Life Observer

world in my arms

Archive for September 2008

:: AKU DAN KALIAN YANG KINI MENJADI MAHASISWA ::

with 2 comments

Bayangkan, setiap semester mahasiswa menerima subsidi pendidikan dari Negara (dalam bentuk fasilitas, gaji dosen, beasiswa, dll.) tak kurang dari 20 juta rupiah, selama hampir lima tahun. Tapi apa yang didapat Negara dari subsidi itu, kecuali beban pengangguran yang semakin bertambah?

Kita telah salah menerapkan strategi kebudayaan. Dari kebudayaan lisan, mestinya kita merangkak dan berusaha sekeras mungkin untuk menuju kebudayaan aksara/tulisan. Akan tetapi, kita telah dengan gagah berani melompat menuju kebudayaan audio-visual yang miskin analisis. Bangsa ini, lewat audio-visual, telah dididik menjadi bangsa pemakan yang rakus, yang selalu menerima paksaan informasi berupa psikologi gambar dan suara, yang dijejalkan setiap hari, setiap menit, setiap detik, sehingga melumpuhkan kreativitas. Keberaksaraan mempersyaratkan dialog, analisis yang tajam, mengasah daya kritis serta kesabaran untuk meneliti dan menemukan. Tapi audio-visual membunuh kekuatan itu, dan meninabobokan korban-korbannya hingga pada taraf lumpuh, tak sanggup berpikir besar, menerima dengan pasrah kondisi yang mereka alami dengan apa adanya, termasuk menjadi penganggur. Banyak mahasiswa, yang ketika lulus menjadi tak begitu cerdas melihat kehidupan, karena tidak terbiasa untuk berpikir secara sistematis dan keras. Lebih-lebih kemampuan untuk bersaing. Begitulah nasib mahasiswa Indonesia saat ini.

Taken from XXXXXX

Kawan, apakah engkau tidak pernah merasa, bahwa subsidi pendidikan yang oleh Negara berikan padamu untuk kelancaran kuliahmu adalah sebuah amanah? Amanah dari rakyat, amanah dari keringat serta penderitaan mereka, karena subsidi itu berasal dari pajak. Pajak yang dibayarkan dari pedagang, dari tukang becak yang membeli kopi misalnya, dari buruh yang membeli rokok, dari pengemis, dari penjudi, dari pemabuk. Mereka semua menyimpan harapan bahwa kelak, engkau akan membangun bangsa ini menjadi lebih baik, karena mereka percaya bahwa engkau adalah kaum intelektual yang terdidik. Lalu bagaimana engkau bisa menghamburkan waktumu dengan sibuk berjam-jam setiap hari memencet-mencet HP, ber-SMS ria, berhalo-halo menghamburkan uang bersama pacar-pacarmu, merusak-rusak komputermu dengan CD bajakan, begadang berhura-hura di café-café, pulang larut malam untuk kemudian siangnya engkau mengantuk dan tidur saat kuliah? Apakah engkau tahu, bahwa mengkhianati amanah jutaan rakyat adalah sebuah dosa, yang kelak akan engkau pertanggungjawabkan dengan berat di hadapan Tuhanmu?

Written by Deri

September 22, 2008 at 3:01 am

Ditulis dalam Heart Express

(Mantan) Aktivis jadi Caleg

with 4 comments

Sebentar lagi pemilu 2009 akan segera dimulai. Menarik rasanya apabila kita mengamati beberapa fenomena sebelum itu. Ada konflik intern partai, ada anggota dewan yang sibuk daftar jadi caleg lagi, ada kampanye (ini masih dah biasa), dan berbagai fenomena lainnya yang semakin membuat kita menyadari bahwa ternyata pemilihan umum 2009 memang sebentar lagi, tak heran tampaknya tiap partai semakin bekerja keras untuk mempropagandakan agenda politiknya.

