Life Observer

world in my arms

Archive for Januari 29th, 2009

Shalatku, Shalatmu, Shalat Kita, dan Shalat Mereka

with one comment

Masihkah kita merasa biasa-biasa saja ketika kita meninggalkan shalat? Padahal sabda Rasul SAW menyatakan bahwa shalat adalah amal yang akan diperiksa pertama kali ketika kelak di akhirat (H.R. Tirmidzi). Shalat ibarat gerbang awal terhadap pemeriksaan amal selajutnya. Lalu apakah dengan itu kita masih merasa biasa-biasa saja?

Secara pribadi, mungkin kita pernah meninggalakan shalat akibat kita kecapean atau terlupa. Bagaimanakah perasaan yang timbul? Apakah biasa-biasa saja? Kalau begitu mungkin shalat kita belum menjadi sebuah pemenuhan kebutuhan spiritual. Akan sama halnya dengan orang yang bahkan selama hidupnya jarang sekali menjalankan shalat (kalau tidak pada hari Jumat), terus kemudian perasaannya biasa-biasa saja, tentu tidak ada rasa menyesal ataupun niat untuk tidak meninggalkan shalat lagi.

Kawan, niatkan shalat sebagai amal dasar di dunia ini untuk kita mendapatkan pahala. Sehingga ketika kita diri ini lalai meninggalkan shalat dalam kondisi kecapean ataupun terlupa (mudah-mudahan kita dijauhkan dari kasus semacam ini), ada perasaan menyesal dan memohon ampun kepada Alloh SWT.

Sering saya pribadi merasa bertanya-tanya apakah orang yang diamanahi memegang kebijakan publik apakah sering melalaikan shalatnya? Dengan aktivitas demikian sibuknya melayani rakyat, membuat peraturan, menentukan kebijakan, apakah masih ada di dalam pikiran mereka terbersit untuk rehat sejenak beristirahat kemudian menunaikan shalat. Tentu mungkin dalam perjalanannya shalat mereka ada saja yang tidak khusyuk, karena harus dituntut aktivitas selanjutnya. Namun alhamdulillah dengan aktivitas yang insya Allah berpahala besar jika dijalankan dengan ikhlas, adil, dan kompeten, para pemegang kebijakan publik atau abdi negara itu masih tetap menjalankan shalatnya.

Jangan seperti artis kebanyakan kini. Saya pribadi yakin walaupun mereka muslim, banyak sekali yang jarang shalat atau bahkan tidak pernah shalat. Model artis begini apabila kita tanya mengapa tidak menjalankan rukun islam yang kedua ini secara konsisten, ada tiga tipe:

  1. Tipe Pertama: ah, saya masih belum siap untuk shalat, hati saya masih belum bersih, aktivitas saya masih banyak, mungkin nanti seandainya hidayah dari Yang Di Atas turun kepada saya.

Tanggapan: artis seperti ini perlu lebih banyak diarahkan. Shalat itu merupakan aspek dasar amal kita, dan proses menjalankannya tidak perlu menunggu hati bersih atau turunnya hidayah.

  1. Tipe Kedua: yang penting hati saya bersih tidak kotor, dan banyak beramal untuk orang miskin. Buat apa shalat kalau misalnya hatinya masih busuk?

Tanggapan: jawaban seperti ini selain yang terlontar dari artis juga mungkin terlontar dari orang kaya yang baik, atau orang desa yang pendidikan agamanya kurang, tapi sok-nya luar biasa. Orang seperti ini juga harus mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai hakikat shalat.

  1. Tipe Ketiga: buat apa shalat? Toh, tanpa shalat aku tetap menjadi kaya.

Tanggapan: orang seperti ini perlu dikembalikan ke jalan yang benar

Ya begitulah, sekedar ingin berbagi keresahan hati ini dengan kawan-kawan sekalian. Bolehkah aku bertanya? Bagaimana dengan shalatmu, kawan?

