Life Observer

world in my arms

Archive for the ‘Keresahan’ Category

Shalatku, Shalatmu, Shalat Kita, dan Shalat Mereka

with one comment

Masihkah kita merasa biasa-biasa saja ketika kita meninggalkan shalat? Padahal sabda Rasul SAW menyatakan bahwa shalat adalah amal yang akan diperiksa pertama kali ketika kelak di akhirat (H.R. Tirmidzi). Shalat ibarat gerbang awal terhadap pemeriksaan amal selajutnya. Lalu apakah dengan itu kita masih merasa biasa-biasa saja?

Secara pribadi, mungkin kita pernah meninggalakan shalat akibat kita kecapean atau terlupa. Bagaimanakah perasaan yang timbul? Apakah biasa-biasa saja? Kalau begitu mungkin shalat kita belum menjadi sebuah pemenuhan kebutuhan spiritual. Akan sama halnya dengan orang yang bahkan selama hidupnya jarang sekali menjalankan shalat (kalau tidak pada hari Jumat), terus kemudian perasaannya biasa-biasa saja, tentu tidak ada rasa menyesal ataupun niat untuk tidak meninggalkan shalat lagi.

Kawan, niatkan shalat sebagai amal dasar di dunia ini untuk kita mendapatkan pahala. Sehingga ketika kita diri ini lalai meninggalkan shalat dalam kondisi kecapean ataupun terlupa (mudah-mudahan kita dijauhkan dari kasus semacam ini), ada perasaan menyesal dan memohon ampun kepada Alloh SWT.

Sering saya pribadi merasa bertanya-tanya apakah orang yang diamanahi memegang kebijakan publik apakah sering melalaikan shalatnya? Dengan aktivitas demikian sibuknya melayani rakyat, membuat peraturan, menentukan kebijakan, apakah masih ada di dalam pikiran mereka terbersit untuk rehat sejenak beristirahat kemudian menunaikan shalat. Tentu mungkin dalam perjalanannya shalat mereka ada saja yang tidak khusyuk, karena harus dituntut aktivitas selanjutnya. Namun alhamdulillah dengan aktivitas yang insya Allah berpahala besar jika dijalankan dengan ikhlas, adil, dan kompeten, para pemegang kebijakan publik atau abdi negara itu masih tetap menjalankan shalatnya.

Jangan seperti artis kebanyakan kini. Saya pribadi yakin walaupun mereka muslim, banyak sekali yang jarang shalat atau bahkan tidak pernah shalat. Model artis begini apabila kita tanya mengapa tidak menjalankan rukun islam yang kedua ini secara konsisten, ada tiga tipe:

  1. Tipe Pertama: ah, saya masih belum siap untuk shalat, hati saya masih belum bersih, aktivitas saya masih banyak, mungkin nanti seandainya hidayah dari Yang Di Atas turun kepada saya.

Tanggapan: artis seperti ini perlu lebih banyak diarahkan. Shalat itu merupakan aspek dasar amal kita, dan proses menjalankannya tidak perlu menunggu hati bersih atau turunnya hidayah.

  1. Tipe Kedua: yang penting hati saya bersih tidak kotor, dan banyak beramal untuk orang miskin. Buat apa shalat kalau misalnya hatinya masih busuk?

Tanggapan: jawaban seperti ini selain yang terlontar dari artis juga mungkin terlontar dari orang kaya yang baik, atau orang desa yang pendidikan agamanya kurang, tapi sok-nya luar biasa. Orang seperti ini juga harus mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai hakikat shalat.

  1. Tipe Ketiga: buat apa shalat? Toh, tanpa shalat aku tetap menjadi kaya.

Tanggapan: orang seperti ini perlu dikembalikan ke jalan yang benar

Ya begitulah, sekedar ingin berbagi keresahan hati ini dengan kawan-kawan sekalian. Bolehkah aku bertanya? Bagaimana dengan shalatmu, kawan?

Written by Deri

Januari 29, 2009 at 2:27 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

Remaja Peduli

with 3 comments

Ini adalah pengalaman yang kurang mengenakan mungkin bagiku. Sekaligus menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam. Ceritanya gini, hari itu kira-kira pukul setengah enaman-lah. Aku berniat makan di warung Ayam Cola Gelap Nyawang. Sendiri, tapi memang karena ingin sendiri, rasanya perut ini tak bisa kompromi kalau diajak makan selepas maghrib nanti. Tanpa pikir panjang aku keluar kamar 405 turun sebanyak empat anak tangga menuju ke bawah (oiya kebetulan kejadian ini aku alami saat aku masih berada di Asrama Salman). Tanpa berlama-lama aku menuju langsung menuju warung Ayam Cola itu, mengingat memang warung itulah yang saat aku tiba masih kosong. Ku pesan langsung menu yang ada. Berpikir sejenak, langsung kupilih menu yang ingin ku makan. Ku minta cepat dibuatkan kepada bapak-bapak sang penjual. Huh, lapar dan cape sekali rasanya. Sesaat aku duduk menghadap jalan Gelap Nyawang. Agak kaget, terlihat di depanku ada sepasang anak SMA cewek-cowok duduk berhadapan dan agak sedikit merapat. Aku sih mencoba berpikiran positif gak berburuk sangka. Mungkin kedua anak itu sedang mendiskusikan pelajaran sekolah atau hanya sekedar bercerita. Lagian aku juga tak terlalu memperhatikan, karena memang aku sudah sangat kelaparan, dan makan siang (yang dimakan di waktu sore) telah tersaji di hadapanku. Akhirnya dengan agak apatis aku hanya mengarahkan pandanganku pada nasi dan Ayam Cola yang terhidang di atas mejaku. Mengingat perut tak bisa lagi dibuat bertahan, akhirnya ku serang juga itu Ayam Cola dengan buasnya.