Akan tetapi kalau kita mengamati ada hal menarik yang terjadi di sini. Salah satu fenomena ini terkait dengan kaum intelektual yang ternyata dipertanyakan idealismenya dalam perjuangan dulu. Jika kita menyaksikan tayangan Debat yang disiarkan pada hari Rabu tanggal 03 September 2008 pada pukul 08.00 akan terlihatlah fenomena itu. Sebuah fenomena yang luput dari pandangan kita sebagai orang yang mengaku kaum intelektual yang selalu memegang kebenaran ilmiah. Tema yang diangkat adalah judul yang saya tulis di atas. Awalnya saya vonis tema itu kurang menarik, karena tidak sesuai dengan isu yang lagi hangat sekarang ini, misalnya tentang gas, tentang UU yang banyak menuai kontroversi atau apapunlah isu yang lagi hangat sekarang ini. Tapi ternyata saya keliru, perdebatan yang diangkat justru sangat menarik apalagi menghadirkan dua mantan aktivis, yang satu masih bangga melabeli dirinya dengan aktivis yang memegang teguh idealisme dan pantang masuk ke dalam parlementer dan bersikukuh berjuang melalui jalan ekstra parlemen, sementara yang satu lagi merupakan mantan aktivis yang ternyata sudah meninggalkan romantisme perjuangannya di masa mahasiswa dan kini ia menjadi calon legislatif dari salah satu partai. Perdebatan yang sungguh menarik saya kira.

Pada sesi satu tokoh yang dihadirkan adalah mantan aktivis reformasi Pius L. dan Hendrik Sirait. Dua orang mantan aktivis yang sama sama terlibat pada tahun 1998 bahkan mereka dalam satu form gerakan dalam wujud Aldera (aliansi penderitaan rakyat) di Sumatra. Dua sahabat ini dipertemukan dalam nuansa diri yang berbeda. Satunya calon legislatif, dan satunya lagi adalah seorang pengusaha.

Perdebatanpun dimulai dengan tanggapan yang dilontarkan oleh Hendrik atas jalan yang dipilih oleh rekannya. Dipandu Alfito Deannova, Hendrik dikenalkan kembali dengan Pius. “Anda kenal dengan orang yang berada di depan anda?”tanya itu mungkin yang dilontarkan Alfito kepada Hendrik. Tapi yang membuat saya merasa cukup tersentil ketika Hendrik memberikan tanggapan mengenai penampilan luar Pius yang layaknya seorang wakil rakyat. Dia mengaku kecewa atas pilihan yang diambil oleh rekan seperjuangannya dulu di samping juga dua mempertanyakan komitmen dari idealismenya dulu. Pernyataan ini kemudian ditanggapi oleh Pius dengan agak meremehkan temannya. Ia menyatakan bahwa pergerakan mahasiswa yang ia sandang dulu kini telah usai, ia mencoba meninggalkan semua romantisme gerakan yang ia bangun bersama kawannya itu. Kemudian sekarang ia memilih meneruskan perjuangan idealisme melalui jalan parlemen. Namun kemudian perdebatan beralih pada latar belakang partai yang mengusung Pius menjadi calon wakil rakyat di NTT. Partai Gerindra, yang partai yang di belakangnya ada Prabowo Subianto, mantan petinggi TNI pada tragedi Mei 1998 yang dianggap tak bertanggung jawab terhadap anak buahnya yang banyak melakukan penculikan terhadap aktivis mahasiswa kala itu. Termasuk Pius dan Hendrik juga. Akan tetapi rasanya tidak etis menceritakan perdebatan mengenai Prabowo dan partai yang mengusungnya menjadi capres. Tapi tentu yang menarik adalah menyaksikan perdebatan mengenai pilihan. Dalam perdebatan mengenai pilihan itu terlihat jelas sekali jalan lain dalam memperjuangkan idealisme mereka. Pius mengatakan bahwa idealisme yang disandangnya terbuka dan berani mengambil jalan perjuangan yang berbeda dengan yang lain. Namun justeru Hendrik menyerang pernyataan Pius yang menganggap bahwa idealisme itu fleksibel dan Hendrik dengan tegas tak bersepakat dengan itu.

Perdebatan yang sehat dan cukup mencerahkan bagi saya, serta cukup memberikan kearifan pandangan mengenai sebuah pilihan besar. Antara kedua orang itu saya pikir sangat luar biasa dalam mengemukakan gagasan dan konter argumen terhadap lawan bicaranya. Saya jadi teringat dengan keinginan seorang teman mantan anggota Kongres KM ITB yang berkeinginan jadi anggota dewan setelah melihat kelakuan anggota Dewan sekarang yang apabila kita saksikan semakin membuat “takjup”.

Sesi selanjutnya menghadirkan seorang aktivis yang sangat “garang” di tahun 1998, Dita Indah Sari, mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD)—yang kini partainya sudah almarhum—yang dulu diketuai Budiman Sudjatmiko (Kader PDIP yang kinipun menjadi Caleg). Dita Indah Sari diusung oleh Partai Bintang Reformasi (PBR). Yang kedua adalah Giat Wahyudi seorang yang kini jadi jurnalis. Perdebatan keduanya malah lebih luar bias a, ilmiah Dan tak ada kontak perasaan antara keduanya, karena memang mereka tidak saling kenal awalnya. Poin yang ditegaskan oleh Dita pada argumennya adalah mengenai pergerakan mahasiswa dalam kancah politik. Menurut dia mahasiswa enggan untuk menyelesaikan reformasi secara tuntas. Mahasiswa terlalu ingin berjuang di ekstraparlemen, namun tidak ada yang mau masuk dalam kancah parlemen. Itulah yang dianggapnya reformasi kurang berjalan sempurna, banyak pihak yang enggan mengambil tampuk kekuasaan yang kosong, akibat dari itu kekuasaan itu malah diisi kembali oleh orang-orang lama pada masa orde baru. Sebuah argumen yang menarik saya kira. Artinya di sini Dita mencoba mengajak pergerakan mahasiswa tidak hanya bergerak pada pola penegakan nilai atau moral akan tetapi juga harus terjun dalam pemahaman politik ekspansial. Dia menggambarkan kondisi di mana pergerakan mahasiswa juga dulu terjun ke kancah politik seperti pergerakan mahasiswa pada tahun 1945 dan 1966 yang setelah mereka membuat satu gerakan yang menorehkan sejarah penting di negeri ini, selanjutnya mereka terjun ke dunia politik. Ada yang menjadi menteri, asisten pribadi, dan lainnya.

Kemudian apa yang disampaikan Giat Wahyudi juga tak kalah cerdasnya. Dia berpikir bahwa rakyatlah yang akan menilai komitmen dari mereka, dari para mantan aktivis yang kini jadi caleg. Akan tetapi tentu rakyat tak akan peduli dengan label mantan aktivis bila menjadi anggota dewan nantinya, walaupun sebenarnya aktivis sangat dekat dengan masyarakat kalau kita lihat pada masa sebelum reformasi. Kemudian ia menambahkan bahwa berjuang di ekstra maupun intraparlemen adalah sebuah pilihan yang tidak boleh dipertentangan satu sama lain, hal inilah yang menurutnya sangat erkaitan sekali dengan kadar idealisme si mantan aktivis itu sendiri. Saya melihat apa yang disampaikan oleh Giat wahyudi ini cukup masuk akal, logis, dan bernas, akan tetapi argumennya sering netral atau bahkan defensif dibanding dengan argumen yang dilontarkan oleh Dita Indah Sari. Namun argumen dari Giat ini seolah memberikan perspektif pada kita mahasiswa untuk lebih kritis denga segala fenomena yang kini melanda para mantan aktivis mahasiswa.

Perdebatan yang cerdas. Salut untuk tvOne yang telah begitu berani menampilkan tayangan semacam ini, selain sebagai sarana pendidikan politik, juga sebagai fasa pengenalan terhadap pemain-pemain yang nantinya bakal bertarung di Pemilu 2009.

Akan tetapi bila kita melihat atau mencermati dan turut juga menganalisis pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh keempat mantan aktivis itu, ada beberapa aspek sederhana yang memang mutlak diperhatikan, tapi ini adalah sebuah pilihan jadi saya kira aspek sederhana inipun tak akan mempengaruhi apabila tak diperhatikan. Seorang anggota DPR RI dari Partai Golkar Yuddy Chrisnandi (anggota dewan satu-satunya dari fraksi partai Golkar yang awalnya menyetujui hak angket BBM) menyatakan bahwa untuk menjadi abdi negara tak perlu lewat politik (dalam konteks ini partai). Saya merasa bahwa pernyataannya cukup memberikan kelogisan yang positif. Dan mungkin inilah beberapa cermin dari anggota dewan yang luput dari pandangan kita.

