Life Observer

world in my arms

Archive for the ‘Literature’ Category

Quote (I)

without comments

Bangsa ini rindu dengan kepemimpinan pemuda yang tidak kharismatik, tapi mampu menarik simpul-simpul perhatian massa untuk mendukungnya. Antikemapanan tapi masih bisa survive dalam menghadapi segala tekanan. Pasif dari aktivitas yang mendatangkan kesia-siaan dan berani memikirkan perubahan besar. Tidak disukai banyak orang tapi karya-karyanya bermanfaat untuk banyak orang. Itulah cermin pemuda yang dibutuhkan bangsa ini sekarang. Yang aktivitasnya tak sekedar mengasah bakat, mendalami hobi namun lebih jauh dari itu. Aktivitasnya selalu memberikan pengaruh positif terhadap lingkungannya sekecil apapun

Written by Deri

Januari 3, 2009 at 10:50 am

Denting

with 7 comments

denting ini tak bisa dikendalikan saat beribu elok senja menitipkan cahayanya. hanya perih, hanya peduli, hanya kosong dan semua terjemahkan dengan bentang-bentang cakrawala. menutupi keluh. menutupi gelisah. hanya saja denting itu diam. diam dari segala hingar alam. diam dari hujan yang ia nantikan. diam dari waktu yang ia rangkai. denting hanya mampu berbunyi sangat sunyi. menorehkan luka, berkaca atas kepergian cakrawala. diam dan diam.

pilihan yang menjadi riak-riak haru, tak mampu terjabarkan. senyap denting tak mampu hadirkan kenyamanan bagi alamnya. diam dan menyendiri.

hanya hening merajai sore ini….

Written by Deri

November 6, 2008 at 10:16 am

Ditulis dalam Literature

Tentang Kesendirian dan Berduaan

with 4 comments

Selepas shalat isya dan di tengah keheningan asrama, ku terduduk di atas kursi geser di kamar 405. Biasanya abis isya di asrama sepi, baru ramai lagi menjelang tengah malam. Entah apa keperluan mereka abis isya ini, mungkin ada yang mencari makan, mungkin ada yang mabit, atau ada liqa? entahlah aku tak mau peduli. Sudah menjadi hal yang biasa kalau abis isya gini aku menjadi orang yang kesepian di asrama (ehem). Biasanya pas dulu menjadi senator, aku sering keluar malam, rapat atau sidang, de el el. Tapi kini aku ingin menikmati malam di kamarku sendiri. Dari lantai empat ini aku menuju ke beranda kamar. Aku duduk di kursi yang ada di sana. Di depanku ada sorot lampu yang cukup terang. Pandangan ku lemparkan ke arah depan terlihat kesepian taman ganesha, hanya sesekali gesekan daun memecah kesenyapan di sana. Ku mencoba melirik ke bawah, kulihat hanya ada beberapa orang lalu lalang di depan kantin, biasanya kalau siang jalan itu ramai sekali. Udara yang sejuk, pendar cahaya semakin membuat malam ini terasa nyaman. Kilau cahaya itu terpantul sempurna ke dalam kolam yang ada di taman ganesha itu. Berkas sinarnya menembus sejuk ke pelupuk mata ini. Angin yang lembut bertiup sedikit demi sedikit menghangatkan malam.

Kemudian kutengadahkan pandang ke atas. Langit hitam pekat yang indah ada berjuta bintang di sana. Tepat di tengahnya bulan sabit terpancang sempurna. Kelip bintang itu menemani gemerlap bulan sabit yang nampak kesepian. Ku dengar alam bernyanyi dalam heningnya. Meski malam, aku dapat mendengar itu dengan jelas. Suara jangkrik mungkin, ataukah katak, entahlah rasanya begitu membuat tentram dalam relung sukmaku.

Ya di beranda ini aku sering menghabiskan malam. Sering bergumam, sering menemukan keindahan dalam sebuah inspirasi. Sering menuntunku dalam sunyi di tengah suasana sepi asrama. Dan berjuta cahaya diiringi suara yang harmoni menemaniku berkontemplasi.

“sendirian lagi, nih?”

Tiba-tiba terdengar suara, entah siapa,apa dari mana, aku tak peduli. Aku teralun merasakan nyamannya malam.

“iya,” jawabku pendek

“ah, apakah kau tak bosan selalu menikmati kesepian dengan kesendirian?”

“apa salahnya?”

“tidak aku begitu mengkhawatirkanmu, kau kurasa orang yang aneh, ke mana-mana sering kulihat sendiri. Ke kampus sendiri, di kamar sering sendiri, belajar sendiri, jalan-jalan sendiri, bahkan makan di warung atau di kantinpun kau lebih banyak terlihat sendiri. Kau antisosial, ya?”

“ah, tidak juga”

“lalu?”

“ya, mungkin karena urusanku sebenarnya belum melibatkan orang lain. Mandi juga harus sendiri, kan?”

“kau tak bisa begitu!!!”

“apa pedulimu? Kau siapa?”

“itu tidaklah penting. Suatu saat mungkin engkau akan mengutuk arti kesendirian. Kenapa kau tidak seperti anak-anak SMA yang sering ada di gelap nyawang1 itu? Meraka selalu beramai-ramai kalau makan. Mengapa tidak seperti teman-temanmu? Mereka selalu bersama-sam. Kalau jalan-jalanpun mereka sama-sama”

“tapi lihat dulu apa yang mereka kerjakan!”

“maksudmu?”