Tapi lama kelamaan pemandangan yang kulihat di depanku itu malah membuat makanku menjadi tak berselera. Bagaimana tidak, kedua cewek cowok itu malah semakin merapat, yang cowok malah merangkul pinggang si cewek, walaupun si cewek agak menolak-nolak manja (huuueeekkk!). Aku tak mau menjelaskan lebih detail, yang jelas pemandangan seronok (jijik) itu. Ditambah lagi gerak muka si cowok yang nyosor ke si cewek, sungguh membuatku untuk cepat-cepat menyelesaikan makananku ini.

Tak berapa lama, aku menyelesaikan makanku. Langsung kubayar dan aku bergegas cepat meninggalkan Gelap Nyawang. Muak rasanya aku melihat itu. Aku mungkin salah, karena telah membiarkan kemaksiatan terjadi di depanku, tapi ah sudahlah, aku keburu ilfil ketika melihat pemandangan itu.

Aku jadi kepikir, kok bisanya kebanyakan remaja sekarang aktivitasnya seperti itu. Tak jauh dari budaya hedonis, matrealis, dan dangkal dalam berpikir mereka. Aku juga menyayangkan aktivitas mereka. Malah bergerombol tidak jelas ketimbang berdiskusi tentang pelajaran atau isu-isu aktual, malah ikut geng motor ketimbang aktif di kegiatan ekskul. Apakah kebanyakan remaja sekarang ini seperti itu? Saya jadi kaget, dulu ketika masih SMA atau SMP dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya biar bisa mendapat nilai sembilan untuk matpel matematika, fisika, kimia dan biologi kemudian mendapat ranking lima besar, atau bagaimana menjadi juara di ajang-ajang seperti cerdas cermat atau lomba karya tulis. Itulah yang saya pikirkan dulu, aktivitas saya dulu. Khawatir juga melihat aktivitas remaja sekarang ini. Walau sebenarnya saya tak menyangkal masih banyak remaja yang aktivitasnya malah mendatangkan manfaat, baik bagi diri mereka sendiri ataupun bagi lingkungan sekitar. Dan saya pikir aktivitas seperti ini pastilah banyak di sekitar mereka.

Saya kemudian jadi teringat nasyid yang berjudul remaja peduli, dari sapa gitu ya lupa, kalau tidak salah Edcoustic

Remaja peduli pintar dan mandiri

Giat berprestasi

Kupersembahkan untuk illahi…

Bersatu berjihad dalam dakwah islam

Di atas panji Al Quran dan As Sunah

Dari penggalan lirik lagu di atas sebenarnya jelas bahwa remaja seperti itu lebih punya nilai. Remaja yang selalu mengajak kepada kebaikan dan menarik simpul-simpul kemandirian dalam setiap aktivitasnya. Prestasi ia jadikan sebagai cermin diri untuk ajakan kepada kebaikan. Itulah cermin remaja yang diidamkan masa kini, remaja yang aktivitasnya selalu mendatangkan manfaat.

Written by Deri

Januari 29, 2009 at 2:21 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

Topik Tugas Akhir Sayah

with 2 comments

Berhubung sudah tingkat 4, aktivitas ini wajib dibahas dan dikerjakan (halah). Tugas akhir pokonamah. Maka mulailah saya mencari tema buat tugas akhir yang akan saya kerjakan. Tapi pada intinya, saya ingin tugas akhir saya nanti membahas mengenai hidrometeorologi, mengapa? Karena saya rasa aplikasi dari ilmu ini sangat besar, gak ribet, dan orang awampun saya pikir bisa memahaminya. Aplikasinya banyak, bisa dipake dalam bidang konstruksi (irigasi, pembangunan pemukiman, jalan raya, dll), eksplorasi (penentuan recharge area, geothermal, dll), pertanian dan kehutanan (yang ini mah jelas banget aplikasinya). Apakah itu hidrometeorologi? Ini merupakan cabang dari ilmu meteorologi lingkungan yang lebih membahas mengenai air (bener gt keknya J).

Ok, dan sayapun mengambil tugas akhir dengan judul:

Pemetaan Daerah Potensi Resapan Air di Indonesia Sebagai Upaya Mendukung Aktivitas Reforestasi Lahan Kritis

Cukup dapat dipahami toh? Intinya saya ingin mendapatkan daerah mana saja yang cukup potensial untuk dapat di-reforestasi dari aspek hidrologinya (dalam hal ini daerah resapan air). Latar belakang kenapa saya memilih itu kayaknya gak usah disampaikan deh, entar malah kayak proposal TA. Lebih lanjut inilah metodologi yang rencananya akan dikerjakan (ingat metodologi bukan algoritma pengerjaan, tapi perlakuan terhadap data):

Keterangan:

GS: ground water storage

PET: potential evapotranspiration

Landuse: Tata Guna Lahan

Dengan judul tersebut saya mencoba untuk presentasi di depan semua temen2 Meteorologi 2005 dan dosen kolokium saya. Saya merasa percaya diri untuk mencoba maju, apalagi pak Armi Susandi (kaprodi saya) menyatakan bahwa judul ini bagus, dan bisa diajukan sebagai upaya dalam adaptasi perubahan iklim, katanya bisa juga dijadikan proyek riset (hehehe). Presentasipun saya jalani. Tapi apa mau dikata ternyata judul yang saya ajukan kurang mendapat respon yang nyambung dari dosen kolokium saya. Beginilah kira-kira kata beliau

  1. Resapan air di Indonesia? Terlalu luas kalau begitu, apalagi karakteristik tiap resapan air di Indonesia berbeda-beda.
  2. Peta Landuse juga kalau se-Indonesia terlalu luas, beda-beda juga.

Alhasil saya merasa kurang yakin dengan judul ini. Merasa sotoy juga, hehehe. Tau ah, mengingat saat itu saya malah jadi kurang yakin dengan kemajuan proposal TA saya. Akhirnya judul ini hanya menjadi angan-angan semata saja, dan kayaknya gak akan jadi judul TA saya.

