Archive for the ‘Dialog Peradaban’ Category
Quote (I)
Bangsa ini rindu dengan kepemimpinan pemuda yang tidak kharismatik, tapi mampu menarik simpul-simpul perhatian massa untuk mendukungnya. Antikemapanan tapi masih bisa survive dalam menghadapi segala tekanan. Pasif dari aktivitas yang mendatangkan kesia-siaan dan berani memikirkan perubahan besar. Tidak disukai banyak orang tapi karya-karyanya bermanfaat untuk banyak orang. Itulah cermin pemuda yang dibutuhkan bangsa ini sekarang. Yang aktivitasnya tak sekedar mengasah bakat, mendalami hobi namun lebih jauh dari itu. Aktivitasnya selalu memberikan pengaruh positif terhadap lingkungannya sekecil apapun
Mencerna Amarah dengan DIAM
Pernah menerima cercaan, hinaan, kata-kata kasar dari orang lain?
Pernah menerima amarah dari orang lain?
Cernalah dengan DIAM…
Kemudian pikirkan, apakah kau pantas membalas itu dengan ungkapan yang senada?
Tidak sepertinya…
Dengan diam kita akan menjadi lebih empati, peka, memahami, dan memupuk kesabaran ke derajat yang lebih tinggi. Dengan diam, walaupun hati sakit menerima cercaan itu, tapi percayalah ia akan menjadi benteng kokoh yang menopang betapa lemahnya diri kita…
Teman, tidakkah kita ingin hal-hal positif tetap bernaung dalam hati ini?
Kalau begitu, marilah…
Nb.: Hasil renungan setelah saya berkonfrontasi dengan beberapa orang. Terdengar berlebihankah? Saya rasa tidak. Pembelajaran itu kita bisa ambil hikmahnya dari mana saja. Maknanya jangan dipersempit. Karena keikhlasan itu ternyata menjadi obat kesusahan kita. Insya Allah
Tentang Kesendirian dan Berduaan
Selepas shalat isya dan di tengah keheningan asrama, ku terduduk di atas kursi geser di kamar 405. Biasanya abis isya di asrama sepi, baru ramai lagi menjelang tengah malam. Entah apa keperluan mereka abis isya ini, mungkin ada yang mencari makan, mungkin ada yang mabit, atau ada liqa? entahlah aku tak mau peduli. Sudah menjadi hal yang biasa kalau abis isya gini aku menjadi orang yang kesepian di asrama (ehem). Biasanya pas dulu menjadi senator, aku sering keluar malam, rapat atau sidang, de el el. Tapi kini aku ingin menikmati malam di kamarku sendiri. Dari lantai empat ini aku menuju ke beranda kamar. Aku duduk di kursi yang ada di sana. Di depanku ada sorot lampu yang cukup terang. Pandangan ku lemparkan ke arah depan terlihat kesepian taman ganesha, hanya sesekali gesekan daun memecah kesenyapan di sana. Ku mencoba melirik ke bawah, kulihat hanya ada beberapa orang lalu lalang di depan kantin, biasanya kalau siang jalan itu ramai sekali. Udara yang sejuk, pendar cahaya semakin membuat malam ini terasa nyaman. Kilau cahaya itu terpantul sempurna ke dalam kolam yang ada di taman ganesha itu. Berkas sinarnya menembus sejuk ke pelupuk mata ini. Angin yang lembut bertiup sedikit demi sedikit menghangatkan malam.
Kemudian kutengadahkan pandang ke atas. Langit hitam pekat yang indah ada berjuta bintang di sana. Tepat di tengahnya bulan sabit terpancang sempurna. Kelip bintang itu menemani gemerlap bulan sabit yang nampak kesepian. Ku dengar alam bernyanyi dalam heningnya. Meski malam, aku dapat mendengar itu dengan jelas. Suara jangkrik mungkin, ataukah katak, entahlah rasanya begitu membuat tentram dalam relung sukmaku.