“coba kau lihat apa yang mereka lakukan. Jauh dari apa yang menjadi kebiasaanku bahkan mungkin dien-ku. Anak SMA itu kalau makan di gelap nyawang kulihat mereka malah asyik ngobrol berduaan, dempetan dengan lawan jenis, pegangan tangan, merokok pula. Ya Alloh, selamatkan negeri ini dari kebobrokan remajanya!”

“ah kau terlalu berlebihan, aku tak menyuruhmu seperti itu. Kau bisa saja ajak temanmu yang lain”

“aku selalu melakukan itu kalau aku ada keperluan dengan temanku. Tidak hanya keperluan, kalau mungkin aku dan dia lama tak jumpa, kami sering ngobrol lama dan bercerita. Kau lihat apa yang aku lakukan lebih memiliki dibanding anak SMA yang tadi.”

Kemudian aku dan dia terdiam. Sesaat kulanjutkan kembali perkataanku yang tadi terhenti.

“aku punya pengalaman yang kurang mengenakkan dengan anak-anak SMA yang makan di Gelap Nyawang itu. Waktu itu juga abis isya, aku pikir kok ada ya anak SMA jam segini masih berkeliaran, bergerombol pula, mereka berpasangan. Yang cewek pakaiannya, naudzubillah, walaupun pakaian SMA lebih mirip pakaian SD, kecil sekali. Yang cowok juga sama parahnya, tangan yang satu memegang tangan ceweknya, tangan yang lain dipakai untuk memegang rokok.”

Aku menghela nafas. Kemudian aku melanjutkan ceritaku kembali.

“waktu itu kebetulan aku makan di meja kosong yang cukup besar.”

“hanya kau sendiri?”

“iya.”

“tuh, kan”

“diamlah aku lanjutkan dulu ceritanya”

Sejenak terdiam.

“gerombolan SMA itu mendekat ke arah meja tempat aku makan. Aku tak ambil peduli dengan kedatangan mereka. Tapi anehnya mereka malah makin bergerombol di tempat aku makan. Kemudian salah seorang di antara mereka berteriak ke si pemilik warung, mas, gak ada tempat yang kosong,ya? Aku kaget juga mendengar itu. Menyadari hal itu si pemilik warung kebingungan. Kemudian ia memintaku yang duduk di bangku itu untuk pindah ke meja pojok yang masih kosong. Maaf, mas bisa diisi dulu tempat yang di sana? Masih ada yang kosong tuh! Begitu si pemilik warung itu menyuruhku pindah. Tak berapa lama meja yang aku tempati tadi diisi oleh anak-anak SMA. Kulihat mereka malah acuh dengan hal itu.”

“nah itulah akibatnya kau makan sendiri. Coba kalau kau makan berdua, atau bertiga atau ber-berapalah, asalkan tidak sendiri, pasti kejadian itu tak akan terjadi.”

“aku tak menyesali kejadian itu. Hanya aku merasa miris anak SMA kok udah begitu ya? Aku benar-benar terkejut.”

“zaman udah modern, bung! Kalau kau tidak begitu, orang-orang akan banyak yang tidak simpati padamu.”

“tidak juga”

“percayalah, kau jangan menjadi aneh sendiri dengan gayamu seperti itu. Bisa-bisa nanti kau tak akan mendapatkan pendamping hidup!”

“wakakakaka…..”

Aku tertawa ngakak

“oi, logikanya tidak seperti itu. Aku tak mau membahas itu. Rasanya tak ada hubungannya dengan apa yang kita bicarakan ini. Aku sudah punya rencana dan strategi untuk itu, tapi ayolah….jangan buat sebuah proses mencari pendamping hidup kau kerdilkan maknanya.”

“ok, kita tak akan membahas itu. Tapi coba kau lihat temanmu. Teman-temanmu kan seumuran denganmu. Kurasa pemikiran mereka tak akan seekstrem apa yang dilakukan oleh anak SMA tadi. Mereka selalu berdua, bersama mendiskusikan banyak hal, tapi aku sering melihatmu tak berada di sana. Bahkan dosenmu sampai bilang kau selalu sendiri saja.”

“tunggu kau juga harus lihat apa yang dilakukan temanku dan apa yang dikatakan oleh dosenku.”

“ah, kau terlalu banyak mencari alasan untuk melakukan sebuah pembenaran”

“bukan, aku hanya mempertahankan apa yang menurutku pantas dan sesuai dengan apa yang aku yakini. Kau tak akan mengerti akan hal ini.”

“ok…ok….apa yang ingin kau beri tahu padaku tentang mereka”

“aku punya teman baik. Dulu aku dan dia satu kelompok dalam acara pelantikan kader inti Gamais. Kau tahu, kan Gamais?”

“ya tahulah. Aku juga banyak tahu apa yang kau tahu.”

“dia menjadi ketua kelompok kami. Dia bahkan menjadi mas’ul dalam pembinaan lanjut setelah pelantikan itu. Dia menjadi ketua kelompok mentoring kelompokku. Dia kuanggap orang yang hebat, pemahaman islamnya pasti di atasku. Akan tetapi kini kulihat dia jauh berbeda. Lama kami tak bertemu, suatu hari kami bertemu di kantin salman bersama seorang wanita. Entah siapa. Hai,der! Ia menyapaku. Aku cukup merasa aneh karena biasanya dulu dia selalu menyapaku dengan ucapan salam sembari menunjukkan senyumannya. Tapi saat itu ia menyapaku biasa saja, datar.”

