Life Observer

world in my arms

Archive for Maret 2009

Bintang Kesepian dan Cerita dalam Hujan (part II)

with 3 comments

Bintang itu terkejut saat tepat tetes air hujan terakhir turun menapak bumi, ia menangkap kemunculan purnama di balik awan. Hening dalam keletihan yang membuat ia tak mampu lagi fokus terhadap keadaan sekelilingnya. Ia mencoba memperkuat intensitas sinarnya, namun tinggal remah-remah saja yang mampu menjaganya dari ketidakberdayaan.

Saat silau sinar itu semakin menipis ada asa yang ia kembangkan di sekeliling angkasa. Menyeruak dalam keharibaan malam. Menusuk jiwanya, melapangkan keberterimaan bintang itu.

Namun sejengkal demi sejengkal sirat sinar purnama itu tertutup awan hitam. Bintang kecewa. Bintang termenung. Ada yang menghilang. Tapi ia tetap bersinar meski lambatlaun meredup. Sementara itu tetes-tetes hujan mulai berlomba untuk jatuh ke bumi. Ia tak peduli.

Written by Deri

Maret 9, 2009 at 6:12 pm

Ditulis dalam Heart Express

My Personality (part II)

with 2 comments

Hasil tes kepribadian dari:

http://www.quizbox.com/personality/test82.aspx

Your view on yourself: Other people find you very interesting, but you are really hiding your true self. Your friends love you because you are a good listener. They’ll probably still love you if you learn to be yourself with them.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for: You like serious, smart and determined people. You don’t judge a book by its cover, so good-looking people aren’t necessarily your style. This makes you an attractive person in many people’s eyes.

Your readiness to commit to a relationship: You prefer to get to know a person very well before deciding whether you will commit to the relationship.

The seriousness of your love: Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates. Your views on education Education is less important than the real world out there, away from the classroom. Deep inside you want to start working, earning money and living on your own.

The right job for you: You’re a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you’ll be set for life.

How do you view success: You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying. What are you most afraid of: You are afraid of things that you cannot control. Sometimes you show your anger to cover up how you feel.

Who is your true self: You like privacy very much because you enjoy spending time with your own thoughts. You like to disappear when you cannot find solutions to your own problems, but you would feel better if you learned to share your thoughts with a person you trust.

Written by Deri

Maret 5, 2009 at 5:11 am

Ditulis dalam Heart Express

Seberapa Yakin Kita Ber-KM ITB Sekarang? (Refleksi Menuju Pemilu Raya KM ITB 2009)

with 2 comments

Membaca link di bawah ini saya kemudian jadi berpikir:

http://km.itb.ac.id/web/index.php?option=com_content&view=article&id=171:forum-rembug-km-itb-2009-garis-start-perbaikan-km-itb-oleh-kita-bersama&catid=75:diskusi-diluar-isu-energi-pangan-dan-pendidikan&Itemid=110

ternyata hasil dari forum rembug ini kuranglah membahas atau memunculkan apa masalah yang saya ingin dengar dari dulu sebenarnya. Masalah yang saya ungkapkan ketika Kongres KM ITB 0809 roadshow ke lembaga saya (HMME “ATMOSPHAIRA”). Masalahnya apa? Mungkin pada saat forum rembug dibahas sedikit, namun sayang sekali tidak secara komprehensif masalah itu dikupas. Apakah masalah itu? Oke, saya akan mencoba membahasnya menggunakan analogi kemahasiswaan terpusat-lembaga dan kelurahan-kepala keluarga (kk).

Taruhlah misalnya khasusnya begini, Kelurahan, melalui pak Lurah mengundang warganya untuk mengikuti penyuluhan yang diadakan di balai kelurahan tentang pentingnya wajib belajar belajar 12 tahun. Akhirnya pak Lurah pun mengundang seluruh kepala keluarga untuk mengikuti penyuluhan tersebut. Ketika penyuluhan di mulai pak Lurah memberikan pernyataan bahwa wajib belajar 12 tahun adalah penting. Pak Lurah juga menginstruksikan agar semua warga turut mendukung dan berpartisipasi dalam program wajib belajar 12 tahun itu.

Setelah Pak Lurah mengeluarkan statement seperti itu, para warga banyak juga yang menanggapi.

1.       “saya sepakat dengan pak Lurah. WAJAR 12 Tahun itu penting!”

2.       “kami juga mendukung! Anak kami akan kami sekolahkan sampai SMA”

3.       “demi memajukan kelurahan kita, kami sepakat”

4.       “kami akan terus mendukung program ini, pak. Sebab kami telah banyak mendapatkan manfaat dari program ini”

Itulah tanggapan dari sebagian para warga. Namun ada juga yang memberikan tanggapan yang bisa dibilang bertolak belakang dengan komentar sebelumnya, walaupun pada intinya ada yang tetap mendukung program tersebut.