Lanjut ke kolokium tahap dua, setelah berkonsultasi dengan asdos, akhirnya judul proposal TA saya menjadi:

Studi Paleoklimatologi Berdasarkan

Ukuran Butir dan Ketebalan Sedimentasi

Yang ini pasti gak ngerti. Soale ini topik langka banget, di Indonesia belum ada yang membahas mengenai paleoklimatologi, kalau paleontologi sih ada. Apa itu paleoklimatologi? Sederhananya ini adalah ilmu yang mempelajari karakteristik iklim masa lampau (masa lampau: berjuta-juta atau bermiliar-miliar tahun yang lalu, zaman purba mereun). Cuman saya hanya membahas aspek curah hujan saja. Ya, menceritakan variasi curah hujan masa lampaulah dikaitkan dengan sedimentasi, jadi gak ama waktu, soalnya zaman dulu kan belum ada penanggalan (penahunan ding J). Dan ini adalah metodologinya:

Selidik punya selidik, katanya apa yang saya kerjakan ini akan sangat berguna untuk dunia ekplorasi pertambangan (cuman saya lupa di mananya). Ya gak apa-apalah yang penting ngerjain, masalah entar ada atau tidaknya aplikasi untuk dunia eksplorasi, saya mah gak ambil peduli dulu.

Dan akhirnya topik inilah yang saya akan kerjakan. Lega juga, walau sebenarnya belum begitu mengerti apa yang harus dikerjakan karena literaturnya bener2 nyaris gak ada, kebanyakan jurnal hanya melihat keterkaitan antara debit sungai dengan laju sedimentasi saja, akan tetapi untuk meliha kaitannya dengan curah hujan, saya sendiri belum mendapatkannya (ada yang bisa bantu? J)

Tapi walaupun akhirnya yang akan saya kerjakan adalah mengenai paleoklimatologi, tapi saya masih berkeinginan untuk tetap mengambil topik yang pertama. Mengapa? Karena itu ide murni saya sendiri, gak pake konsultasi2an (makanya keliatan sotoy). Rencana topik reforestasi ini akan saya konsultasikan dengan pak Ari Muhammad (orang WWF Indonesia, cuman lupa jabatannya, koordinator adaptasi perubahan iklim kalau gak salah). Ya moga2 aja cepat2 mendapat kepastian, soalnya semester dua udah mau masuk nih bentar lagi. Cemonlah…..cemon…!!! J

Written by Deri

Januari 22, 2009 at 3:07 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

Mencerna Amarah dengan DIAM

with 9 comments

Pernah menerima cercaan, hinaan, kata-kata kasar dari orang lain?

Pernah menerima amarah dari orang lain?

Cernalah dengan DIAM

Kemudian pikirkan, apakah kau pantas membalas itu dengan ungkapan yang senada?

Tidak sepertinya…

Dengan diam kita akan menjadi lebih empati, peka, memahami, dan memupuk kesabaran ke derajat yang lebih tinggi. Dengan diam, walaupun hati sakit menerima cercaan itu, tapi percayalah ia akan menjadi benteng kokoh yang menopang betapa lemahnya diri kita…

Teman, tidakkah kita ingin hal-hal positif tetap bernaung dalam hati ini?

Kalau begitu, marilah…

Nb.: Hasil renungan setelah saya berkonfrontasi dengan beberapa orang. Terdengar berlebihankah? Saya rasa tidak. Pembelajaran itu kita bisa ambil hikmahnya dari mana saja. Maknanya jangan dipersempit. Karena keikhlasan itu ternyata menjadi obat kesusahan kita. Insya Allah

Written by Deri

Desember 2, 2008 at 9:56 am

HIDUP TAK SESINGKAT ITU, KAWAN!

with one comment

“Gak terasa yah, kemarin kita baru saja lulus SMA, sekarang udah mo lulus kuliah? Hidup kok rasanya cepet banget, yak?”

Mungkin sering di antara kita berujar seperti itu. Merasa waktu tak begitu lama, merasa hidup tak lagi bisa dinikmati karena begitu cepatnya. Dalam beberapa kesempatan kadang kita mengabaikan hal ini. Kita beranggapan bahwa waktu yang semakin cepat berlalu ini adalah tanda akhir zaman semakin dekat. Akan tetapi bukan hal itu sebenarnya yang menjadi esensi jawaban.

Ada sebab mengapa kita mengucapkan atau bahkan mengalami kejadian seperti itu. Beberapa orang meyakini apabila kita tidak melewati setiap kejadian, setiap langkah, setiap tindakan yang kita lakukan tidak dengan PERASAAN maka sebenarnya kita telah mengabaikan setiap proses yang kita lewati itu. Maka apa akibatnya ketika kita mengabaikan setiap proses atau perjalanan dalam hidup tanpa dimaknai dengan sungguh-sungguh? Ya, akhirnya kita melewati hidup ini dengan datar-datar saja. Tanpa ada naik turunnya. Tanpa ada hal luar biasa yang terjadi. Lalu bagaimana alur dari kehidupan yang datar-datar saja? Tentunya adalah kehidupan yang begitu cepat dilewati. Begitulah keberjalanan alaminya. Tiap orang pasti meyakini itu. Bila dalam setiap proses hidup dimaknainya dengan perasan yang mendalam, setiap waktu dalam pengalaman hidup akan menjadi sangat berharga. Sehingga tiap rentang waktu dalam hidup ini akan menjadi kenangan yang selalu tersimpan dalam pikiran kita. Dan tentu waktu yang penuh kenangan dalam hidup tak akan dilalui tanpa rasa. Tak akan dilalui dengan sedemikian cepatnya. Sayang memang kalau kita sudah lima tahun berkuliah—misalnya—akan tetapi kita tak merasakan esensi dari kuliah itu sendiri, atau kita merasa kehidupan di kampus dilalui dengan datar-datar saja sehingga mengakibatkan alur waktu yang demikian cepat dan tak terasa.

Lalu bagaimana dong agar perjalanan waktu dalam hidup kita tak sedemikian cepatnya. Supaya kita dapat menjadikan tiap detik dalam hidup ini menjadi memori yang selalu ter-save dalam pikiran ini. Demikian adanya kita berharap setiap kejadian, pengalaman, dan perilaku yang kita alami selalu teringat dalam setiap kita berpikir. Menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan.

Kita harus memaknai setiap proses dari kehidupan ini. Setiap kegiatan, perilaku, ataupun apa yang kita kerjakan selalu memberikan sesuatu yang berharga dalam perjalanan hidup kita. Yang terpenting kita harus menggunakan perasaan dalam setiap kita berpikir, setiap kita bertindak. Maka setiap momen itu akan tertanam indah dalam memori kita, dan dengan kekuatan perasaan itu kita tak akan menyadari bahwa hidup ini terlalu cepat. Dengan memiliki perasaan yang peka pada setiap kejadian yang kita maknai akan memberikan pengaruh positif dalam setiap pengambilan tindakan kita.

Tak ada yang cara yang lebih baik dalam menjalani hidup ini selain kita menikmati berbagai proses di dalamnya. Maka cara tersebut akan terasa lebih memberikan semangat diri dan keikhlasan hati. Orang lain mungkin beranggapan biarlah hidup ini mengalir begitu saja. Akan tetapi kalau dibiarkan mengalir begitu saja rasanya kita hanya menjalani hidup yang biasa saja, tanpa ada semacam kejutan ataupun hentakan di setiap prosesnya. Lalu untuk apa hidup jika kejadiannya seperti itu saja?!

Written by Deri

November 14, 2008 at 9:27 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

Tentang Kesendirian dan Berduaan

with 4 comments

Selepas shalat isya dan di tengah keheningan asrama, ku terduduk di atas kursi geser di kamar 405. Biasanya abis isya di asrama sepi, baru ramai lagi menjelang tengah malam. Entah apa keperluan mereka abis isya ini, mungkin ada yang mencari makan, mungkin ada yang mabit, atau ada liqa? entahlah aku tak mau peduli. Sudah menjadi hal yang biasa kalau abis isya gini aku menjadi orang yang kesepian di asrama (ehem). Biasanya pas dulu menjadi senator, aku sering keluar malam, rapat atau sidang, de el el. Tapi kini aku ingin menikmati malam di kamarku sendiri. Dari lantai empat ini aku menuju ke beranda kamar. Aku duduk di kursi yang ada di sana. Di depanku ada sorot lampu yang cukup terang. Pandangan ku lemparkan ke arah depan terlihat kesepian taman ganesha, hanya sesekali gesekan daun memecah kesenyapan di sana. Ku mencoba melirik ke bawah, kulihat hanya ada beberapa orang lalu lalang di depan kantin, biasanya kalau siang jalan itu ramai sekali. Udara yang sejuk, pendar cahaya semakin membuat malam ini terasa nyaman. Kilau cahaya itu terpantul sempurna ke dalam kolam yang ada di taman ganesha itu. Berkas sinarnya menembus sejuk ke pelupuk mata ini. Angin yang lembut bertiup sedikit demi sedikit menghangatkan malam.

Kemudian kutengadahkan pandang ke atas. Langit hitam pekat yang indah ada berjuta bintang di sana. Tepat di tengahnya bulan sabit terpancang sempurna. Kelip bintang itu menemani gemerlap bulan sabit yang nampak kesepian. Ku dengar alam bernyanyi dalam heningnya. Meski malam, aku dapat mendengar itu dengan jelas. Suara jangkrik mungkin, ataukah katak, entahlah rasanya begitu membuat tentram dalam relung sukmaku.

Ya di beranda ini aku sering menghabiskan malam. Sering bergumam, sering menemukan keindahan dalam sebuah inspirasi. Sering menuntunku dalam sunyi di tengah suasana sepi asrama. Dan berjuta cahaya diiringi suara yang harmoni menemaniku berkontemplasi.

“sendirian lagi, nih?”

Tiba-tiba terdengar suara, entah siapa,apa dari mana, aku tak peduli. Aku teralun merasakan nyamannya malam.

“iya,” jawabku pendek

“ah, apakah kau tak bosan selalu menikmati kesepian dengan kesendirian?”

“apa salahnya?”

“tidak aku begitu mengkhawatirkanmu, kau kurasa orang yang aneh, ke mana-mana sering kulihat sendiri. Ke kampus sendiri, di kamar sering sendiri, belajar sendiri, jalan-jalan sendiri, bahkan makan di warung atau di kantinpun kau lebih banyak terlihat sendiri. Kau antisosial, ya?”

“ah, tidak juga”

“lalu?”

“ya, mungkin karena urusanku sebenarnya belum melibatkan orang lain. Mandi juga harus sendiri, kan?”

“kau tak bisa begitu!!!”

“apa pedulimu? Kau siapa?”

“itu tidaklah penting. Suatu saat mungkin engkau akan mengutuk arti kesendirian. Kenapa kau tidak seperti anak-anak SMA yang sering ada di gelap nyawang1 itu? Meraka selalu beramai-ramai kalau makan. Mengapa tidak seperti teman-temanmu? Mereka selalu bersama-sam. Kalau jalan-jalanpun mereka sama-sama”

“tapi lihat dulu apa yang mereka kerjakan!”

“maksudmu?”

“coba kau lihat apa yang mereka lakukan. Jauh dari apa yang menjadi kebiasaanku bahkan mungkin dien-ku. Anak SMA itu kalau makan di gelap nyawang kulihat mereka malah asyik ngobrol berduaan, dempetan dengan lawan jenis, pegangan tangan, merokok pula. Ya Alloh, selamatkan negeri ini dari kebobrokan remajanya!”

“ah kau terlalu berlebihan, aku tak menyuruhmu seperti itu. Kau bisa saja ajak temanmu yang lain”

“aku selalu melakukan itu kalau aku ada keperluan dengan temanku. Tidak hanya keperluan, kalau mungkin aku dan dia lama tak jumpa, kami sering ngobrol lama dan bercerita. Kau lihat apa yang aku lakukan lebih memiliki dibanding anak SMA yang tadi.”

Kemudian aku dan dia terdiam. Sesaat kulanjutkan kembali perkataanku yang tadi terhenti.

“aku punya pengalaman yang kurang mengenakkan dengan anak-anak SMA yang makan di Gelap Nyawang itu. Waktu itu juga abis isya, aku pikir kok ada ya anak SMA jam segini masih berkeliaran, bergerombol pula, mereka berpasangan. Yang cewek pakaiannya, naudzubillah, walaupun pakaian SMA lebih mirip pakaian SD, kecil sekali. Yang cowok juga sama parahnya, tangan yang satu memegang tangan ceweknya, tangan yang lain dipakai untuk memegang rokok.”

Aku menghela nafas. Kemudian aku melanjutkan ceritaku kembali.

“waktu itu kebetulan aku makan di meja kosong yang cukup besar.”

“hanya kau sendiri?”

“iya.”

“tuh, kan”

“diamlah aku lanjutkan dulu ceritanya”

Sejenak terdiam.

“gerombolan SMA itu mendekat ke arah meja tempat aku makan. Aku tak ambil peduli dengan kedatangan mereka. Tapi anehnya mereka malah makin bergerombol di tempat aku makan. Kemudian salah seorang di antara mereka berteriak ke si pemilik warung, mas, gak ada tempat yang kosong,ya? Aku kaget juga mendengar itu. Menyadari hal itu si pemilik warung kebingungan. Kemudian ia memintaku yang duduk di bangku itu untuk pindah ke meja pojok yang masih kosong. Maaf, mas bisa diisi dulu tempat yang di sana? Masih ada yang kosong tuh! Begitu si pemilik warung itu menyuruhku pindah. Tak berapa lama meja yang aku tempati tadi diisi oleh anak-anak SMA. Kulihat mereka malah acuh dengan hal itu.”

“nah itulah akibatnya kau makan sendiri. Coba kalau kau makan berdua, atau bertiga atau ber-berapalah, asalkan tidak sendiri, pasti kejadian itu tak akan terjadi.”

“aku tak menyesali kejadian itu. Hanya aku merasa miris anak SMA kok udah begitu ya? Aku benar-benar terkejut.”

“zaman udah modern, bung! Kalau kau tidak begitu, orang-orang akan banyak yang tidak simpati padamu.”

“tidak juga”

“percayalah, kau jangan menjadi aneh sendiri dengan gayamu seperti itu. Bisa-bisa nanti kau tak akan mendapatkan pendamping hidup!”

“wakakakaka…..”

Aku tertawa ngakak

“oi, logikanya tidak seperti itu. Aku tak mau membahas itu. Rasanya tak ada hubungannya dengan apa yang kita bicarakan ini. Aku sudah punya rencana dan strategi untuk itu, tapi ayolah….jangan buat sebuah proses mencari pendamping hidup kau kerdilkan maknanya.”

“ok, kita tak akan membahas itu. Tapi coba kau lihat temanmu. Teman-temanmu kan seumuran denganmu. Kurasa pemikiran mereka tak akan seekstrem apa yang dilakukan oleh anak SMA tadi. Mereka selalu berdua, bersama mendiskusikan banyak hal, tapi aku sering melihatmu tak berada di sana. Bahkan dosenmu sampai bilang kau selalu sendiri saja.”

“tunggu kau juga harus lihat apa yang dilakukan temanku dan apa yang dikatakan oleh dosenku.”

“ah, kau terlalu banyak mencari alasan untuk melakukan sebuah pembenaran”

“bukan, aku hanya mempertahankan apa yang menurutku pantas dan sesuai dengan apa yang aku yakini. Kau tak akan mengerti akan hal ini.”

“ok…ok….apa yang ingin kau beri tahu padaku tentang mereka”

“aku punya teman baik. Dulu aku dan dia satu kelompok dalam acara pelantikan kader inti Gamais. Kau tahu, kan Gamais?”

“ya tahulah. Aku juga banyak tahu apa yang kau tahu.”

“dia menjadi ketua kelompok kami. Dia bahkan menjadi mas’ul dalam pembinaan lanjut setelah pelantikan itu. Dia menjadi ketua kelompok mentoring kelompokku. Dia kuanggap orang yang hebat, pemahaman islamnya pasti di atasku. Akan tetapi kini kulihat dia jauh berbeda. Lama kami tak bertemu, suatu hari kami bertemu di kantin salman bersama seorang wanita. Entah siapa. Hai,der! Ia menyapaku. Aku cukup merasa aneh karena biasanya dulu dia selalu menyapaku dengan ucapan salam sembari menunjukkan senyumannya. Tapi saat itu ia menyapaku biasa saja, datar.”

“aku anggap masih wajar itu”

“sebentar aku belum menyelesaikan ceritaku. Yang membuatku kaget, dia memegang tangan cewek itu. Aku terkesiap. Dengan asyiknya dia ngobrol dengan cewek itu seolah aku tak ada di depannya.”

“mungkin dia sudah menikah. Kan banyak tuh temen-temenmu yang udah pada ngebet nikah.”

“entahlah. Tapi tak ada hal yang dapat meyakinkanku akan hal itu. Pada peristiwa itu aku rasa ia berbeda dengan yang dulu. Maksudmu seperti itu aku agar tidak sendiri?”

“itukan salah satunya.”

“tapi aku tak bersepakat dengan itu!!!”

“baik…baiklah…aku tak mau berdebat tentang itu. Tapi apakah kau yakin dengan kedinginanmu itu kau akan tahan dengan suasana seperti ini?”

“pada saatnya nanti kau akan tahu jawabannya”

“ah, lagi-lagi kau mencari alasan”

“hey, sudah ku bilang, kan di awal tadi….”

“baiklah aku tak akan membuatmu marah”

“kurasa cerita itu tak mampu membuatmu diam. Aku punya teman lagi. Dia kakak seniorku. Dulu dia yang menyambutku pertama kali di institut ini. Kau tahu bagaimana dia menyambutku sebagai mahasiswa baru?”

“apa? Tapi pasti tak penting bagiku”

“dia bersamaku, bersama kami, melaksanakan shalat ashar berjamaah. Ia menjadi imam. Kulihat dulu penampilannya sangat menyejukkan. Wajahnya terlihat memancarkan ketenangan. Aku masih ingat pesannya dulu kepadaku dan teman-temanku, jangan menyerah berada dalam masalah, ini adalah tantangan kalian, perjuangkan apa yang kalian pilih dan menurut kalian benar. Kurang lebih pesannya begitu. Aku masih ingat pesan itu sampai sekarang. Aku merasa bersyukur bertemu sosok yang demikian memesona saat aku pertama kali menginjakkan kaki di institut ini. Akan tetapi kekagumanku padanya kini musnah. Ia telah mengkhianati teladan yang ia bangun sendiri saat pertama aku bersamanya.”

“mengapa?”

“ia kini jauh dari hal-hal yang dulu aku temui. Kini ia tampak menjenuhkan bagiku. Suatu ketika saat kami pulang dari perjalanan kuliah lapangan, kulihat ia duduk sekursi dengan seorang cewek, cewek itu temanku.”

“ah, wajar, kan belum ada apa-apa itu… kau cemburu, ya?”

“hey…hey…yang begitu tak menarik minatku. Akan tetapi tak sewajarnya ia begitu. Tapi yang membuatku kaget adalah ketika ia mengusap pipi cewek itu. Cewek itu dengan nyaman menyandarkan kepalanya. Kemudian kakak senior itu berujar, tidur ya, dek. Rasanya saat itu adalah saat termuak aku melihatnya.”

Nafasku tertahan. Menahan kebencian. Kenangan indah dulu, kini telah menjadi mimpi buruk bagiku terhadapnya.

“ia telah berubah. Kini ia lebih sering mengucapkan kata-kata kotor. Bahkan aku sempat mendengar pengakuan rasa bersalahnya terhadap temanku itu, maafkan kakak yang sering lupa shalat subuh untuk mendoakanmu. Kedengarannya perhatian atau permintaan maaf yang tulus, tapi sayang itu dibungkus dengan bau busuk”

“ah kau terlalu berlebihan. Tak pantas kau menilainya seperti itu”

“lalu apakah kau juga pantas menilaiku seperti tadi? Padahal apa yang kau nilai tentangku belum benar adanya. Aku menilainya karena berdasar apa yang aku lihat. Naif sekali, kau!”

“sudahlah tak ada gunanya begini. Toh, aku menginginkanmu tak seperti ini. Banyak cara untuk bisa berdua atau bersama-sama, tapi tak seekstrem seperti yang kau ceritakan barusan.”

“aku tak yakin dengan pernyataanmu. Kalau kau menginginkan aku tak sendiri tiap beraktivitas, tiu juga sering aku lakukan, cuman aku mencoba menghindar dari kesia-siaan, dan dari keinginan busukmu terhadapku”

“mengapa kau berprasangka buruk padaku?”

“sudahlah aku tak mau berpanjang kata, aku tak mau mempersoalkan hal yang sia-sia. Berhentilah!”

Dia dan aku terdiam. Malam semakin sunyi, hanya cahaya itu yang menjadi teman dialog kami.

“apakah itu tak cukup membuatmu memahamiku?”

“setidaknya kau belum mau juga membuka diri pada orang lain. Aku yakin kau orang hebat, mengapa tak kau tunjukkan apa yang kau kemampuan yang kau miliki pada orang lain?”

“jangan mengalihkan maksud pembicaraan. Ku yakin tujuan utamamu padaku bukan itu!”

“baiklah…aku pikir kau keras kepala”

“aku tak terima”

“aku pikir apa yang terjadi pada teman-temanmu itu wajar saja. Banyak kok sekarang yang seperti itu. Coba bukalah dirimu, aku yakin kau bisa lebih baik dari mereka.”

“dengan mengikuti perilaku mereka? Heuh! Untuk saat ini, itu tak menarik minatku sama sekali.”

Kami terdiam kembali. Aku mencoba mengendapkan kata-kata yang barusan aku katakan. Aku mencoba menguatkan itu dalam hatiku.

“kekecewaanku lantas tak sampai di situ”

“kau ingin bercerita lagi?”

“ya, supaya kau lebih mengerti. Aku mempunyai teman, yang aku kira aku dan dia memiliki kecenderungannya yang sama. Kami diproyeksikan untuk mengurusi LDPS (lembaga dakwah program studi). Ku ketahui latar belakangnya juga dari pesantren. Makin membuatku mantap untuk bersama-sama menjalankan LDPS setahun ke depan. Aku semakin yakin saat ia memintaku membantunya.”

“ia laki-laki?”

“tentu. Maksudmu?”

“ah, tidak,”

“aku dengar ia rajin mengikuti tatsqif rutin. Kenal baik dengan beberapa aktivis Gamais. Tapi entah bagaimana mulanya, aku juga jadi muak melihat tingkahnya,”

“kau terlalu cepat menilainya”

“kau akan tahu mengapa aku seperti itu”

Angin berhembus pelan malam itu. Daun-daun bergesekkan. Rasanya dingin mulai merasuki tulangku.

“ini diawali ketika ia mundur dari aktivitas LDPS, mungkin ia kecewa. Tapi pelarian dari kekecewaan itu yang membuat ia malah keluar total dari aktivitas aku dan dia sebelumnya”

“maksudmu?”

“ia kini juga berubah. Pernah aku main ke kosannya. Kulihat beberapa CD film yang covernya menampilkan wanita seronok. Aku terdiam melihat itu. Ia sekarang jadi sering marah. Perkataannyapun tak lagi bersahabat dengan telingaku. Kata-katanya jauh dari yang aku dengar dulu. Dan kini ia sedang mendekati kakak seniornya. Entahlah itu juga aku dengar dari teman-temanku yang lain. Tapi kulihat ia memang sering jalan berdua, sering nonton berdua juga. Aku kehilangan teman-teman seperti dulu. Aku tak mampu berbuat apa-apa karena aku sendiri.”

“nah coba kalau kau bergabung bersama mereka!”

“kalau mengikuti apa yang mereka lakukan tak sudi bagiku”

Aku naik pitam, dingin malam sudah tak ku pedulikan lagi.

“dengar ya, aku tak antisosial seperti yang kau kira, aku manusia biasa. Aku butuh interaksi. Aku butuh manusia lain dalam perjalanan hidupku, namun caranya aku ke sana yang tidak bersepakat dengan kehendakmu terhadapku. Aku tahu apa yang terjadi padaku. Aku pahami itu”

“bagaimana jika orang lain menilaimu persis seperti aku menilaimu?”

“sayang sekali. Berarti mereka telah menghabiskan pikirannya dengan dugaan-dugaan yang tak ada gunanya.”

“itu bukan alasan logis”

“ya terserah padamu. Rasanya bagiku tak ada gunanya orang lain berpikir tentangku seperti apa yang kau pikir tentang aku. Aku kira mereka buang-buang waktu dan energi saja. Tidak produktif dan tidak ada manfaatnya. Tapi aku akan tunjukkan bahwa aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Ah,,,mengapa aku jadi menduga-duga tak jelas begini”

Ku rehat sejenak dari kata-kataku yang tadi meluncur deras. Ia pun demikian.

“begini, aku berpikir positif saja. Aku yakin pasti lebih banyak orang lain yang tidak berpikir sepertimu terhadapku, dibanding orang yang berpikir sama sepertimu terhadapku. Dan aku rasakan itu memang.”

“seberapa lama kau tahan dengan keadaan seperti ini?”

“mengapa kau bertanya begitu? Aku sendiri nyaman dengan kondisi ini!”

“wajar, kan?”

“jauh dalam lubuk sukmamu terdalam, tidakkah saran-saranmu itu bertentangan dengan hati kecilmu? Kau berlaku itu padaku karena kau harus menepati janjimu? Kau harus menunaikan tugasmu? Kau harus menebus sesuatu yang akan kau hadapi nanti dengan konfrontasi seperti ini?”

Hening, kulanjutkan kembali perkataanku.

“kalau kau menginginkan aku membunuh kesendirianku dengan cara-cara semacam itu, maka itu hanya menjadi mimpimu belaka. Aku tak seperti itu. Aku yakin Yang Di Atas Sana lebih tahu apa yang baik bagiku dan senantiasa melindungiku.”

“aku tak bermaksud begitu, percayalah!”

“pergilah dariku, percuma saja bila kau masih di sini. Tak ada artinya kau terus memaksaku dengan kehendakmu.”

“aku tidak memaksa. Itu terserah padamu”

“ah…itukan menurutmu. Aku tahu siasatmu. Sekali ku lengah itu celah bagimu. Sudahlah tak ada gunanya kau tetap di sini. Pergilah!”

Aku menyadari benar mengapa aku begini, namun aku juga tak akan terus-menerus larut dalam keadaan sepi. Aku juga berteman. Aku sering interaksi membangun jaringan. Hanya sayang mungkin banyak orang yang tak melihat itu. Tapi kukira itu bukan menjadi masalah bagiku.

Malam hening. Kesendirian kembali menemaniku. Mungkin ia telah pergi. Gesekan daun kembali merajai malam, cahaya lampu itu masih terpantul sempurna dari kolam ke arahku. Malam semakin larut. Aku masih sendiri. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka.

“assalamualaikum…”

Akh, ternyata teman sekamarku.

“alaikum salam. Abis dari mana?” tanyaku

“saya mau ini euy,..mabit, lupa bawa jaket.”

Ia kemudian memakai jaket dan mengambil tas, tak berapa lama ia kemudian meninggalkan kamar.

“assalamualaikum…”

“alaikum salam”

Asramapun kembali sepi.

Written by Deri

Juli 15, 2008 at 3:56 am

Serupa Tapi Tak Sama

with 3 comments

Lama tak menjabat sebagai senator di Kongres KM ITB, rasanya saya ingin mempersembahkan sesuatu untuk sosok yang merepresentasikan lembaga itu, entah himpunan maupun unit di Keluarga Mahasiswa ITB. Ceritanya dimulai ketika saya sering menyaksikan kelakuan anggota dewan di senayan sana lewat televisi. Ada mungkin yang membuat miris, kok bisa ya anggota dewan begitu, atau mungkin kita merasa geram, udah dikasih amanah malah disalahgunakan. Ya begitulah para wakil rakyat kita, walaupun sebenarnya tentu masih banyak yang berlaku sebaliknya. Mafia Senayan kalau kata lagu Slank mah.

Ketika melihat berita semacam itu, saya mencoba membuat komparasi dengan Senator di Kongres Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Dari persamaan dan dari perbedaannya. Komparasi ini mungkin saya buat tidak mencakup semua anggota dewan yang ada di gedung wakil rakyat sana, tapi setidaknya ini mungkin menggambarkan perilaku atau perlakuan anggota dewan yang sering kita saksikan.

Berikut adalah komparasi yang saya bikin

PERBEDAANNYA dulu lah…

  1. Kalau wakil rakyat di parlemen sana membuat undang-undang atau mengamandemen undang-undang, bisa dapet 500 juta tuh setahun kalau tiap bulan aja bikin undang-undang. Sedangkan seorang senator kalau bikin ketetapan atau bikin amandemen Konsepsi dan AD-ART KM ITB nggak dapet apa-apa. Palingan juga dapet komentar pedas atau tanggapan sinis pas diadakan forum massa Kongres yang dihadiri seluruh elemen mahasiswa ITB.
  2. Baca entri selengkapnya »

Written by Deri

Juli 15, 2008 at 3:45 am

Ditulis dalam Keresahan, Sense Of Crisis

Beginilah Aku

without comments

lagu di bawah ini banyak menginspirasi saya untuk tidak peduli terhadap apa yang orang lain rasakan. saya sering merasa agak bersalah apabila ada orang lain yang merasa tidak enak dengan perkataan atau perbuatan saya. memang saya sering terlalu memaksakan itu. sampai dipikirin segala, apakah teman saya itu benci atau tidak suka saya ngomong atau berperilaku seperti itu.

pernah suatu saat saya dapat info mengejutkan dari salah seorang teman

“sebenarnya banyak, der orang yang gak suka dengan sikap loe,”

mendengar itu saya terkejut luar biasa. serasa terjun dari lantai 100 suatu gedung. dia ungkapkan itu dengan raut muka yang kurang (bukan kurang atau bahkan tidak suka dengan saya).

kemudian saya teringat lagu ini. akh, saya pikir saya tidak peduli banyak orang yang tak suka terhadap saya atau nggak. yang penting saya telah menyampaikan atau bertindak apa yang menurut saya paling yakini benar. saya bisa saja mengatakan pada teman saya itu bahwa sebenarnya banyak orang yang telah berbuat atau berkata yang bahkan bisa membuat saya benci atau marah padanya. namun saya gak nunjukkin hal itu. bagi saya hal itu gak produktif. sampah aja. mendingan bikin sesuatu yang lebih berharga dibanding kita berbuat salah atau berbuat dan berkata sehingga membuat orang lain benci atau marah pada kita, ataupun kita malah sering memikirkan apakah perlakuan kita malah membuat orang lain benci atau tidak suka atau marah pada kita, itu bukanlah soal. karena tiap orang tak ada yang sempurna. persis seperti lagu ini.

saya menyadari mungkin banyak orang yang merasa kurang suka atau benci terhadap tingkah laku atau perkataan saya. entah itu di asrama, di jurusan, di dll..

cuman saya hanya bisa mencoba untuk TIDAK mengungkapkan ketidaksukaan atau kebencian saya terhadap orang-orang yang membuat saya benci atau malah tidak suka. cukup sampai di situ. masalah minta maaf mah itu saya lakukan kalo perkataan atau tindakan saya sudah keterlaluan dan kelewat batas.

Menjadi Diriku

Album :
Munsyid : EdCoustic

http://liriknasyid.com

Tak seperti bintang di langit
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Dan wajahku memang begini
Sikapku jelas tak sempurna
Ku akui ku bukanlah mereka
Ku apa adanya

*)
Menjadi diriku
Dengan segala kekurangan
Menjadi diriku
Atas kelebihanku…….

Terimalah aku
Seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa
Ku pun tak sempurna

Tetap ku bangga
Atas apa yang ku punya
Setiap waktu ku nikmati
Anugerah hidup yang ku miliki

Back to *)

Written by Deri

Juli 7, 2008 at 7:12 am

Ditulis dalam Heart Express, Keresahan

Tentang BBM (udah bosen kali, yak?)

with 5 comments

suatu siang seorang aktivis kemahasiswaan ITB berorasi di depan gerbang ganesha. siang itu memang ada aksi. aksi dari mahasiswa ITB menolak kenaikan harga BBM. siang yang panas, namun malah semakin membakar semangat sang aktivis itu untuk berorasi. kata-katanya meluncur deras, penuh semangat, pasti orang yang mendengarnya akan merasa terpukau.

“kenaikan harga BBM menyengsarakan rakyat!!”

dengan penuh emosi ia berkata seperti itu.

“apakah pemerintah kita tak bisa berpikir?”

ia kembali berkata-kata lantang.

“lalu di mana kepedulianmu mahasiswa?”

sambil menatap tajam ke ke sebuah tugu berwarna hijau dengan tiang bendera dan bendera lusuh yang ada di sana.

sejuput kemudian aksi itu berhenti. bukan karena tak ada yang simpati, tapi sudah saatnya memang aksi itu terhenti karena sudah cukup lama sang aktivis itu berorasi.

tiba-tiba telepon seluler sang aktivis itu bergetar. ponsel yang sudah lusuh. tombolnyapun sudah tak terlihat angka-angkanya. sang aktivis itu membuka inbox sms, sms dari ibunya,

nak, maaf ibu gak bisa ngirim uang lagi untuk bulan ini, harga kebutuhan pokok naik. karena BBM naik mungkin. ibu juga sekarang bingung adikmu sebentar lagi ke SMA, adikmu yang satu lagi belum keterima kerja.ayah juga dipecat dari pekerjaannya.yang sabar, ya nak.

sang aktivis itu termenung,,

diratapinya langit kelam, ia duduk di sebuah tugu. sambil memegang erat poselnya ia merenung.

merenungkan kata-kata yang ia tadi ucapkan. kini menjadi sangat dekat dengannya

Written by Deri

Mei 21, 2008 at 3:48 am

Ditulis dalam Keresahan