“aku anggap masih wajar itu”

“sebentar aku belum menyelesaikan ceritaku. Yang membuatku kaget, dia memegang tangan cewek itu. Aku terkesiap. Dengan asyiknya dia ngobrol dengan cewek itu seolah aku tak ada di depannya.”

“mungkin dia sudah menikah. Kan banyak tuh temen-temenmu yang udah pada ngebet nikah.”

“entahlah. Tapi tak ada hal yang dapat meyakinkanku akan hal itu. Pada peristiwa itu aku rasa ia berbeda dengan yang dulu. Maksudmu seperti itu aku agar tidak sendiri?”

“itukan salah satunya.”

“tapi aku tak bersepakat dengan itu!!!”

“baik…baiklah…aku tak mau berdebat tentang itu. Tapi apakah kau yakin dengan kedinginanmu itu kau akan tahan dengan suasana seperti ini?”

“pada saatnya nanti kau akan tahu jawabannya”

“ah, lagi-lagi kau mencari alasan”

“hey, sudah ku bilang, kan di awal tadi….”

“baiklah aku tak akan membuatmu marah”

“kurasa cerita itu tak mampu membuatmu diam. Aku punya teman lagi. Dia kakak seniorku. Dulu dia yang menyambutku pertama kali di institut ini. Kau tahu bagaimana dia menyambutku sebagai mahasiswa baru?”

“apa? Tapi pasti tak penting bagiku”

“dia bersamaku, bersama kami, melaksanakan shalat ashar berjamaah. Ia menjadi imam. Kulihat dulu penampilannya sangat menyejukkan. Wajahnya terlihat memancarkan ketenangan. Aku masih ingat pesannya dulu kepadaku dan teman-temanku, jangan menyerah berada dalam masalah, ini adalah tantangan kalian, perjuangkan apa yang kalian pilih dan menurut kalian benar. Kurang lebih pesannya begitu. Aku masih ingat pesan itu sampai sekarang. Aku merasa bersyukur bertemu sosok yang demikian memesona saat aku pertama kali menginjakkan kaki di institut ini. Akan tetapi kekagumanku padanya kini musnah. Ia telah mengkhianati teladan yang ia bangun sendiri saat pertama aku bersamanya.”

“mengapa?”

“ia kini jauh dari hal-hal yang dulu aku temui. Kini ia tampak menjenuhkan bagiku. Suatu ketika saat kami pulang dari perjalanan kuliah lapangan, kulihat ia duduk sekursi dengan seorang cewek, cewek itu temanku.”

“ah, wajar, kan belum ada apa-apa itu… kau cemburu, ya?”

“hey…hey…yang begitu tak menarik minatku. Akan tetapi tak sewajarnya ia begitu. Tapi yang membuatku kaget adalah ketika ia mengusap pipi cewek itu. Cewek itu dengan nyaman menyandarkan kepalanya. Kemudian kakak senior itu berujar, tidur ya, dek. Rasanya saat itu adalah saat termuak aku melihatnya.”

Nafasku tertahan. Menahan kebencian. Kenangan indah dulu, kini telah menjadi mimpi buruk bagiku terhadapnya.

“ia telah berubah. Kini ia lebih sering mengucapkan kata-kata kotor. Bahkan aku sempat mendengar pengakuan rasa bersalahnya terhadap temanku itu, maafkan kakak yang sering lupa shalat subuh untuk mendoakanmu. Kedengarannya perhatian atau permintaan maaf yang tulus, tapi sayang itu dibungkus dengan bau busuk”

“ah kau terlalu berlebihan. Tak pantas kau menilainya seperti itu”

“lalu apakah kau juga pantas menilaiku seperti tadi? Padahal apa yang kau nilai tentangku belum benar adanya. Aku menilainya karena berdasar apa yang aku lihat. Naif sekali, kau!”

“sudahlah tak ada gunanya begini. Toh, aku menginginkanmu tak seperti ini. Banyak cara untuk bisa berdua atau bersama-sama, tapi tak seekstrem seperti yang kau ceritakan barusan.”

“aku tak yakin dengan pernyataanmu. Kalau kau menginginkan aku tak sendiri tiap beraktivitas, tiu juga sering aku lakukan, cuman aku mencoba menghindar dari kesia-siaan, dan dari keinginan busukmu terhadapku”

“mengapa kau berprasangka buruk padaku?”

“sudahlah aku tak mau berpanjang kata, aku tak mau mempersoalkan hal yang sia-sia. Berhentilah!”

Dia dan aku terdiam. Malam semakin sunyi, hanya cahaya itu yang menjadi teman dialog kami.

“apakah itu tak cukup membuatmu memahamiku?”

“setidaknya kau belum mau juga membuka diri pada orang lain. Aku yakin kau orang hebat, mengapa tak kau tunjukkan apa yang kau kemampuan yang kau miliki pada orang lain?”

“jangan mengalihkan maksud pembicaraan. Ku yakin tujuan utamamu padaku bukan itu!”

“baiklah…aku pikir kau keras kepala”

“aku tak terima”

“aku pikir apa yang terjadi pada teman-temanmu itu wajar saja. Banyak kok sekarang yang seperti itu. Coba bukalah dirimu, aku yakin kau bisa lebih baik dari mereka.”

“dengan mengikuti perilaku mereka? Heuh! Untuk saat ini, itu tak menarik minatku sama sekali.”

Kami terdiam kembali. Aku mencoba mengendapkan kata-kata yang barusan aku katakan. Aku mencoba menguatkan itu dalam hatiku.

“kekecewaanku lantas tak sampai di situ”

“kau ingin bercerita lagi?”