A.      “kenapa harus WAJAR 12 tahun? Kenapa tidak 16 tahun? Itu lebih kerasa manfaatnya..”

B.      “ah,,,buat apa pak lurah, mendingan pak Lurah lengser saja. Ganti dengan pak Lurah yang baru. Pak Lurah sekarang banyak program, tapi banyak masalah, kelurahan kita gak maju-maju”

Mendengar pernyataan yang berbeda tersebut pak Lurah kemudian berpikir. Ada yang mendukung programnya, ada yang tidak mendukung programnya, termasuk warga yang tidak hadir di penyuluhan itu dia kategorikan sebagai warga yang tidak mendukung programnya.

Saya pikir ada yang keliru dari anggapan yang diambil oleh pak Lurah ini.

-          Dia kurang menyosialkan bahwa adanya penyuluhan di balai kelurahan, sehingga banyak warga yang tidak hadir

-          Dia menganggap warga yang tidak hadir tidak mendukung programnya

-          Dia terlalu memikirkan warga yang hadir, yang memberikan pernyataan yang bertolak belakang tadi, padahal banyak warga yang tidak hadir justru itulah yang perlu diperhatikan.

Saya pikir begini mungkin warga yang tidak hadir memiliki alasan yang kuat mengapa mereka tidak hadir dalam penyuluhan tersebut

1.       Sosialisasi kurang gencar sehingga banyak warga yang tidak hadir

2.       Banyak warga juga yang belum memiliki anak sehingga mereka berpikir buat apa datang toh belum memiliki anak

3.       Akses perjalanan mereka ke balai kelurahan sangatlah sulit, mereka harus melewati rawa-rawa yang rawan binatang buas, atau karena hujan.

4.       Warga belum memahami arti pentingnya menghadiri penyuluhan tersebut

5.       Warga merasa penyuluhan tersebut hanya berguna bagi segelintir orang saja

6.       Warga merasa pak Lurah kurang memperhatikan warganya, sehingga mereka lebih “tertarik” untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, ketimbang menghadiri penyuluhan tersebut.

Itulah yang salah dari pak Lurah (kelurahan) atau mungkin dari warganya sendiri. Tapi di sini lebih banyak pak Lurah (kelurahan) yang salah. Bagitupun dengan kemahasiswaan kita. Masalah yang dibahas ketika forum rembug bukanlah masalah yang sebabnya kurang sepakat sepakat terhadap sistem. Sepakat sih sepakat untuk ber-KM ITB tapi saya yakin bukan hanya masalah itu muncul sebabnya kurang sepakat terhadap sistem. Saya pikir sebabnya bukan hanya pada sepakat atau tidak sepakatnya terhadap sistem. Ada sebab yang lain. Sebab yang bukan karena adanya keinginan untuk restarting system kemahasiswaan (analog dengan tanggapan dari warga yang B), atau sebab adanya keinginan dari satu atau beberapa lembaga untuk megarahkan sistem kemahasiswaan seperti begini, begitu, atau apapun (analog dengan tanggapan dari warga yang A). Saya pikir bukan seperti itu. Ada sebab lain. Ada sebab yang dianggap oleh kemahasiswaan terpusat, lembaga dipertanyakan komitmennya untuk ber-KM ITB (analog dengan ada sebab lain yang dianggap oleh kelurahan, warganya dipertanyakan untuk mendukung dan menyukseskan program penyuluhan pentingnya WAJAR 12 Tahun).

Dalam hal ini pak Lurah (kelurahan) adalah cermin dari kemahasiswaan terpusat, dan para warga (kepala keluarga) adalah cermin dari lembaga. Ada beberapa sebab lain yang perlu diurai di sini. Sebab ini analog dengan sebab “mengapa warga tidak datang penyuluhan, sehingga dianggap tidak mendukung program kelurahan?” Kembali dalam hal ini komitmen ber-KM ITB analog dengan menyukseskan program-program kelurahan. Sedangkan adanya penyuluhan wajib belajar 12 tahun analog dengan kegiatan-kegiatan atau apapun medianya dari kemahasiswaan terpusat, yang pada intinya jika bersepakat ber-KM ITB maka harus mengirimkan sumber daya, entah itu untuk langkah eksekusi program (kabinet) atau legislasi aturan dan landasan (kongres).

Mari kita urai sebab permasalahan tersebut memakai 7 sebab warga tidak datang penyuluhan di atas.

1.       Sosialisasi kurang gencar sehingga banyak warga yang tidak hadir.

Maksudnya: selama ini kemahasiswaan terpusat kurang gencar dalam menyosialkan even-even kemahasiswaan, sehingga lembaga-lembaga ada yang tidak mengetahui hal tersebut

2.       Banyak warga juga yang belum memiliki anak sehingga mereka berpikir buat apa datang toh belum memiliki anak

Maksudnya: selama ini kemahasiswaan terlalu menuntut untuk mengirimkan sumber daya (terutama sumber daya manusia), padahal tidak semua lembaga memiliki SDM yang berlimpah. Inilah kesulitan lembaga yang minim SDM, di internalnya sendiri mereka kurang maksimal menjalankan proker karena minimnya SDM, di sisi eksternal dianggap tidak berkomitmen untuk ber-KM ITB karena tidak mengirimkan SDM

3.       Akses perjalanan mereka untuk mengikuti penyuluhan sangatlah sulit, mereka harus melewati rawa-rawa yang rawan binatang buas, atau karena hujan.

Maksudnya: (mungkin) ada lembaga yang memang bersepakat ber-KM ITB, namun mereka kesulitan untuk menunjukkan komitmen itu. Di sini mungkin kemahasiswaan perlu memfasilitasi agar komitmen mereka ini lebih mudah untuk diperlihatkan

4.       Warga belum memahami arti pentingnya menghadiri penyuluhan tersebut

Maksudnya: selama ini (mungkin) ada lembaga yang kurang menyadari pentingnya beraktivitas dalam KM ITB, sehingga pemahaman mereka mengenai KM ITB itu sendiri sangat kurang. Sekali lagi, perlunya kemahasiswaan terpusat secara kontinu dan berkelanjutan memahamkan KM ITB ke semua lembaga.

5.       Warga merasa penyuluhan tersebut hanya berguna bagi segelintir orang saja.

Maksudnya: selama ini (mungkin banyak) kegiatan-kegiatan di KM ITB hanya mencerminkan identitas lembaga tertentu, sehingga ada anggapan KM ITB hanya milik pihak-pihak tertentu saja. Di sini mungkin kemahasiswaan terpusat harus kreatif menggali semua kekhasan tiap-tiap lembaga. Sebab ini juga dapat mematikan identitas lembaga tertentu dari sisi eksternal, sehingga bisa saja lembaga tersebut kurang dikenal, ada banyak sebab mungkin, tapi rasanya memang lebih baik agar (kegiatan-kegiatan ber-) KM ITB ini tidak hanya dimiliki atau diidentikkan dengan pihak atau lembaga tertentu saja.

6.       Warga merasa pak Lurah kurang memperhatikan warganya, sehingga mereka lebih “tertarik” untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, ketimbang menghadiri penyuluhan tersebut.

Maksudnya: sebab ini mungkin yang paling kelihatan di antara lembaga-lembaga. Selama ini kemahasiswaan terpusat atau bahkan antar lembaga kurang memahami masalah lembaga lainnya. Sehingga kecenderungan yang ada adalah ada lembaga yang beranggapan,”masalah internal saja belum beres, ngapain beraktivitas di kemahasiswaan terpusat?. Yang diperlukan di sini adalah tiap elemen KM ITB (kabinet, kongres, himpunan, unit, tim beasiswa, MWA WM beserta tim) harus memahami masalah serta situasi kondisi antar lembaga, serta bersama-sama mencari solusinya.

Pemilu Raya KM ITB 2009 sudah di depan mata. Walaupun dengan banyak rintangan dan respons dari massa kampus yang beragam, saya pikir Pemira KM ITB harus tetap fokus (namun dengan tidak mengabaikan aspirasi massa kampus). Saat ini (mungkin) ada 3 pasang calon Presiden KM ITB dan calon Anggota MWA Wakil Mahasiswa. Benny-Uchup (yang katanya sudah ditetapkan calon), Yunus Ridwan (dua orang ini pernah menjadi promotor Uchup-Benny), dan Ilham-Annas (ini pasangan baru). Semoga aja pemenang pemilu KM ITB sekarang ini mampu mengatasi persoalan dan masalah yang saya ungkapkan di atas.

Barangkali itulah yang ada di benak saya selama ini sejak saya pernah menjadi Senator, bahkan sampai selesainya forum rembug kemarin tidak ada satupun yang membahas kegelisahan saya ini. Atau mungkin juga kegelisahan beberapa lembaga terhadap masalah yang ada di mereka. Overall, forum rembug telah memberikan paradigma yang semestinya harus dipahami oleh semua elemen KM ITB dalam mewujudkan komitmen ber-KM ITB. Contoh paling jelas: forum rembug menjelaskan mana kabinet (atau kemahasiswaan terpusat) mana KM. Selama ini masih banyak pihak keliru menganggap kabinet sebagai KM.

Written by Deri

Maret 1, 2009 at 12:45 pm

Ditulis dalam Heart Express