Ya di beranda ini aku sering menghabiskan malam. Sering bergumam, sering menemukan keindahan dalam sebuah inspirasi. Sering menuntunku dalam sunyi di tengah suasana sepi asrama. Dan berjuta cahaya diiringi suara yang harmoni menemaniku berkontemplasi.
“sendirian lagi, nih?”
Tiba-tiba terdengar suara, entah siapa,apa dari mana, aku tak peduli. Aku teralun merasakan nyamannya malam.
“iya,” jawabku pendek
“ah, apakah kau tak bosan selalu menikmati kesepian dengan kesendirian?”
“apa salahnya?”
“tidak aku begitu mengkhawatirkanmu, kau kurasa orang yang aneh, ke mana-mana sering kulihat sendiri. Ke kampus sendiri, di kamar sering sendiri, belajar sendiri, jalan-jalan sendiri, bahkan makan di warung atau di kantinpun kau lebih banyak terlihat sendiri. Kau antisosial, ya?”
![]()
“ah, tidak juga”
“lalu?”
“ya, mungkin karena urusanku sebenarnya belum melibatkan orang lain. Mandi juga harus sendiri, kan?”
“kau tak bisa begitu!!!”
“apa pedulimu? Kau siapa?”
“itu tidaklah penting. Suatu saat mungkin engkau akan mengutuk arti kesendirian. Kenapa kau tidak seperti anak-anak SMA yang sering ada di gelap nyawang1 itu? Meraka selalu beramai-ramai kalau makan. Mengapa tidak seperti teman-temanmu? Mereka selalu bersama-sam. Kalau jalan-jalanpun mereka sama-sama”
“tapi lihat dulu apa yang mereka kerjakan!”
“maksudmu?”
“coba kau lihat apa yang mereka lakukan. Jauh dari apa yang menjadi kebiasaanku bahkan mungkin dien-ku. Anak SMA itu kalau makan di gelap nyawang kulihat mereka malah asyik ngobrol berduaan, dempetan dengan lawan jenis, pegangan tangan, merokok pula. Ya Alloh, selamatkan negeri ini dari kebobrokan remajanya!”
“ah kau terlalu berlebihan, aku tak menyuruhmu seperti itu. Kau bisa saja ajak temanmu yang lain”
“aku selalu melakukan itu kalau aku ada keperluan dengan temanku. Tidak hanya keperluan, kalau mungkin aku dan dia lama tak jumpa, kami sering ngobrol lama dan bercerita. Kau lihat apa yang aku lakukan lebih memiliki dibanding anak SMA yang tadi.”
Kemudian aku dan dia terdiam. Sesaat kulanjutkan kembali perkataanku yang tadi terhenti.
“aku punya pengalaman yang kurang mengenakkan dengan anak-anak SMA yang makan di Gelap Nyawang itu. Waktu itu juga abis isya, aku pikir kok ada ya anak SMA jam segini masih berkeliaran, bergerombol pula, mereka berpasangan. Yang cewek pakaiannya, naudzubillah, walaupun pakaian SMA lebih mirip pakaian SD, kecil sekali. Yang cowok juga sama parahnya, tangan yang satu memegang tangan ceweknya, tangan yang lain dipakai untuk memegang rokok.”
Aku menghela nafas. Kemudian aku melanjutkan ceritaku kembali.
“waktu itu kebetulan aku makan di meja kosong yang cukup besar.”
“hanya kau sendiri?”
“iya.”
“tuh, kan”
“diamlah aku lanjutkan dulu ceritanya”
Sejenak terdiam.
“gerombolan SMA itu mendekat ke arah meja tempat aku makan. Aku tak ambil peduli dengan kedatangan mereka. Tapi anehnya mereka malah makin bergerombol di tempat aku makan. Kemudian salah seorang di antara mereka berteriak ke si pemilik warung, mas, gak ada tempat yang kosong,ya? Aku kaget juga mendengar itu. Menyadari hal itu si pemilik warung kebingungan. Kemudian ia memintaku yang duduk di bangku itu untuk pindah ke meja pojok yang masih kosong. Maaf, mas bisa diisi dulu tempat yang di sana? Masih ada yang kosong tuh! Begitu si pemilik warung itu menyuruhku pindah. Tak berapa lama meja yang aku tempati tadi diisi oleh anak-anak SMA. Kulihat mereka malah acuh dengan hal itu.”