“ya, supaya kau lebih mengerti. Aku mempunyai teman, yang aku kira aku dan dia memiliki kecenderungannya yang sama. Kami diproyeksikan untuk mengurusi LDPS (lembaga dakwah program studi). Ku ketahui latar belakangnya juga dari pesantren. Makin membuatku mantap untuk bersama-sama menjalankan LDPS setahun ke depan. Aku semakin yakin saat ia memintaku membantunya.”

“ia laki-laki?”

“tentu. Maksudmu?”

“ah, tidak,”

“aku dengar ia rajin mengikuti tatsqif rutin. Kenal baik dengan beberapa aktivis Gamais. Tapi entah bagaimana mulanya, aku juga jadi muak melihat tingkahnya,”

“kau terlalu cepat menilainya”

“kau akan tahu mengapa aku seperti itu”

Angin berhembus pelan malam itu. Daun-daun bergesekkan. Rasanya dingin mulai merasuki tulangku.

“ini diawali ketika ia mundur dari aktivitas LDPS, mungkin ia kecewa. Tapi pelarian dari kekecewaan itu yang membuat ia malah keluar total dari aktivitas aku dan dia sebelumnya”

“maksudmu?”

“ia kini juga berubah. Pernah aku main ke kosannya. Kulihat beberapa CD film yang covernya menampilkan wanita seronok. Aku terdiam melihat itu. Ia sekarang jadi sering marah. Perkataannyapun tak lagi bersahabat dengan telingaku. Kata-katanya jauh dari yang aku dengar dulu. Dan kini ia sedang mendekati kakak seniornya. Entahlah itu juga aku dengar dari teman-temanku yang lain. Tapi kulihat ia memang sering jalan berdua, sering nonton berdua juga. Aku kehilangan teman-teman seperti dulu. Aku tak mampu berbuat apa-apa karena aku sendiri.”

“nah coba kalau kau bergabung bersama mereka!”

“kalau mengikuti apa yang mereka lakukan tak sudi bagiku”

Aku naik pitam, dingin malam sudah tak ku pedulikan lagi.

“dengar ya, aku tak antisosial seperti yang kau kira, aku manusia biasa. Aku butuh interaksi. Aku butuh manusia lain dalam perjalanan hidupku, namun caranya aku ke sana yang tidak bersepakat dengan kehendakmu terhadapku. Aku tahu apa yang terjadi padaku. Aku pahami itu”

“bagaimana jika orang lain menilaimu persis seperti aku menilaimu?”

“sayang sekali. Berarti mereka telah menghabiskan pikirannya dengan dugaan-dugaan yang tak ada gunanya.”

“itu bukan alasan logis”

“ya terserah padamu. Rasanya bagiku tak ada gunanya orang lain berpikir tentangku seperti apa yang kau pikir tentang aku. Aku kira mereka buang-buang waktu dan energi saja. Tidak produktif dan tidak ada manfaatnya. Tapi aku akan tunjukkan bahwa aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Ah,,,mengapa aku jadi menduga-duga tak jelas begini”

Ku rehat sejenak dari kata-kataku yang tadi meluncur deras. Ia pun demikian.

“begini, aku berpikir positif saja. Aku yakin pasti lebih banyak orang lain yang tidak berpikir sepertimu terhadapku, dibanding orang yang berpikir sama sepertimu terhadapku. Dan aku rasakan itu memang.”

“seberapa lama kau tahan dengan keadaan seperti ini?”

“mengapa kau bertanya begitu? Aku sendiri nyaman dengan kondisi ini!”

“wajar, kan?”

“jauh dalam lubuk sukmamu terdalam, tidakkah saran-saranmu itu bertentangan dengan hati kecilmu? Kau berlaku itu padaku karena kau harus menepati janjimu? Kau harus menunaikan tugasmu? Kau harus menebus sesuatu yang akan kau hadapi nanti dengan konfrontasi seperti ini?”

Hening, kulanjutkan kembali perkataanku.

“kalau kau menginginkan aku membunuh kesendirianku dengan cara-cara semacam itu, maka itu hanya menjadi mimpimu belaka. Aku tak seperti itu. Aku yakin Yang Di Atas Sana lebih tahu apa yang baik bagiku dan senantiasa melindungiku.”

“aku tak bermaksud begitu, percayalah!”

“pergilah dariku, percuma saja bila kau masih di sini. Tak ada artinya kau terus memaksaku dengan kehendakmu.”

“aku tidak memaksa. Itu terserah padamu”

“ah…itukan menurutmu. Aku tahu siasatmu. Sekali ku lengah itu celah bagimu. Sudahlah tak ada gunanya kau tetap di sini. Pergilah!”

Aku menyadari benar mengapa aku begini, namun aku juga tak akan terus-menerus larut dalam keadaan sepi. Aku juga berteman. Aku sering interaksi membangun jaringan. Hanya sayang mungkin banyak orang yang tak melihat itu. Tapi kukira itu bukan menjadi masalah bagiku.

Malam hening. Kesendirian kembali menemaniku. Mungkin ia telah pergi. Gesekan daun kembali merajai malam, cahaya lampu itu masih terpantul sempurna dari kolam ke arahku. Malam semakin larut. Aku masih sendiri. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka.

“assalamualaikum…”

Akh, ternyata teman sekamarku.

“alaikum salam. Abis dari mana?” tanyaku

“saya mau ini euy,..mabit, lupa bawa jaket.”

