera?). kemudian tanpa begitu lama aku udah ada di masjid lagi
Masih di hari yang sama kira-kira pukul 11.50 di masjid salman
Kuakhirnya melalui jumatan ini dengan sukses, walau rada terkantuk-katuk. Sang khatib menyampaikan khutbah mengenai kelapangan menghadapi permasalahan. Aku pikir udah biasa, walaupun belum pernah juga dipraktekin (wah makin parah aja ni orang).
Masih di hari yang sama kira-kira pukul 12.50 di asrama
Jumatan telah berakhir, aku dengan cepat menuju kamar. Rasanya kantuk ini tak bisa di tahan lagi. Dengan tanpa nasi basi (apa? basa basi kaliiii ah!), aku akhirnya tertidur mulas (weleh2 mentang mentang ngatux, pulas bukan mulas).
Baru sekitar sejam mungkin tertidur, tiba-tiba HP-ku bergetar (seumur hidupku aku gak pernah mengaktifkan bunyi HP). Dari sapa, ya kok gak ada namanya, oww, private number tho, dengan agak terkantuk-kantuk aku menekan tombol bergambar telepon berwarna ijo.
”assalamualaikum..”aku menyapa.
”alaikum salam” jawab penelepon.
Sejenak aku menguap.
”aa, punten, mamah baru inget hari ini aa kan ulang tahun ya?” ibuku ternyata yang menelepon
Sling…….emang sekarang tanggal berapa? Oiya miladku hari ini. Akh kok jadi lupa gini??? Mungkin karena kecapean jadi lupa gini. Mendengar pernyataan dari mamahku aku terkesiap.
”o, enya, lupa mah!” jawabku
”eh, kenapa begitu?” ibu bertanya
”gara-gara kecapean kayaknya, mah. Nih aja baru bangun tidur (bukan baru bangun tidur, tapi dibangunin)”
”kenapa atuh, aa harus jaga kondisi, jaga kesehatan, sekarang kan bentar lagi kemarau, hati-hati”
Ibu mengingatkan terhadap kondisi kesehatanku. Ibuku memang selalu begitu. Tiap kali beliau menelepon yang pertama kali ditanyakannya pasti adalah mengenai kesehatan bukan kuliahnya gimana, atau asrama gimana, atau kurang duit, dsb. Aku memang memiliki riwayat fisik yang buruk, baru aja sembuh dari infeksi paru-paru sekitar dua tahun lalu, eh, kini tanda-tanda penyakit itu kambuh mulai terasa lagi, ini gara-gara sering keluar malam (kongres mulu sih!). tersiksa rasanya. Tiap kali dada terasa diiris-iris sembilu (alah berlebay), aku cuman bisa diam menahan sakit. Tapi sudahlah….
”iya-iya, mah, sehat, kok. Cuman tugas kuliah nih banyak banget, udah biasa kalo deket UAS pasti kayak gini.” aku mencoba membuat beliau agar tak khawatir.
”ya, udah kalau gitu jaga kesehatan…..bla…bla….”
Ibu menasehatiku. Aku cuman bisa diam dan bilang ya beberapa kali. Setelah itu dia berbicara mengenai kondisi rumah, raut mukaku berubah. Aku jadi serius, cuman ya….cuman bisa bilang ya beberapa kali n dengerin dengan baik, ada harapan-harapan yang mereka sematkan padaku. Hanya diam dan bilang ya beberapa kali yang sering aku lakukan kalo ibu meneleponku. Memang situasinya kayak gitu.
”ya sudah, kalo gitu aa mau apa?”
”biasanya juga gak gitu, mah” aku jawab.
Aku merasa aneh, biasanya juga ibuku cuman memberikan ucapan selamat. Tapi kok ini ia minta apa keinginanku.
”ya biasa we mah, mamah sehat, ida, iyung (ida, iyung panggilan adik2ku) oge”
”bukan, aa ingin apa?”
Aku tak mau berpanjang kata lagi. Aku mengerti maksudnya.
”ya, udah, duit bulan ini tolong beliin celana panjang aja, mah sama sepatu”
Aku teringat celana panjangku kini sudah mulai mengecil (atau aku yang membesar?). sepatu yang kumiliki cuman satu. Aku memang terkadang tak menggunakan duit kiriman ibu. Kadang juga gak diambil.
”ya, udah….bla…bla…”
Ia kembali berpesan. Aku cuman diam dan beberapa kali bilang ya.
Selang beberapa lama akhirnya kami mengakhiri percakapan. Aku kemudian menghela nafas, hari ini miladku ya? Aku cuman bisa termenung. Teringat setahun yang lalu ketika aku begitu teringat hari itu. Banyak orang juga yang mengucapkan selamat milad, walaupun gak ngasih apa-apa
.
Kemudian aku melihat HP-ku, oiya tadi ada sms, kubuka inbox, ternyata ada 3 sms, dari temanku sejurusan, namanya iyus, sedang dua lagi temanku dari unpad n upi.
Isinya mengucapkan selamat ulang tahun, n doa-doa yang mereka sampaikan untukku. Aku berpikir kok cuman dikit ya yang ngucapin, padahal dulu bisa sampai sepuluh sms. Dan ada orang yang aku tunggu sms-nya tentang miladku, namun tak kunjung juga mengirim sms. Ia temanku dari IPB, padahal setahun yang lalu ia orang pertama yang mengucapkan selamat milad untukku, pukul 00.00 ia mengirimkan ucapan selamat itu padaku tepat setahun yang lalu.
Sebenarnya ada sedikit kekecewaan tapi sudahlah, toh tak ada gunanya. Yang aku bisa lakukan hanya melamun, sambil mencoba mengembalikan kondisi badan dari tidur tadi.
Wah, harus dirayain nih, gak bisa kayak gini, ntar malem harus ada pesta kecil bagiku. ya untukku, rasanya mie goreng, pisang n roti panggang Dwilingga cukup kayaknya. Malam…tunggu aku..
Terakhir aku merenung, bagiku momen ulang tahun ini adalah momen penting. Bukan pada aspek perayaannya, itu tidaklah esensial bagiku. Aku merasa prosesi yang penting dalam miladku adalah refleksi, aku bisa berkontemplasi begitu lama. Tentang apa saja, aku hidupku, kuliahku, masa depanku, keluargaku, aktivitasku, de el el. Pokoknya tentang apapun, aku akan dengan puas berkontemplasi, menulis, dan bersendiri menikmati kesenyapan.
Masih di hari yang sama pukul 20.30 di kamar 405 asrama salman
Seperti biasa pada jam segini asrama sepi. Aku sendiri di kamar. Sambil menikmati mie goreng, pisang dan roti panggang aku mencoba berkontemplasi. Kebiasaan yang sering aku lakukan. Hari ini aku banyak mendapatkan pelajaran. Ya di hari ulang tahunku. Hari yang terkadang jarang sekali aku interest menunggunya, namun apabila aku jumpai, ku buat seindah mungkin hari itu.
Aku rasa miladku yang ke-21 ini adalah milad yang tersembunyi banyak orang lupa mungkin, termasuk diriku sendiri.


deri………………
met milad
better late than never, kan?
(PS: makanya, lain kali bagi2 kue biar miladnya ketauan
)
rifqie
Agustus 13, 2008 at 7:19 am
der nyungkeun pisang na, can penah ngasaan -_-
Fajar Fauzi Hakim
Agustus 15, 2008 at 9:14 pm
milad aq juga,,
^^
halah gk penting komennya,,
amiramdhani
Oktober 5, 2008 at 1:54 pm