Life Observer

world in my arms

Seberapa Yakin Kita Ber-KM ITB Sekarang? (Refleksi Menuju Pemilu Raya KM ITB 2009)

with 2 comments

Membaca link di bawah ini saya kemudian jadi berpikir:

http://km.itb.ac.id/web/index.php?option=com_content&view=article&id=171:forum-rembug-km-itb-2009-garis-start-perbaikan-km-itb-oleh-kita-bersama&catid=75:diskusi-diluar-isu-energi-pangan-dan-pendidikan&Itemid=110

ternyata hasil dari forum rembug ini kuranglah membahas atau memunculkan apa masalah yang saya ingin dengar dari dulu sebenarnya. Masalah yang saya ungkapkan ketika Kongres KM ITB 0809 roadshow ke lembaga saya (HMME “ATMOSPHAIRA”). Masalahnya apa? Mungkin pada saat forum rembug dibahas sedikit, namun sayang sekali tidak secara komprehensif masalah itu dikupas. Apakah masalah itu? Oke, saya akan mencoba membahasnya menggunakan analogi kemahasiswaan terpusat-lembaga dan kelurahan-kepala keluarga (kk).

Taruhlah misalnya khasusnya begini, Kelurahan, melalui pak Lurah mengundang warganya untuk mengikuti penyuluhan yang diadakan di balai kelurahan tentang pentingnya wajib belajar belajar 12 tahun. Akhirnya pak Lurah pun mengundang seluruh kepala keluarga untuk mengikuti penyuluhan tersebut. Ketika penyuluhan di mulai pak Lurah memberikan pernyataan bahwa wajib belajar 12 tahun adalah penting. Pak Lurah juga menginstruksikan agar semua warga turut mendukung dan berpartisipasi dalam program wajib belajar 12 tahun itu.

Setelah Pak Lurah mengeluarkan statement seperti itu, para warga banyak juga yang menanggapi.

1.       “saya sepakat dengan pak Lurah. WAJAR 12 Tahun itu penting!”

2.       “kami juga mendukung! Anak kami akan kami sekolahkan sampai SMA”

3.       “demi memajukan kelurahan kita, kami sepakat”

4.       “kami akan terus mendukung program ini, pak. Sebab kami telah banyak mendapatkan manfaat dari program ini”

Itulah tanggapan dari sebagian para warga. Namun ada juga yang memberikan tanggapan yang bisa dibilang bertolak belakang dengan komentar sebelumnya, walaupun pada intinya ada yang tetap mendukung program tersebut.

A.      “kenapa harus WAJAR 12 tahun? Kenapa tidak 16 tahun? Itu lebih kerasa manfaatnya..”

B.      “ah,,,buat apa pak lurah, mendingan pak Lurah lengser saja. Ganti dengan pak Lurah yang baru. Pak Lurah sekarang banyak program, tapi banyak masalah, kelurahan kita gak maju-maju”

Mendengar pernyataan yang berbeda tersebut pak Lurah kemudian berpikir. Ada yang mendukung programnya, ada yang tidak mendukung programnya, termasuk warga yang tidak hadir di penyuluhan itu dia kategorikan sebagai warga yang tidak mendukung programnya.

Saya pikir ada yang keliru dari anggapan yang diambil oleh pak Lurah ini.

-          Dia kurang menyosialkan bahwa adanya penyuluhan di balai kelurahan, sehingga banyak warga yang tidak hadir

-          Dia menganggap warga yang tidak hadir tidak mendukung programnya

-          Dia terlalu memikirkan warga yang hadir, yang memberikan pernyataan yang bertolak belakang tadi, padahal banyak warga yang tidak hadir justru itulah yang perlu diperhatikan.

