Shalatku, Shalatmu, Shalat Kita, dan Shalat Mereka
Masihkah kita merasa biasa-biasa saja ketika kita meninggalkan shalat? Padahal sabda Rasul SAW menyatakan bahwa shalat adalah amal yang akan diperiksa pertama kali ketika kelak di akhirat (H.R. Tirmidzi). Shalat ibarat gerbang awal terhadap pemeriksaan amal selajutnya. Lalu apakah dengan itu kita masih merasa biasa-biasa saja?
Secara pribadi, mungkin kita pernah meninggalakan shalat akibat kita kecapean atau terlupa. Bagaimanakah perasaan yang timbul? Apakah biasa-biasa saja? Kalau begitu mungkin shalat kita belum menjadi sebuah pemenuhan kebutuhan spiritual. Akan sama halnya dengan orang yang bahkan selama hidupnya jarang sekali menjalankan shalat (kalau tidak pada hari Jumat), terus kemudian perasaannya biasa-biasa saja, tentu tidak ada rasa menyesal ataupun niat untuk tidak meninggalkan shalat lagi.
Kawan, niatkan shalat sebagai amal dasar di dunia ini untuk kita mendapatkan pahala. Sehingga ketika kita diri ini lalai meninggalkan shalat dalam kondisi kecapean ataupun terlupa (mudah-mudahan kita dijauhkan dari kasus semacam ini), ada perasaan menyesal dan memohon ampun kepada Alloh SWT.
Sering saya pribadi merasa bertanya-tanya apakah orang yang diamanahi memegang kebijakan publik apakah sering melalaikan shalatnya? Dengan aktivitas demikian sibuknya melayani rakyat, membuat peraturan, menentukan kebijakan, apakah masih ada di dalam pikiran mereka terbersit untuk rehat sejenak beristirahat kemudian menunaikan shalat. Tentu mungkin dalam perjalanannya shalat mereka ada saja yang tidak khusyuk, karena harus dituntut aktivitas selanjutnya. Namun alhamdulillah dengan aktivitas yang insya Allah berpahala besar jika dijalankan dengan ikhlas, adil, dan kompeten, para pemegang kebijakan publik atau abdi negara itu masih tetap menjalankan shalatnya.
Jangan seperti artis kebanyakan kini. Saya pribadi yakin walaupun mereka muslim, banyak sekali yang jarang shalat atau bahkan tidak pernah shalat. Model artis begini apabila kita tanya mengapa tidak menjalankan rukun islam yang kedua ini secara konsisten, ada tiga tipe:
- Tipe Pertama: ah, saya masih belum siap untuk shalat, hati saya masih belum bersih, aktivitas saya masih banyak, mungkin nanti seandainya hidayah dari Yang Di Atas turun kepada saya.
Tanggapan: artis seperti ini perlu lebih banyak diarahkan. Shalat itu merupakan aspek dasar amal kita, dan proses menjalankannya tidak perlu menunggu hati bersih atau turunnya hidayah.
- Tipe Kedua: yang penting hati saya bersih tidak kotor, dan banyak beramal untuk orang miskin. Buat apa shalat kalau misalnya hatinya masih busuk?
Tanggapan: jawaban seperti ini selain yang terlontar dari artis juga mungkin terlontar dari orang kaya yang baik, atau orang desa yang pendidikan agamanya kurang, tapi sok-nya luar biasa. Orang seperti ini juga harus mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai hakikat shalat.
- Tipe Ketiga: buat apa shalat? Toh, tanpa shalat aku tetap menjadi kaya.
Tanggapan: orang seperti ini perlu dikembalikan ke jalan yang benar
Ya begitulah, sekedar ingin berbagi keresahan hati ini dengan kawan-kawan sekalian. Bolehkah aku bertanya? Bagaimana dengan shalatmu, kawan?


sensi bgt sih ama artis…serasa dendam gara2 ga bisa jadi artis gt:))
)
tau darimana artis2 merespon dengan ucapan atau pemikiran kyk gt…bukankah org lain selain artis juga ada yg berpikiran seperti itu (yg jadi artis ga terima
tapi makasi udah ngingetin
-artis yg insya Allah taat shalat-
ike
Februari 25, 2009 at 10:43 am