Ia kemudian memakai jaket dan mengambil tas, tak berapa lama ia kemudian meninggalkan kamar.

“assalamualaikum…”

“alaikum salam”

Asramapun kembali sepi.

Written by Deri

Juli 15, 2008 at 3:56 am

Akulah Kapal Paling Karam

without comments

Bagaimana bisa membacaMu
Sedang bagiMu akulah hamba paling buta
Bagaimana bisa menyematMu
Sedang bagiMu akulah hamba paling jauh


Akulah kapal paling karam
Ke mana mesti dayung aku larungkan?


Maka beri aku mata sekali saja
Dan kan ku tulis nun-bataMu balik mula


DusturMu tumbuh dari ruh-ruh adzan subuh
Menggempur kala dzuhur
Menyebar saat ashar
Dan bertarhib di kala maghrib
Maka beri aku suluh kembali berlayar


Bagaimana bisa menjadi paling mulia
Sedang bagiMu akulah peminta paling nista


Akulah kapal paling karam
Dan Kau muara paling dalam.

Written by Deri

April 23, 2008 at 9:14 am

Ditulis dalam Literature

Bintang Kesepian dan Cerita dalam Hujan

with 2 comments

Dari lantai empat ini tepat sebuah jendela dengan embun yang mencoba tak kuat lagi bertahan. Tak kuat bertahan karena akan menjadi tetes-tetes yang berkejaran di balik kaca. Sesorot sinar kulihat nampak indah. Menyegera angan untuk menikmati cerita ini.

Hanya saja cahaya itu sendiri. Tak ada yang menemani. Pernah ia mencoba untuk berinterferensi, namun rasanya kekekalan hatinya mampu membentengi.

Kali ini ia akan mencari jalan dalam perjalanan hujan yang mengantarkannya pada sebuah cerita. Ketika ia mendapatkan sebuah pesan,

“Selamat malam, walaupun hujan, malam ini rasanya kok gerah ya? Bisa dijelasin gak kenapa?”

Sumber cahaya itu mendapat sebuah cerita yang teramat ingin ia ungkapkan

Written by Deri

Maret 4, 2008 at 2:26 pm

Ditulis dalam Literature

Serpihan Hati Di Ujung Senja

with 6 comments

Deras hujan yang turun malam ini membuat lamunanku sedikit berkelebat. Gemericik tetesannya menenangkan kalbu ini yang diliputi rasa rindu. Rindu yang memapahku pada hentakan daun tersaput hujan. Akankah ia merasakan gelisahku dalam kecipak air yang saat ini berseliweran di ujung jari kakiku?

Kali ini aku berteduh di kerumunan daun dekat taman bunga. Kurasakan dingin malam menelusup di balik lengan bajuku. Di sampingku terpampang lampu taman yang bersinar menerangi keindahan di mataku, membuat kerling dalam kilauan rumput hijau. Sejuk sinarnya sedikit menghangatkanku. Dalam saat itu kurasakan kemegahan romantisme hujan. Ah, mengapa aku jadi sesentimentil ini?

Apakah ia menerima gundahku malam ini yang kukirim lewat dingin malam tadi?

Tunggulah aku, Silmi! Kemilau hujan ini akan aku bingkai demi perserahanku padamu!

Aku sendirian di taman ini. Kurasa aku terjebak dalam suasana hening, meski jalan raya terlihat tepat sepuluh meter di hadapanku. Sekedar untuk mengenang awal perjumpaanku dengan seorang ukhti yang bernama Silmi.

Sudah lebih dari dua tahun aku mengenalnya. Sejak pertemuan yang menyimpan rasa tersendiri di lubuk ini. Yaa…ukhti, sejak acara mentoring itu aku tak bisa mengenyahkan bayangmu dari pikiranku. Yaa…Allah, mengapa aku harus terjerat virus merah jambu dikala aku tengah berjuang mensyiarkan agamaMu dalam jalan dakwah ini?

Silmi adalah rekan kerjaku saat acara mentoring siswa SMA di kampusku. Entah sengaja atau tidak, aku yang pada saat itu memangku jabatan sebagai koordinator lapangan terkesima hati memandang ciptaan Allah yang agung. Kulihat ia begitu anggun dengan gamis merah jambu khas kaum Hawa. Jilbabnya yang lebar sampai ke pinggang serta gaya bicaranya yang santun membuatku benar-benar kagum padanya. Astaghfirullaah…Entah rasa kagum atau apa yang ada dalam hati ini? Yang jelas, maafkan aku, Yaa..Rabb!!

Sejak saat itulah rohis kampusku mulai mengeratkan silaturahmi dalam setiap kegiatan yang bernafaskan Islam dengan rohis di kampus Silmi. Berbagai kegiatan dan acara kami adakan. Ah, betapa indah semangat ukhuwah dulu!

Selama dua tahun itu aku terus memendam perasaan ini. Tak ada yang tahu, kecuali Allah. Dalam setiap rapat kegiatan, entah mengapa aku ingin selalu dekat dengannya, hingga mata ini selalu terlirik padanya. Rupanya aku sudah terjebak dalam CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis). Yaa…Allah, sekali lagi aku telah mengotori jalan dakwah ini.

“Ada apa, Akhi? Sepertinya antum tidak semangat menjalani rapat ini?” Tanya Silmi padaku, sambil memandang dengan mata yang membuatku ge-er.

“Engga..” jawabku sambil gelagapan.

Ah, Silmi…mengapa kamu jadi perhatian sekali padaku? Kamu membuat sebuah rasa dalam hati ini semakin bersemi. Aku jadi teringat ucapan Mukhlis, teman seperjuanganku,

“Cinta itu fitrah, Akh. Jangan kau bunuh cinta itu, tapi bingkailah ia dengan cahaya. Jangan sampai dalam hati kita terdapat dua cinta. Allah akan murka dan cemburu,” jelasnya padaku.

Entah dari mana ia tahu aku sedang terjerat virus ini, tapi ia mengatakan sering melihatku melamun. Aku sendiri merasa hatiku sejuk setelah mendengarkan perkataan hikmahnya. Tapi bagaimanapun, rasa itu semakin kuat tertanam dalam sanubariku.

“Jagalah pandangan kita dari sesuatu yang Allah melarangnya!” tambahnya.

Mukhlis, engkau mengerti benar aku. Namun, sanggupkah engkau membantuku agar nurani ini tak selalu terbayang raut wajahnya? Kupendam permohonan itu dalam-dalam. Mengapa orang lain harus turut campur dalam masalahku? Aku tak mau jadi muslim yang lemah! Namun kuatkah aku? Sanggupkah aku membingkai rasa ini pada saatnya nanti seperti apa yang dikatakan Mukhlis temanku? Aku khawatir ia tahu bahwa Silmi-lah penyebab utamaku sering melamun. Tapi kuharap ia tak tahu. Kalaupun tahu, aku ingin ia merahasiakannya.

Semakin sering aku dan Silmi berkolaborasi dalam setiap kegiatan. Namun syari’ah memisahkanku dengannya. Tapi biarlah, asal kami masih bisa selalu berjumpa.

Silmi, tunggulah isyarat dariku! Pesan itu yang kuhunjamkan dalam hati ini dua tahun yang lalu. Kini aku akan melaksanakannya.

Hujan lambat laun merintik. Tetesannya semakin kecil. Tersadarlah aku dari lamunan dua tahun lalu. Kupandangi taman dan sekitarnya. Taman kampus masih seperti dulu, tak ada yang berubah. Masih dengan tujuh pohon yang berbaur di tengahnya. Masih dengan air mancur dan kursi taman yang tak lapuk dihantam hujan. Disinilah pertama kali aku memandangnya.

Aku hanya ingin sedikit bernostalgia melihat kampus yang belum lama kutinggalkan. Malam ini banyak sinar lampu di jalan-jalan. Entah berapa banyak. Yang penting semakin memperindah pemandangan malam ini. Kutatap arloji, sudah pukul sembilan. Tak terasa, seiring lamunanku selama satu jam, hujan pun turun deras.

Bersama langkah kaki, aku mencoba meniti memori semenjak kelulusanku. Ah, aku jadi teringat Silmi. Ya… Allah, mengapa rasa itu semakin kuat di dadaku? Salahkah aku yang mengagumi ciptaan indahMu?

Sudah empat bulan semenjak kelulusan, aku tak lagi bertatap muka dengannya. Rinduku tertahan. Namun aku masih menyimpan alamatnya yang ada pada buku agenda akhir tahun rohis kepengurusanku, bersama dengan aktivis-aktivis lainnya. Sekali waktu aku bisa mampir ke rumahnya.

Kini aku tinggal bersama kerabat orang tuaku. Mereka sangat baik padaku semenjak kedua orang tuaku meninggal tiga tahun lalu, karena kecelakaan lalu lintas setelah menjengukku di rumah kost baru. Kini aku yatim piatu. Kesedihan bisa saja merajai diriku, namun aku tak mau larut dalam itu. Sayang, mereka tak sempat melihatku diwisuda. Aku merasa gelar S.T. di belakang namaku terasa hambar. Sampai kini umurku dua puluh tiga tahun, aku belum bisa membaktikan diri pada mereka. Maafkan aku, ayah! Maafkan aku, ibu!

Kembali lagi pada Silmi. Sudah lama aku tak mendengar kabarnya. Tapi menurut Salim, temanku, ia masih bertempat tinggal di alamat yang sama. Sekarang ia bekerja di perusahaan pamannya sebagai accounting consultant, sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya di universitas. Salim mengetahui kabar itu dari adiknya yang menjadi binaan Salim dalam bimbingan belajar. Tentu saja Salim sering ke rumah Silmi untuk mengajari les privat pada Afni, adik Silmi.

Sedikit aku bercerita mengenai Salim. Salim adalah orang yang pintar. Waktu kami masih kuliah, aku sampai kagum setelah meengetahui IPK-nya 3,78. Jadi tak heran kalau sekarang ia banyak memberi les pada anak-anak SMA.

“Setiap manusia itu diciptakan oleh Allah dengan kemampuan otak yang sama. Hanya saja, bagaimana usaha kita untuk merangsang kinerjanya agar lebih produktif,” jelasnya padaku, setelah aku bertanya padanya bagaimana resep menjadi orang pintar. Lagi, aku mendapat ilmu dari lautan sejuta hikmahNya.

Salim-lah yang selalu menyemangati dan mendorongku agar kuat menjalani hidup ini. Aku telah bersama dengannya sekitar tujuh tahun. Persahabatan kami semakin erat. Aku percaya padanya. Ia juga sering mempercayai aku.

***

Suatu hari, aku ingin membicarakan hal penting dengan Salim. Yang menggelitik hatiku selama dua tahun ini. Di pelataran taman kampus, kami duduk berdua.

“Salim, maukah kamu membantuku? Sekali ini saja!” pintaku padanya.

“Setiap muslim harus saling membantu. Aku akan terus membantumu. Bukan kali ini saja, tetapi sampai Allah membatasi kemampuanku, bahkan sampai Allah memisahkan kita,” jelasnya.

Ah, Salim! Aku semakin bangga terhadapmu. Izzahmu begitu sempurna di mataku.

“Lalu apa yang bisa aku bantu untukmu, Akh?” Tanya Salim padaku.

Sementara itu aku terdiam, kira-kira beberapa detik. Lalu kembali membuka suara,

“Kau tahu siapa itu Silmi?”

“Tentu saja! Dia kan rekan seperjuangan kita dulu. Tentulah aku mengenalnya. Ayolah, Man..Jangan bertele-tele seperti ini!”

“Kau pasti kenal dekat dengannya, kan?”

“Ya, tentu!” Salim mengiyakan, kemudian aku menceritakan hal penting itu padanya,

“Sudah lama aku memendam perasaan ini. Hingga aku selalu terbayang akan kehadirannya di hadapanku. Ialah Silmi yang selalu membuatku termangu. Selama tiga tahun aku bergulat menahan rasa ini. Kini aku mau ceritakan padamu : Aku ingin mengkhitbah Silmi. Aku mau menjadikannya sebagai pendamping hidupku. Aku tak mau terjerat dalam maksiat. Kukira aku telah mampu. Maukah kamu mengkhitbahkannya untukku, kawan?”

Sesaat kutatap Salim. Ia terkejut, lalu ia nampak berpikir.

“Mau kan, Lim?” pintaku lagi. Ia belum juga membuka suara. Tak lama kemudian, ia berkata dalam kegelisahannya,

“Kamu yakin Silmi orangnya? Bukan aku meragukanmu. Aku tahu kamu telah memiliki segalanya. Dien yang kuat, penghidupan yang layak, dan zuhud (penampilan lahiriyah) mu tak perlu aku ragukan. Tapi semua itu tergantung pada keyakinan dan ketetapan hatimu. Apakah kamu sudah memikirkan hal ini dengan matang? Apakah kau sudah berserah kepada Yang Mahakuasa? Siapkah kamu menjalin ikatan rumah tangga dengannya?”

Salim memberondongku dengan pertanyaannya. Bagai belati tajam yang ia hempaskan padaku. Namun aku telah siap, apapun rintangannya nanti,

”Ya. Aku telah lama berkutat dengan hal ini. Aku telah siap!” jawabku mantap.

“Baiklah, aku percaya padamu! Kapan kamu mau aku mengkhitbahnya untukmu?”

“Lusa!”

“Secepat itukah?” tanyanya heran.

“Ya!” jawabku sekali lagi dengan mantap. Kemudian kami berpisah. Dalam perjalanan pulang, Salim tampak ragu-ragu. Ia membiaskan gelisah. Salim, tuluskah kau membantuku?

***

Seminggu sudah aku menunggu kabar itu. Kemana kamu, Salim? Aku menunggumu. Mengapa kamu tak jua muncul dan memberi tahu hasilnya padaku?

Aku masih menunggu hasil itu dari Salim. Namun ia seperti jin, menghilang entah kemana. Kutanyakan pada keluarganya, kata mereka Salim sedang mengikuti training keislaman. Tapi dimana? Keluarganya pun tak tahu. Salim…tolong jangan biarkan aku disini gelisah dan berharap cemas. Cepatlah kembali, kawanku! Adakah kesalahanku sehingga membuatmu menghilang seperti ini? Please, aku menunggumu!

Aku tak berkenan menanyakan langsung pada Silmi, bagaimanapun keputusannya. Aku khawatir Salim belum menyampaikan hal itu padanya. Gundah semakin merajai punggawaku. Dimana kamu, Salim?

Kemudian setelah seminggu itu, aku mencoba mencari keberadaan Salim. Kucari ia di masjid tempat ia biasa bermunajat. Tapi tak ada! Kemudian di kampus dan kutanyakan juga pada siswa binaannya. Namun tak ada satu pun yang mengetahui dimana dia berada. Kurasa aku telah bersalah padanya. Tapi apa salahku?

Semua resah. Semua gelisah. Berita hilangnya Salim membuatku dan keluarganya sangat panik. Sayang, sampai satu minggu sejak pencarian mulaku dulu, Salim belum jua ditemukan. Apa yang membuatmu menghilang selama ini?

***

Sekian lama Salim menghilang, akhirnya kutemukan ia di masjid tempat biasa ia mendekatkan diri pada Rabbul Izzah. Kulihat ia, sepertinya sedang berdo’a. kemudian aku kian memfokuskan pandanganku. Hei, kenapa ia menangis? Salim, mengapa kalau ada masalah, kau tak bercerita padaku?

Sesaat kemudian aku pun melangkah ke masjid itu. Masjid yang biasa dijadikan tempat temu majelis setiap minggunya.

“Assalamu ‘alaikum!”

Salim pun menoleh ke belakang. Sesaat ia tampak terkejut, sebelum membalas salamku.

“Kemana saja kamu, Salim? Aku pernah mencarimu kesini, tapi waktu itu kau tidak ada. Aku ingin mengetahui kabar itu!”

Ah, betapa possesifnya aku. Baru saja kutemukan Salim, aku sudah langsung menanyakan keputusan Silmi terhadap pinanganku tanpa berbasa-basi terlebih dulu.

“Bagaimana? Sudahkah kau menyampaikan maksudku padanya?” tanyaku lagi.

Salim lebih banyak diam. Air mata terus mebasahi pipinya. Aku semakin tak mengerti.