Saya pikir begini mungkin warga yang tidak hadir memiliki alasan yang kuat mengapa mereka tidak hadir dalam penyuluhan tersebut

1.       Sosialisasi kurang gencar sehingga banyak warga yang tidak hadir

2.       Banyak warga juga yang belum memiliki anak sehingga mereka berpikir buat apa datang toh belum memiliki anak

3.       Akses perjalanan mereka ke balai kelurahan sangatlah sulit, mereka harus melewati rawa-rawa yang rawan binatang buas, atau karena hujan.

4.       Warga belum memahami arti pentingnya menghadiri penyuluhan tersebut

5.       Warga merasa penyuluhan tersebut hanya berguna bagi segelintir orang saja

6.       Warga merasa pak Lurah kurang memperhatikan warganya, sehingga mereka lebih “tertarik” untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, ketimbang menghadiri penyuluhan tersebut.

Itulah yang salah dari pak Lurah (kelurahan) atau mungkin dari warganya sendiri. Tapi di sini lebih banyak pak Lurah (kelurahan) yang salah. Bagitupun dengan kemahasiswaan kita. Masalah yang dibahas ketika forum rembug bukanlah masalah yang sebabnya kurang sepakat sepakat terhadap sistem. Sepakat sih sepakat untuk ber-KM ITB tapi saya yakin bukan hanya masalah itu muncul sebabnya kurang sepakat terhadap sistem. Saya pikir sebabnya bukan hanya pada sepakat atau tidak sepakatnya terhadap sistem. Ada sebab yang lain. Sebab yang bukan karena adanya keinginan untuk restarting system kemahasiswaan (analog dengan tanggapan dari warga yang B), atau sebab adanya keinginan dari satu atau beberapa lembaga untuk megarahkan sistem kemahasiswaan seperti begini, begitu, atau apapun (analog dengan tanggapan dari warga yang A). Saya pikir bukan seperti itu. Ada sebab lain. Ada sebab yang dianggap oleh kemahasiswaan terpusat, lembaga dipertanyakan komitmennya untuk ber-KM ITB (analog dengan ada sebab lain yang dianggap oleh kelurahan, warganya dipertanyakan untuk mendukung dan menyukseskan program penyuluhan pentingnya WAJAR 12 Tahun).

Dalam hal ini pak Lurah (kelurahan) adalah cermin dari kemahasiswaan terpusat, dan para warga (kepala keluarga) adalah cermin dari lembaga. Ada beberapa sebab lain yang perlu diurai di sini. Sebab ini analog dengan sebab “mengapa warga tidak datang penyuluhan, sehingga dianggap tidak mendukung program kelurahan?” Kembali dalam hal ini komitmen ber-KM ITB analog dengan menyukseskan program-program kelurahan. Sedangkan adanya penyuluhan wajib belajar 12 tahun analog dengan kegiatan-kegiatan atau apapun medianya dari kemahasiswaan terpusat, yang pada intinya jika bersepakat ber-KM ITB maka harus mengirimkan sumber daya, entah itu untuk langkah eksekusi program (kabinet) atau legislasi aturan dan landasan (kongres).

Mari kita urai sebab permasalahan tersebut memakai 7 sebab warga tidak datang penyuluhan di atas.

1.       Sosialisasi kurang gencar sehingga banyak warga yang tidak hadir.

Maksudnya: selama ini kemahasiswaan terpusat kurang gencar dalam menyosialkan even-even kemahasiswaan, sehingga lembaga-lembaga ada yang tidak mengetahui hal tersebut

2.       Banyak warga juga yang belum memiliki anak sehingga mereka berpikir buat apa datang toh belum memiliki anak

Maksudnya: selama ini kemahasiswaan terlalu menuntut untuk mengirimkan sumber daya (terutama sumber daya manusia), padahal tidak semua lembaga memiliki SDM yang berlimpah. Inilah kesulitan lembaga yang minim SDM, di internalnya sendiri mereka kurang maksimal menjalankan proker karena minimnya SDM, di sisi eksternal dianggap tidak berkomitmen untuk ber-KM ITB karena tidak mengirimkan SDM

3.       Akses perjalanan mereka untuk mengikuti penyuluhan sangatlah sulit, mereka harus melewati rawa-rawa yang rawan binatang buas, atau karena hujan.

Maksudnya: (mungkin) ada lembaga yang memang bersepakat ber-KM ITB, namun mereka kesulitan untuk menunjukkan komitmen itu. Di sini mungkin kemahasiswaan perlu memfasilitasi agar komitmen mereka ini lebih mudah untuk diperlihatkan

4.       Warga belum memahami arti pentingnya menghadiri penyuluhan tersebut

Maksudnya: selama ini (mungkin) ada lembaga yang kurang menyadari pentingnya beraktivitas dalam KM ITB, sehingga pemahaman mereka mengenai KM ITB itu sendiri sangat kurang. Sekali lagi, perlunya kemahasiswaan terpusat secara kontinu dan berkelanjutan memahamkan KM ITB ke semua lembaga.

5.       Warga merasa penyuluhan tersebut hanya berguna bagi segelintir orang saja.

Maksudnya: selama ini (mungkin banyak) kegiatan-kegiatan di KM ITB hanya mencerminkan identitas lembaga tertentu, sehingga ada anggapan KM ITB hanya milik pihak-pihak tertentu saja. Di sini mungkin kemahasiswaan terpusat harus kreatif menggali semua kekhasan tiap-tiap lembaga. Sebab ini juga dapat mematikan identitas lembaga tertentu dari sisi eksternal, sehingga bisa saja lembaga tersebut kurang dikenal, ada banyak sebab mungkin, tapi rasanya memang lebih baik agar (kegiatan-kegiatan ber-) KM ITB ini tidak hanya dimiliki atau diidentikkan dengan pihak atau lembaga tertentu saja.

6.       Warga merasa pak Lurah kurang memperhatikan warganya, sehingga mereka lebih “tertarik” untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, ketimbang menghadiri penyuluhan tersebut.

Maksudnya: sebab ini mungkin yang paling kelihatan di antara lembaga-lembaga. Selama ini kemahasiswaan terpusat atau bahkan antar lembaga kurang memahami masalah lembaga lainnya. Sehingga kecenderungan yang ada adalah ada lembaga yang beranggapan,”masalah internal saja belum beres, ngapain beraktivitas di kemahasiswaan terpusat?. Yang diperlukan di sini adalah tiap elemen KM ITB (kabinet, kongres, himpunan, unit, tim beasiswa, MWA WM beserta tim) harus memahami masalah serta situasi kondisi antar lembaga, serta bersama-sama mencari solusinya.

Pemilu Raya KM ITB 2009 sudah di depan mata. Walaupun dengan banyak rintangan dan respons dari massa kampus yang beragam, saya pikir Pemira KM ITB harus tetap fokus (namun dengan tidak mengabaikan aspirasi massa kampus). Saat ini (mungkin) ada 3 pasang calon Presiden KM ITB dan calon Anggota MWA Wakil Mahasiswa. Benny-Uchup (yang katanya sudah ditetapkan calon), Yunus Ridwan (dua orang ini pernah menjadi promotor Uchup-Benny), dan Ilham-Annas (ini pasangan baru). Semoga aja pemenang pemilu KM ITB sekarang ini mampu mengatasi persoalan dan masalah yang saya ungkapkan di atas.

Barangkali itulah yang ada di benak saya selama ini sejak saya pernah menjadi Senator, bahkan sampai selesainya forum rembug kemarin tidak ada satupun yang membahas kegelisahan saya ini. Atau mungkin juga kegelisahan beberapa lembaga terhadap masalah yang ada di mereka. Overall, forum rembug telah memberikan paradigma yang semestinya harus dipahami oleh semua elemen KM ITB dalam mewujudkan komitmen ber-KM ITB. Contoh paling jelas: forum rembug menjelaskan mana kabinet (atau kemahasiswaan terpusat) mana KM. Selama ini masih banyak pihak keliru menganggap kabinet sebagai KM.