Written by Deri

Januari 29, 2009 at 2:27 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

Remaja Peduli

with 4 comments

Ini adalah pengalaman yang kurang mengenakan mungkin bagiku. Sekaligus menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam. Ceritanya gini, hari itu kira-kira pukul setengah enaman-lah. Aku berniat makan di warung Ayam Cola Gelap Nyawang. Sendiri, tapi memang karena ingin sendiri, rasanya perut ini tak bisa kompromi kalau diajak makan selepas maghrib nanti. Tanpa pikir panjang aku keluar kamar 405 turun sebanyak empat anak tangga menuju ke bawah (oiya kebetulan kejadian ini aku alami saat aku masih berada di Asrama Salman). Tanpa berlama-lama aku menuju langsung menuju warung Ayam Cola itu, mengingat memang warung itulah yang saat aku tiba masih kosong. Ku pesan langsung menu yang ada. Berpikir sejenak, langsung kupilih menu yang ingin ku makan. Ku minta cepat dibuatkan kepada bapak-bapak sang penjual. Huh, lapar dan cape sekali rasanya. Sesaat aku duduk menghadap jalan Gelap Nyawang. Agak kaget, terlihat di depanku ada sepasang anak SMA cewek-cowok duduk berhadapan dan agak sedikit merapat. Aku sih mencoba berpikiran positif gak berburuk sangka. Mungkin kedua anak itu sedang mendiskusikan pelajaran sekolah atau hanya sekedar bercerita. Lagian aku juga tak terlalu memperhatikan, karena memang aku sudah sangat kelaparan, dan makan siang (yang dimakan di waktu sore) telah tersaji di hadapanku. Akhirnya dengan agak apatis aku hanya mengarahkan pandanganku pada nasi dan Ayam Cola yang terhidang di atas mejaku. Mengingat perut tak bisa lagi dibuat bertahan, akhirnya ku serang juga itu Ayam Cola dengan buasnya.

Tapi lama kelamaan pemandangan yang kulihat di depanku itu malah membuat makanku menjadi tak berselera. Bagaimana tidak, kedua cewek cowok itu malah semakin merapat, yang cowok malah merangkul pinggang si cewek, walaupun si cewek agak menolak-nolak manja (huuueeekkk!). Aku tak mau menjelaskan lebih detail, yang jelas pemandangan seronok (jijik) itu. Ditambah lagi gerak muka si cowok yang nyosor ke si cewek, sungguh membuatku untuk cepat-cepat menyelesaikan makananku ini.

Tak berapa lama, aku menyelesaikan makanku. Langsung kubayar dan aku bergegas cepat meninggalkan Gelap Nyawang. Muak rasanya aku melihat itu. Aku mungkin salah, karena telah membiarkan kemaksiatan terjadi di depanku, tapi ah sudahlah, aku keburu ilfil ketika melihat pemandangan itu.

Aku jadi kepikir, kok bisanya kebanyakan remaja sekarang aktivitasnya seperti itu. Tak jauh dari budaya hedonis, matrealis, dan dangkal dalam berpikir mereka. Aku juga menyayangkan aktivitas mereka. Malah bergerombol tidak jelas ketimbang berdiskusi tentang pelajaran atau isu-isu aktual, malah ikut geng motor ketimbang aktif di kegiatan ekskul. Apakah kebanyakan remaja sekarang ini seperti itu? Saya jadi kaget, dulu ketika masih SMA atau SMP dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya biar bisa mendapat nilai sembilan untuk matpel matematika, fisika, kimia dan biologi kemudian mendapat ranking lima besar, atau bagaimana menjadi juara di ajang-ajang seperti cerdas cermat atau lomba karya tulis. Itulah yang saya pikirkan dulu, aktivitas saya dulu. Khawatir juga melihat aktivitas remaja sekarang ini. Walau sebenarnya saya tak menyangkal masih banyak remaja yang aktivitasnya malah mendatangkan manfaat, baik bagi diri mereka sendiri ataupun bagi lingkungan sekitar. Dan saya pikir aktivitas seperti ini pastilah banyak di sekitar mereka.

Saya kemudian jadi teringat nasyid yang berjudul remaja peduli, dari sapa gitu ya lupa, kalau tidak salah Edcoustic

Remaja peduli pintar dan mandiri

Giat berprestasi

Kupersembahkan untuk illahi…

Bersatu berjihad dalam dakwah islam

Di atas panji Al Quran dan As Sunah

Dari penggalan lirik lagu di atas sebenarnya jelas bahwa remaja seperti itu lebih punya nilai. Remaja yang selalu mengajak kepada kebaikan dan menarik simpul-simpul kemandirian dalam setiap aktivitasnya. Prestasi ia jadikan sebagai cermin diri untuk ajakan kepada kebaikan. Itulah cermin remaja yang diidamkan masa kini, remaja yang aktivitasnya selalu mendatangkan manfaat.

Written by Deri

Januari 29, 2009 at 2:21 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan