Life Observer

world in my arms

Remaja Peduli

with 4 comments

Ini adalah pengalaman yang kurang mengenakan mungkin bagiku. Sekaligus menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam. Ceritanya gini, hari itu kira-kira pukul setengah enaman-lah. Aku berniat makan di warung Ayam Cola Gelap Nyawang. Sendiri, tapi memang karena ingin sendiri, rasanya perut ini tak bisa kompromi kalau diajak makan selepas maghrib nanti. Tanpa pikir panjang aku keluar kamar 405 turun sebanyak empat anak tangga menuju ke bawah (oiya kebetulan kejadian ini aku alami saat aku masih berada di Asrama Salman). Tanpa berlama-lama aku menuju langsung menuju warung Ayam Cola itu, mengingat memang warung itulah yang saat aku tiba masih kosong. Ku pesan langsung menu yang ada. Berpikir sejenak, langsung kupilih menu yang ingin ku makan. Ku minta cepat dibuatkan kepada bapak-bapak sang penjual. Huh, lapar dan cape sekali rasanya. Sesaat aku duduk menghadap jalan Gelap Nyawang. Agak kaget, terlihat di depanku ada sepasang anak SMA cewek-cowok duduk berhadapan dan agak sedikit merapat. Aku sih mencoba berpikiran positif gak berburuk sangka. Mungkin kedua anak itu sedang mendiskusikan pelajaran sekolah atau hanya sekedar bercerita. Lagian aku juga tak terlalu memperhatikan, karena memang aku sudah sangat kelaparan, dan makan siang (yang dimakan di waktu sore) telah tersaji di hadapanku. Akhirnya dengan agak apatis aku hanya mengarahkan pandanganku pada nasi dan Ayam Cola yang terhidang di atas mejaku. Mengingat perut tak bisa lagi dibuat bertahan, akhirnya ku serang juga itu Ayam Cola dengan buasnya.

Tapi lama kelamaan pemandangan yang kulihat di depanku itu malah membuat makanku menjadi tak berselera. Bagaimana tidak, kedua cewek cowok itu malah semakin merapat, yang cowok malah merangkul pinggang si cewek, walaupun si cewek agak menolak-nolak manja (huuueeekkk!). Aku tak mau menjelaskan lebih detail, yang jelas pemandangan seronok (jijik) itu. Ditambah lagi gerak muka si cowok yang nyosor ke si cewek, sungguh membuatku untuk cepat-cepat menyelesaikan makananku ini.

Tak berapa lama, aku menyelesaikan makanku. Langsung kubayar dan aku bergegas cepat meninggalkan Gelap Nyawang. Muak rasanya aku melihat itu. Aku mungkin salah, karena telah membiarkan kemaksiatan terjadi di depanku, tapi ah sudahlah, aku keburu ilfil ketika melihat pemandangan itu.

Aku jadi kepikir, kok bisanya kebanyakan remaja sekarang aktivitasnya seperti itu. Tak jauh dari budaya hedonis, matrealis, dan dangkal dalam berpikir mereka. Aku juga menyayangkan aktivitas mereka. Malah bergerombol tidak jelas ketimbang berdiskusi tentang pelajaran atau isu-isu aktual, malah ikut geng motor ketimbang aktif di kegiatan ekskul. Apakah kebanyakan remaja sekarang ini seperti itu? Saya jadi kaget, dulu ketika masih SMA atau SMP dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya biar bisa mendapat nilai sembilan untuk matpel matematika, fisika, kimia dan biologi kemudian mendapat ranking lima besar, atau bagaimana menjadi juara di ajang-ajang seperti cerdas cermat atau lomba karya tulis. Itulah yang saya pikirkan dulu, aktivitas saya dulu. Khawatir juga melihat aktivitas remaja sekarang ini. Walau sebenarnya saya tak menyangkal masih banyak remaja yang aktivitasnya malah mendatangkan manfaat, baik bagi diri mereka sendiri ataupun bagi lingkungan sekitar. Dan saya pikir aktivitas seperti ini pastilah banyak di sekitar mereka.

Saya kemudian jadi teringat nasyid yang berjudul remaja peduli, dari sapa gitu ya lupa, kalau tidak salah Edcoustic

Remaja peduli pintar dan mandiri

Giat berprestasi

Kupersembahkan untuk illahi…

Bersatu berjihad dalam dakwah islam

Di atas panji Al Quran dan As Sunah

Dari penggalan lirik lagu di atas sebenarnya jelas bahwa remaja seperti itu lebih punya nilai. Remaja yang selalu mengajak kepada kebaikan dan menarik simpul-simpul kemandirian dalam setiap aktivitasnya. Prestasi ia jadikan sebagai cermin diri untuk ajakan kepada kebaikan. Itulah cermin remaja yang diidamkan masa kini, remaja yang aktivitasnya selalu mendatangkan manfaat.

Written by Deri

Januari 29, 2009 pada 2:21 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ha!!! keknya itu kejadian mirip betul dg yg kuliat di tasha.. (meski objek yg kupoto itu anak itebe sih..)
    iya tuh, mestinya langsung disemprot aja tuh!!!

    “dek, anak sma sekarang boleh ya pegang2 gitu belom nikah juga??? ato adik2 ini udah nikah??!”

    *panasssssss ><

    dian

    Februari 17, 2009 at 2:14 pm

  2. kalo di tegor pasti di bilang sok tahu

    naya

    Mei 25, 2009 at 2:35 pm

  3. wah..

    potret remaja sekarang memang begitu!!

    apalagi, kalau dengar cerita remaja SMA di garut…… uhh.. mengerikan!

    nanti aku cerita!!

    coz.. tante ku guru BP.. jadi tau lah cerita remaja SMA di Garut yang hedoniss

    karimaberkarya

    Juli 3, 2009 at 8:47 am

  4. ckckck.. mesti disemprot tuh..

    dedededew

    November 23, 2009 at 4:50 pm


Tinggalkan Balasan