Written by Deri

Maret 1, 2009 pada 12:45 pm

Ditulis dalam Heart Express

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. eeu,,
    berat lah si deri mah bahasanya dan bahasannya..

    shallypristine

    Maret 4, 2009 at 5:06 am

  2. aloha..
    eh Deri…masa sih gitu?haha..gw pikir, km itb mah bukan negara..tapi organisasi besar..punya tujuan yg harus dipenuhi brg2.
    tujuan pertama aja, ttg memastikan smua lulusan itb punya profil yang lengkap baiknya.
    naah…berarti, kn perannya memastikan 12000 mhsw dpt pengalaman berKMITB itu kan?
    nah. itu yg suka dilupakan sama anak2 kampus kita, petinggi2 sibuk sendiri panik anak2nya g mau ikuta..padahal mah dia teh bukan anak yg kdu difasilitasi aja, tapi partner, peer, sesama dan setara untuk saling mengisi.
    selama orang2 tidak melihat dirinya mampu, maka, akan selalu demikian..
    sepakat gue ttg forum rembug!g bakal nyelesein masalah secara taktis strategis, makanya,,,perlu ada alasan n irisan knapa sih hrs bareng.
    daaan…g bakalan ada isu2 yg mengiris smua lembaga untuk ikutan, g bakalan. tapi kn untuk awareness bisa terbagi.
    duh..duh..
    mari anak2 itb, kita tidak boleh manja dan hanya bisa berkomentar. mari turun ke lapangan..dan selesaikan persoalan..karena kita punya lab segudang, dosen2 terhebat se Indonesia, akses info terkeren, daan nama itb yang membuat kita bisa dapet apa aja…jangan males..gerak yoook!!

    *hajar..hajar..mencari dan membela kebenaran ilmiah! :)

    deri:
    hahahaha…..sepertinya saya sepakat dengan anda,,, realitas yang ada, atau yang saya ungkapkan di atas bukanlah sikap yang manja, bukanlah menumbuhkan pesimistis, akan tetapi dengan realita itu kita jadi tahu bagaimana semestinya kita bergerak, tentunya beriringan, berbahaya sekali apabila kita punya mimpi besar tapi kita tidak melihat atau mempertimbangkan realita yang ada. ini KM ITB, kannya??? KM ITB itu terdiri dari beberapa elemen yang menyatukan dan tiap elemen itu pasti memiliki berbagai kepentingan untuk maju, tapi lazimnya kepentingan mereka untuk maju juga kadangkala terhalang oleh percik masalah yang ada. perlunya sesama kita untuk bergerak bersama, dalam mendukung kemajuan, juga dalam memahami keadaan tiap2 elemen2 itu. makanya saya pake analogi seperti itu. terus terang HMME ITB sebagai bagian dari KM ITB mencoba terus maju, akan tetapi tetap saja ada yang menghambat, tapi kemajuan itu tetap HMME upayakan walaupun di tengah banyaknya keterbatasan dan masalah yang ada, tapi kita tetap mencoba maju,,, oleh karena itu ALANGKAH BAIKNYA tiap lembaga itu “saling curhat” mengenai masalah mereka agar kita peduli dan mencoba mencari solusi bersama. karena bukan tidak mungkin pasti banyak lembaga juga yang memiliki masalah dan keterbatasan, seperti HMME (masalah beda2 mungkin). mengenai alasan kenapa harus bareng, gak perlu dikonfirmasi ke gw, gw udah sepakat bgt dengan ber-KM ITB, cuman implementasi itu yang sekarang gw tunggu,,,, bersama-sama nya yang kurang keliatan, bersama sama bergerak maju, bersama sama mendengarkan, bersama-sama mencari solusi, bukan begitu, shan??? kan KM ITB MILIK semua…hehehehe :)

    shana

    April 9, 2009 at 5:21 pm


Tinggalkan Balasan