Namun ada hal yang luput diangkat oleh tvOne. Jika kita lebih jeli lagi melihat peta gerakan mahasiswa dulu dan sekarang jelas ada perbedaan yang demikian besar, tapi perbedaan ini sangt tersembunyi dan hanya terkait dengan pribadi mereka masing-masing. Aktivis mahasiswa zaman dulu atau katakanlah sebelum reformasi walaupun setelah tak jadi mahasiswa mereka terjun juga ke wadah politi (partai), namun selama jadi mahasiswa mereka sama sekali tidak terlibat dengan yang namanya partai politik. Tapi coba kita lihat dan lebih jeli lagi mengamati keadaan aktivis mahasiswa sekarang dalam melakukan pergerakan. Sangat sering dikaitkan dengan kepentingan partai politik, maka muncullah istilah yang namanya ”ditunggangi”. Tentu kalau sudah begini ada perbedaan mahasiswa zaman dulu “ditunggangi” rakyat tapi mahasiswa kini lebih sering disinggung “ditunggangi” partai politik, itulah anekdot yang sering muncul. Maka tak heran bertebaranlah kader partai politik dalam kampus, walaupun sebenarnya kegiatan-kegiatan mereka dan label kader yang disandang mereka sangat rapi tertutup, istilahnya “bergerak di bawah tanah” yang mereka lakukan bila itu adalah kegiatan partai atau labelisasi kader partai pada mereka. Maka tidaklah heran sebenarnya kini ada kader partai anu yang malah menjadi presiden mahasiswa, kader partai anu yang menjabat sebagai menteri di pemerintahan mahasiswa atau mungkin kader partai anu yang menjadi anggota senat mahasiswa, dan seterusnya. Mereka (mahasiswa kini yang menjadi kader partai) sering memegang posisi-posisi strategis dalam student government. Kalau sudah begini bisa saja bukan mantan aktivis yang bisa menjadi caleg, tapi juga aktivis mahasiswa yang bisa jadi caleg.

Written by Deri

September 12, 2008 at 3:51 am

Ditulis dalam Heart Express

Nasihat dari “tetangga sebelah”.

with 2 comments

Suatu malam, di saat hening merajai pesona, di saat tenang mengulum gundah, di saat riak tak mampu menjadi ramai. Saya mendapati nasihat dari “tetangga sebelah”, lebih tepatnya mungkin pesan, kesan atau mungkin kritik. Seperti yang diinginkan sebelumnya, bahwa kami ingin bertukar nasihat. Nasihat seperti apa? Semoga saja nasihat ini akan menjadi tawashshaubil haq wa tawashshaubish shabr.

bagi saya, rasanya sangat menggelitik, bila saya menginginkan sebenarnya siapa yang mengirimkan nasihat itu pada saya. Mari kita analisis. Akan tetapi saya ingin bercerita dulu mengenai analisis ini. Analisis yang ternyata pernah mencapai sebuah kesimpulan tepat ketika pada saat Salman Camp, Kang Jul (Imam Besar Masjid Salman ITB), berencana memberikan sebuah benda perkenalan pada saya, akan tetapi saya telah menyadari hal itu lebih dulu. Kemudian saya menghindar dari metode uji kadar tafahum (naonnya tafahum the, sederhananyamah mengenal we lah) yang bagi saya saat itu agak garing (maaf ya buat sang pembikin metodenya). Di samping juga ternyata memang saya saat itu terburu-buru ingin ke WC. Hehehe..analisis yang gambling sebenarnya, tapi ternyata analisis itu benar.

Ok, mari kita kembali membahas nasihat dari “tetangga sebelah” tersebut. Tepatnya pada tanggal 07 Agustus saya menerima nasihat tersebut. Dalam sebuah folder yang diberi nama “Deri”, setelah diketahui ternyata berisi 3 file berextensi txt. Ketiga file itu diberi nama der, deri dan deri meidian. Mari kita bahas satu persatu nasihat tersebut, nasihat pertama dari file yang diberi nama deri, isinya sangat garing, terlalu general, sama ketika kita memberikan kesan pada seseorang dengan kata-kata “dia itu baik”. Sama halnya dengan si pemberi nasihat ini memberikan aspek kekurangan Dan saran bagi saya, terlalu umum, abstrak dan samar. Sama halnya ketika memberikan saran pada orang lain dengan kata-kata “ya, jangan terlalu pendiam”. Sekali lagi, basi! Lalu siapa yang membuat nasihat itu untuk saya. Tapi sebelumnya saya merasa kecewa dan tak akan terlalu menganggap nasihat model gini. Terlalu bias a, itulah yang menyebabkan saya sulit untuk menganalisis sebenarnya siapa yang memberikan nasihat ini untuk saya. Kalau memakai teori kemungkinan yang saya sering lakukan ada mungkin satu kejelasan. Misalnya nasihat seperti ini (nasihat yang terlalu umum, abstrak, n samar) juga diterima oleh temen2 asrama putra yang lain, maka saya mengasumsikan bahwa yang membuat nasihat ini untuk saya adalah orang yang punya pengalaman lebih lama menjadi “tetangga sebelah” kami, dan tentu ia lebih lama tinggalnya menjadi tetangga sebelah kami. Usianya pasti lebih tua dari saya sehingga memberikan nasihat atau semacam kesan yang justru malah mubazir, karena kurang memberikan aspek penilaian Dan saran yang spesifik.

File kedua yang diberi nama deri meidian, isinya agak sedikit sama dengan nasihat yang diberi nama deri. Tapi yang ini agak lain. Ada beberapa aspek spesifik yang diungkapkan disitu. Satu yang membuat saya menghargai orang yang memberikan nasihat ini dia mengungkapkan aspek kebiasaan (tentang pikiran) lain dari saya yang tak banyak diketahui orang (mungkin ia dapatkan dari analisis dia sendiri ataupun ia tahu dari apa yang saya perbuat, atau juga denger dari orang lain), namun yang jelas cukup respeklah saya dengan orang yang memberikan nasihat atau kesan terhadap saya seperti ini bentuknya. Satu mengenai nasihat itu. Kemudian selebihnya orang ini memberikan saran yang sebenarnya kurang lebih sama dengan orang yang menuliskan nasihatnya untuk saya dalam file yang bernama deri.txt, akan tetapi ia ungkapkan itu dengan cara lain, saya rasa cara menyampaikannya cukup kocak, itu yang saya maksud berbeda pengungkapannya dengan yang satunya. Terus kemudian satu lagi, ia memberikan nasihat dalam bentuk bahasa inggris, hal yang membuat saya langsung menelisik,”saya tahu sepertinya orang ini!”. Mengapa? Karena saya familiar dengan kata-kata bahasa inggrisnya. Sepertinya saya sering membaca kata-kata semacam ini di mana gitu yah??? Akhirnya saya menyadari bahwa saya pernah membacanya di blog seseorang. Terus kemudian akhirnya mengerucutlah orang yang memberikan testi itu untuk saya. Blog yang tulisannya banyak yang menuliskan note-note dalam bahasa inggris Dan dengan kata-kata seperti ini adalah……(tentu saya tahu orangnya, hehehe).

File ketiga adalah file yang bernama der.txt. Isi nasihatnya: aspek pertama adalah membahas hobi saya (gak hobi juga siy sebenernya, kalau kata kang ikhwan mah merupakan sebuah kebutuhan aktivitas semacam itu). Yah…lumayan respek-lah saya dengan kesan yang diberikan semacam ini untuk saya. Terus kemudian yang cukup mencengangkan saya ada yang serius Dan ada yang kocak. Yang serius dulu, dia membahas ekspresi muka saya ketika berpapasan dengan orang yang saya kenal. Hehehe,,,,itu mah bukan rahasia lagi. Dan dapat dipastikan bahwa saran yang ia berikan cukup dapat saya terima, OK-lah. Terus kemudian saya menarik kesimpulan orang ini berarti sering berpapasan dengan saya (berarti ia telah menjadi korban dari ekspresi wajah saya, hehehe). Kemudian hal yang kocaknya ia menyuruh saya untuk bertingkah seperti anak kecil yang rame, yang hiperaktif, Dan segala macamnya. Hah? Dasar ia malah memberikan saran yang pengungkapannya atau metodenya membuat saya nyering, n “nyerengeh” (orang yang memberikan nasihat der.txt pasti familiar dengan kata “nyerengeh”). Dengan nasihat semacam itu, kesimpulan saya tertuju pada seseorang yang saya pikir ia agak “gila”, “agak dc (diskonek)” J, Dan pasti ia sering berpapasan atau setidaknya sering melihat saya kurang begitu membuat kesan positif dalam pandangannya. Dan setelah saya konfirmasi ke orangnya, ternyata ia mengaku memberikan nasihat itu, sama juga dengan nasihat deri meidian.txt, Dan orang ini malah terkejut kok malah tahu saya menebak orang yang memberikan nasihat yang isinya menyuruh saya berperilaku seperti anak kecil agar aspek negatif diri saya dapat dihilangkan. Ah..!!aya aya wae!

But, anyway semua nasihat itu secara keseluruhan saya terima dan kini tetap saya simpan. Ini adalah sebuah memori berharga untuk dikenang, tidak hanya untuk diresapi. Thanks to all. I will always remember all valuable moments when we together.

Written by Deri

September 12, 2008 at 3:08 am

Ditulis dalam Heart Express