:: AKU DAN KALIAN YANG KINI MENJADI MAHASISWA ::
Bayangkan, setiap semester mahasiswa menerima subsidi pendidikan dari Negara (dalam bentuk fasilitas, gaji dosen, beasiswa, dll.) tak kurang dari 20 juta rupiah, selama hampir lima tahun. Tapi apa yang didapat Negara dari subsidi itu, kecuali beban pengangguran yang semakin bertambah?
Kita telah salah menerapkan strategi kebudayaan. Dari kebudayaan lisan, mestinya kita merangkak dan berusaha sekeras mungkin untuk menuju kebudayaan aksara/tulisan. Akan tetapi, kita telah dengan gagah berani melompat menuju kebudayaan audio-visual yang miskin analisis. Bangsa ini, lewat audio-visual, telah dididik menjadi bangsa pemakan yang rakus, yang selalu menerima paksaan informasi berupa psikologi gambar dan suara, yang dijejalkan setiap hari, setiap menit, setiap detik, sehingga melumpuhkan kreativitas. Keberaksaraan mempersyaratkan dialog, analisis yang tajam, mengasah daya kritis serta kesabaran untuk meneliti dan menemukan. Tapi audio-visual membunuh kekuatan itu, dan meninabobokan korban-korbannya hingga pada taraf lumpuh, tak sanggup berpikir besar, menerima dengan pasrah kondisi yang mereka alami dengan apa adanya, termasuk menjadi penganggur. Banyak mahasiswa, yang ketika lulus menjadi tak begitu cerdas melihat kehidupan, karena tidak terbiasa untuk berpikir secara sistematis dan keras. Lebih-lebih kemampuan untuk bersaing. Begitulah nasib mahasiswa Indonesia saat ini.
Taken from XXXXXX
Kawan, apakah engkau tidak pernah merasa, bahwa subsidi pendidikan yang oleh Negara berikan padamu untuk kelancaran kuliahmu adalah sebuah amanah? Amanah dari rakyat, amanah dari keringat serta penderitaan mereka, karena subsidi itu berasal dari pajak. Pajak yang dibayarkan dari pedagang, dari tukang becak yang membeli kopi misalnya, dari buruh yang membeli rokok, dari pengemis, dari penjudi, dari pemabuk. Mereka semua menyimpan harapan bahwa kelak, engkau akan membangun bangsa ini menjadi lebih baik, karena mereka percaya bahwa engkau adalah kaum intelektual yang terdidik. Lalu bagaimana engkau bisa menghamburkan waktumu dengan sibuk berjam-jam setiap hari memencet-mencet HP, ber-SMS ria, berhalo-halo menghamburkan uang bersama pacar-pacarmu, merusak-rusak komputermu dengan CD bajakan, begadang berhura-hura di café-café, pulang larut malam untuk kemudian siangnya engkau mengantuk dan tidur saat kuliah? Apakah engkau tahu, bahwa mengkhianati amanah jutaan rakyat adalah sebuah dosa, yang kelak akan engkau pertanggungjawabkan dengan berat di hadapan Tuhanmu?


Lalu bagaimana engkau bisa menghamburkan waktumu dengan sibuk berjam-jam setiap hari memencet-mencet HP, ber-SMS ria, berhalo-halo menghamburkan uang bersama pacar-pacarmu, merusak-rusak komputermu dengan CD bajakan, begadang berhura-hura di café-café, pulang larut malam untuk kemudian siangnya engkau mengantuk dan tidur saat kuliah?
Nah lho….Jadi, intinya sebagai mahasiswa, harus belajar yg rajin ya
fiha
Oktober 10, 2008 at 7:37 am
[...] menilik ke belakang, masyarakat Indonesia punya kultur yang terjungkir dari kebiasaan orang di dunia belahan barat. Di masyarakat barat yang orang-orangnya sudah senang [...]
Laskar Pelangi, Sebuah Langkah Maju Bangsa Ini « Rumah Cahaya
Oktober 18, 2008 at 11:53 am