“nah itulah akibatnya kau makan sendiri. Coba kalau kau makan berdua, atau bertiga atau ber-berapalah, asalkan tidak sendiri, pasti kejadian itu tak akan terjadi.”
“aku tak menyesali kejadian itu. Hanya aku merasa miris anak SMA kok udah begitu ya? Aku benar-benar terkejut.”
“zaman udah modern, bung! Kalau kau tidak begitu, orang-orang akan banyak yang tidak simpati padamu.”
“tidak juga”
“percayalah, kau jangan menjadi aneh sendiri dengan gayamu seperti itu. Bisa-bisa nanti kau tak akan mendapatkan pendamping hidup!”
“wakakakaka…..”
Aku tertawa ngakak
“oi, logikanya tidak seperti itu. Aku tak mau membahas itu. Rasanya tak ada hubungannya dengan apa yang kita bicarakan ini. Aku sudah punya rencana dan strategi untuk itu, tapi ayolah….jangan buat sebuah proses mencari pendamping hidup kau kerdilkan maknanya.”
“ok, kita tak akan membahas itu. Tapi coba kau lihat temanmu. Teman-temanmu kan seumuran denganmu. Kurasa pemikiran mereka tak akan seekstrem apa yang dilakukan oleh anak SMA tadi. Mereka selalu berdua, bersama mendiskusikan banyak hal, tapi aku sering melihatmu tak berada di sana. Bahkan dosenmu sampai bilang kau selalu sendiri saja.”
“tunggu kau juga harus lihat apa yang dilakukan temanku dan apa yang dikatakan oleh dosenku.”
“ah, kau terlalu banyak mencari alasan untuk melakukan sebuah pembenaran”
“bukan, aku hanya mempertahankan apa yang menurutku pantas dan sesuai dengan apa yang aku yakini. Kau tak akan mengerti akan hal ini.”
“ok…ok….apa yang ingin kau beri tahu padaku tentang mereka”
“aku punya teman baik. Dulu aku dan dia satu kelompok dalam acara pelantikan kader inti Gamais. Kau tahu, kan Gamais?”
“ya tahulah. Aku juga banyak tahu apa yang kau tahu.”
“dia menjadi ketua kelompok kami. Dia bahkan menjadi mas’ul dalam pembinaan lanjut setelah pelantikan itu. Dia menjadi ketua kelompok mentoring kelompokku. Dia kuanggap orang yang hebat, pemahaman islamnya pasti di atasku. Akan tetapi kini kulihat dia jauh berbeda. Lama kami tak bertemu, suatu hari kami bertemu di kantin salman bersama seorang wanita. Entah siapa. Hai,der! Ia menyapaku. Aku cukup merasa aneh karena biasanya dulu dia selalu menyapaku dengan ucapan salam sembari menunjukkan senyumannya. Tapi saat itu ia menyapaku biasa saja, datar.”
“aku anggap masih wajar itu”
“sebentar aku belum menyelesaikan ceritaku. Yang membuatku kaget, dia memegang tangan cewek itu. Aku terkesiap. Dengan asyiknya dia ngobrol dengan cewek itu seolah aku tak ada di depannya.”
“mungkin dia sudah menikah. Kan banyak tuh temen-temenmu yang udah pada ngebet nikah.”
“entahlah. Tapi tak ada hal yang dapat meyakinkanku akan hal itu. Pada peristiwa itu aku rasa ia berbeda dengan yang dulu. Maksudmu seperti itu aku agar tidak sendiri?”
“itukan salah satunya.”
“tapi aku tak bersepakat dengan itu!!!”
“baik…baiklah…aku tak mau berdebat tentang itu. Tapi apakah kau yakin dengan kedinginanmu itu kau akan tahan dengan suasana seperti ini?”
“pada saatnya nanti kau akan tahu jawabannya”
“ah, lagi-lagi kau mencari alasan”
“hey, sudah ku bilang, kan di awal tadi….”
“baiklah aku tak akan membuatmu marah”
“kurasa cerita itu tak mampu membuatmu diam. Aku punya teman lagi. Dia kakak seniorku. Dulu dia yang menyambutku pertama kali di institut ini. Kau tahu bagaimana dia menyambutku sebagai mahasiswa baru?”
“apa? Tapi pasti tak penting bagiku”
“dia bersamaku, bersama kami, melaksanakan shalat ashar berjamaah. Ia menjadi imam. Kulihat dulu penampilannya sangat menyejukkan. Wajahnya terlihat memancarkan ketenangan. Aku masih ingat pesannya dulu kepadaku dan teman-temanku, jangan menyerah berada dalam masalah, ini adalah tantangan kalian, perjuangkan apa yang kalian pilih dan menurut kalian benar. Kurang lebih pesannya begitu. Aku masih ingat pesan itu sampai sekarang. Aku merasa bersyukur bertemu sosok yang demikian memesona saat aku pertama kali menginjakkan kaki di institut ini. Akan tetapi kekagumanku padanya kini musnah. Ia telah mengkhianati teladan yang ia bangun sendiri saat pertama aku bersamanya.”
“mengapa?”
“ia kini jauh dari hal-hal yang dulu aku temui. Kini ia tampak menjenuhkan bagiku. Suatu ketika saat kami pulang dari perjalanan kuliah lapangan, kulihat ia duduk sekursi dengan seorang cewek, cewek itu temanku.”
“ah, wajar, kan belum ada apa-apa itu… kau cemburu, ya?”
“hey…hey…yang begitu tak menarik minatku. Akan tetapi tak sewajarnya ia begitu. Tapi yang membuatku kaget adalah ketika ia mengusap pipi cewek itu. Cewek itu dengan nyaman menyandarkan kepalanya. Kemudian kakak senior itu berujar, tidur ya, dek. Rasanya saat itu adalah saat termuak aku melihatnya.”
Nafasku tertahan. Menahan kebencian. Kenangan indah dulu, kini telah menjadi mimpi buruk bagiku terhadapnya.
“ia telah berubah. Kini ia lebih sering mengucapkan kata-kata kotor. Bahkan aku sempat mendengar pengakuan rasa bersalahnya terhadap temanku itu, maafkan kakak yang sering lupa shalat subuh untuk mendoakanmu. Kedengarannya perhatian atau permintaan maaf yang tulus, tapi sayang itu dibungkus dengan bau busuk”
“ah kau terlalu berlebihan. Tak pantas kau menilainya seperti itu”
“lalu apakah kau juga pantas menilaiku seperti tadi? Padahal apa yang kau nilai tentangku belum benar adanya. Aku menilainya karena berdasar apa yang aku lihat. Naif sekali, kau!”
“sudahlah tak ada gunanya begini. Toh, aku menginginkanmu tak seperti ini. Banyak cara untuk bisa berdua atau bersama-sama, tapi tak seekstrem seperti yang kau ceritakan barusan.”
“aku tak yakin dengan pernyataanmu. Kalau kau menginginkan aku tak sendiri tiap beraktivitas, tiu juga sering aku lakukan, cuman aku mencoba menghindar dari kesia-siaan, dan dari keinginan busukmu terhadapku”
“mengapa kau berprasangka buruk padaku?”
“sudahlah aku tak mau berpanjang kata, aku tak mau mempersoalkan hal yang sia-sia. Berhentilah!”
Dia dan aku terdiam. Malam semakin sunyi, hanya cahaya itu yang menjadi teman dialog kami.
“apakah itu tak cukup membuatmu memahamiku?”
“setidaknya kau belum mau juga membuka diri pada orang lain. Aku yakin kau orang hebat, mengapa tak kau tunjukkan apa yang kau kemampuan yang kau miliki pada orang lain?”
“jangan mengalihkan maksud pembicaraan. Ku yakin tujuan utamamu padaku bukan itu!”
“baiklah…aku pikir kau keras kepala”
“aku tak terima”
“aku pikir apa yang terjadi pada teman-temanmu itu wajar saja. Banyak kok sekarang yang seperti itu. Coba bukalah dirimu, aku yakin kau bisa lebih baik dari mereka.”
“dengan mengikuti perilaku mereka? Heuh! Untuk saat ini, itu tak menarik minatku sama sekali.”
Kami terdiam kembali. Aku mencoba mengendapkan kata-kata yang barusan aku katakan. Aku mencoba menguatkan itu dalam hatiku.
“kekecewaanku lantas tak sampai di situ”
“kau ingin bercerita lagi?”
“ya, supaya kau lebih mengerti. Aku mempunyai teman, yang aku kira aku dan dia memiliki kecenderungannya yang sama. Kami diproyeksikan untuk mengurusi LDPS (lembaga dakwah program studi). Ku ketahui latar belakangnya juga dari pesantren. Makin membuatku mantap untuk bersama-sama menjalankan LDPS setahun ke depan. Aku semakin yakin saat ia memintaku membantunya.”
“ia laki-laki?”
“tentu. Maksudmu?”
“ah, tidak,”
“aku dengar ia rajin mengikuti tatsqif rutin. Kenal baik dengan beberapa aktivis Gamais. Tapi entah bagaimana mulanya, aku juga jadi muak melihat tingkahnya,”
“kau terlalu cepat menilainya”
“kau akan tahu mengapa aku seperti itu”
Angin berhembus pelan malam itu. Daun-daun bergesekkan. Rasanya dingin mulai merasuki tulangku.
“ini diawali ketika ia mundur dari aktivitas LDPS, mungkin ia kecewa. Tapi pelarian dari kekecewaan itu yang membuat ia malah keluar total dari aktivitas aku dan dia sebelumnya”
“maksudmu?”
“ia kini juga berubah. Pernah aku main ke kosannya. Kulihat beberapa CD film yang covernya menampilkan wanita seronok. Aku terdiam melihat itu. Ia sekarang jadi sering marah. Perkataannyapun tak lagi bersahabat dengan telingaku. Kata-katanya jauh dari yang aku dengar dulu. Dan kini ia sedang mendekati kakak seniornya. Entahlah itu juga aku dengar dari teman-temanku yang lain. Tapi kulihat ia memang sering jalan berdua, sering nonton berdua juga. Aku kehilangan teman-teman seperti dulu. Aku tak mampu berbuat apa-apa karena aku sendiri.”
“nah coba kalau kau bergabung bersama mereka!”
“kalau mengikuti apa yang mereka lakukan tak sudi bagiku”
Aku naik pitam, dingin malam sudah tak ku pedulikan lagi.
“dengar ya, aku tak antisosial seperti yang kau kira, aku manusia biasa. Aku butuh interaksi. Aku butuh manusia lain dalam perjalanan hidupku, namun caranya aku ke sana yang tidak bersepakat dengan kehendakmu terhadapku. Aku tahu apa yang terjadi padaku. Aku pahami itu”
“bagaimana jika orang lain menilaimu persis seperti aku menilaimu?”
“sayang sekali. Berarti mereka telah menghabiskan pikirannya dengan dugaan-dugaan yang tak ada gunanya.”
“itu bukan alasan logis”
“ya terserah padamu. Rasanya bagiku tak ada gunanya orang lain berpikir tentangku seperti apa yang kau pikir tentang aku. Aku kira mereka buang-buang waktu dan energi saja. Tidak produktif dan tidak ada manfaatnya. Tapi aku akan tunjukkan bahwa aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Ah,,,mengapa aku jadi menduga-duga tak jelas begini”
Ku rehat sejenak dari kata-kataku yang tadi meluncur deras. Ia pun demikian.
“begini, aku berpikir positif saja. Aku yakin pasti lebih banyak orang lain yang tidak berpikir sepertimu terhadapku, dibanding orang yang berpikir sama sepertimu terhadapku. Dan aku rasakan itu memang.”
“seberapa lama kau tahan dengan keadaan seperti ini?”
“mengapa kau bertanya begitu? Aku sendiri nyaman dengan kondisi ini!”
“wajar, kan?”
“jauh dalam lubuk sukmamu terdalam, tidakkah saran-saranmu itu bertentangan dengan hati kecilmu? Kau berlaku itu padaku karena kau harus menepati janjimu? Kau harus menunaikan tugasmu? Kau harus menebus sesuatu yang akan kau hadapi nanti dengan konfrontasi seperti ini?”
Hening, kulanjutkan kembali perkataanku.
“kalau kau menginginkan aku membunuh kesendirianku dengan cara-cara semacam itu, maka itu hanya menjadi mimpimu belaka. Aku tak seperti itu. Aku yakin Yang Di Atas Sana lebih tahu apa yang baik bagiku dan senantiasa melindungiku.”
“aku tak bermaksud begitu, percayalah!”
“pergilah dariku, percuma saja bila kau masih di sini. Tak ada artinya kau terus memaksaku dengan kehendakmu.”
“aku tidak memaksa. Itu terserah padamu”
“ah…itukan menurutmu. Aku tahu siasatmu. Sekali ku lengah itu celah bagimu. Sudahlah tak ada gunanya kau tetap di sini. Pergilah!”
Aku menyadari benar mengapa aku begini, namun aku juga tak akan terus-menerus larut dalam keadaan sepi. Aku juga berteman. Aku sering interaksi membangun jaringan. Hanya sayang mungkin banyak orang yang tak melihat itu. Tapi kukira itu bukan menjadi masalah bagiku.
Malam hening. Kesendirian kembali menemaniku. Mungkin ia telah pergi. Gesekan daun kembali merajai malam, cahaya lampu itu masih terpantul sempurna dari kolam ke arahku. Malam semakin larut. Aku masih sendiri. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka.
“assalamualaikum…”
Akh, ternyata teman sekamarku.
“alaikum salam. Abis dari mana?” tanyaku
“saya mau ini euy,..mabit, lupa bawa jaket.”
Ia kemudian memakai jaket dan mengambil tas, tak berapa lama ia kemudian meninggalkan kamar.
“assalamualaikum…”
“alaikum salam”
Asramapun kembali sepi.
Dari Nomer Tiga
Berdua dengan kawan menonton siaran tentang Pilgub di Seluruh Indonesia…
Kami berkomentar,,,
“Harusnya sih gak usah diexpose besar-besaran kayak gini”
“Maksudnya?”
“Ya walaupun P*S menang di beberapa daerah, jangan sampai diekspose besar-besaran kayak gini!”
“Oh, justeru itu bagus yang heboh tuh harus diekspose besar-besaran. Supaya yang lain liat!”
“Nah, justeru itu! Ntar kalo udah ada yang liat kayak gini, bahkan sampai dibikin talkshow P*S menang di beberapa daerah pemilihan, akan dibikin siasat untuk menghancurkan (kita/mereka)”
“Maksudnya?”
“Ya kalo si P*S itu menang di beberapa daerah untuk pilkada, janganlah diekspose besar-besaran kayak gini!”
“Lho, bukannya bagus?!”
“Nah, justeru itu kelirunya. Yakin deh akan ada pihak yang merasa tidak senang dengan ekspose besar-besaran **S. Mereka pasti akan bikin taktik atau siasat untuk menghancurkan reputasi ataupun apalah dari P** ini”
“Justeru bagus diekspose besar-besaran kayak gini biar nunjukin! Masalah entar da yang bersiasat buat menghancurkan reputasi P**, silakan aja.. Bukankah semakin tinggi pohon maka anginnya akan semakin besar”
“Saya mah mendingin si P** ini milih jadi pohon yang proporsional tingginya, tapi rimbun. Bisa digunakan buat berteduh, kan? Bisa ngambil buahnya gak terlalu tinggi, kan? Ya daripada tinggi-tinggi walaupun rimbun tapi gak bisa bikin buat berteduh. Walaupun berbuah lebat tapi pohonnya tinggi, kita sulit merasakan/mengambil enaknya buah tersebut, kan?”
“……”
“Filosofinya harus kayak gitu…”