“Bicaralah, Salim!” batinku. Kemudian Salim mengajakku keluar mesjid. Tanpa berkata, ia menarik tubuhku begitu halus. Secara refleks aku mengikutinya. Kami berdua kemudian duduk di pelataran masjid itu.

“Maukah kamu memaafkan aku, Man?” pintanya padaku, seraya air mata kulihat bergelayutan di kedua kelopak matanya.

“Apa yang membuatmu harus meminta maaf padaku? Kamu tak salah apa-apa, kawan!”

“Tidak, aku bersalah!”

“Lalu apa kesalahanmu?” keluhku. Aku semakin tak mengerti mengapa sahabatku jadi begini.

“Berjanjilah kalau setelah kau mendengar ceritaku ini, kamu akan memaafkan aku!”

Aku mengangguk.

“Aku sebenarnya sudah menyampaikan maksud keinginanmu pada keluarga Silmi, tepatnya lusa setelah kita pulang dari taman kala itu. Namun aku mendapatkan tanggapan, atau tegasnya jawaban yang membuatku benar-benar terkejut. Aku rasa kamu juga akan terkejut mendengar hal ini, Man!”

“Apa jawaban dari mereka?” potongku.

“Mereka berkata bahwa sejujurnya Silmi menginginkanku, dan mereka menolak secara halus pinangan darimu. Aku juga heran. Demi Allah, Man! Apa yang kukatakan ini benar! Namun aku tak mau mengecewakanmu. Maafkan aku, Man..!”

Aku terhenyak mendengar pengakuan Salim tadi. Salim, mengapa tidak kamu katakan sedari dulu? Aku tahu, mungkin kamu bingung memberitahukannya padaku. Mungkin juga kamu menghindar dariku karena tak tega mengharap wajah berharapku.

Tiba-tiba Salim memelukku erat. Kudengar ia menangis tersedu-sedu sambil terus meminta maaf padaku. Hatiku pecah, kemudian puing-puingnya beterbangan entah kemana. Kutahan sekuat mungkin air mata yang telah menggenang di kelopak mata ini. Lalu Salim melepaskan pelukannya, dan berkata padaku dengan suara parau,

“Silmi menginginkan aku yang meminangnya. Kenyataan ini diperkuat lagi saat Afni mengatakan bahwa Silmi sering curhat mengenai rasa sukanya padaku. Afni mengatakan hal itu dengan jelas, Man! Silmi menginginkanku! Kumohon maaf, Man! Aku tak tahu harus bagaimana?”

Salim kembali memelukku, namun kali ini lebih erat. Tangisnya semakin lirih. Sementara itu, aku hanya termangu. Hati ini bergetar bagai dihempas ombak. Lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa. Salim terus saja meminta maaf padaku, kemudian kulepas pelukannya. Kutatap ia lekat-lekat.

“Seharusnya aku yang minta maaf padamu, Lim! Aku tak bisa mengerti bahwa sesungguhnya Silmi menginginkanmu. Betapa bodohnya aku tak menyadari hal itu. Mungkin dengan memintamu menjadi guru les Afni, ada maksud lain. Ternyata aku terlambat memahami maksud itu!”

“Tapi kamu yang menginginkannya, Man!” hibanya padaku.

“Tidak! Tak ada gunanya ia menikah denganku. Hatinya hanya tertaut padamu. Kamulah yang pantas mendapatkannya! Maafkan aku yang sempat ingin merebutnya darimu!”

Kami berdua tertunduk. Angin di pelataran mesjid ini tak mampu menyejukkan suasana hatiku yang goncang. Tapi aku berusaha menahan diri agar tak terbawa perasaan seperti Salim. Salim orangnya sensitif. Kalau aku juga menangis di hadapannya, aku telah menggoreskan luka yang teramat menyakitkan hatinya. Biarlah duri itu menghunjam hatiku. Toh hatiku telah pecah dan beterbangan, sulit tersakiti lagi.

“Percayalah, aku ikhlas menerima semua ini. Aku bangga padamu karena kamu tak mau membuat luka di hatiku. Namun ia lebih pantas untukmu. Temui dan pinanglah ia sesegera mungkin. Ataukah kamu ingin aku yang meminangkannya untukmu?”

“Tidak, Man.. Aku tak sanggup!”

Air mata itu terus membanjiri pipinya. Salim, kuatkanlah hatimu, kawan!

“Yakinkan dirimu, Lim! Kamu tak mau menerima permintaan sahabat baikmu ini? Sebagai seorang muslim, aku akan sangat kecewa jika yang kamu katakan dulu bahwa sesama muslim harus saling membantu, tidak kamu lakukan!” tegasku.

“Tapi aku tak ingin menyakitimu dengan meminangnya!”

“Sekarang tataplah aku! Biarlah hati seorang sahabat sakit, tapi apakah kamu mampu mengobati sakit hati seorang wanita? Apakah kamu akan menghancurkan impiannya terhadapmu? Ingat, Lim! Yang bermain dalam wanita itu adalah perasaan. Sekali kamu mempermainkan perasaannya, maka ia akan rapuh, lalu membencimu! Jangan kamu biarkan ia bermain dengan pengharapan! Yakinkanlah Silmi bahwa kamu akan meminangnya. Buat ia merasa terlindungi olehmu!”

Aku seperti tabah mengatakan kalimat-kalimat itu, walau sebenarnya hati ini goncang. Ternyata laki-laki pun tak bisa lepas dari rasa sentimentil.

“Kamulah yang paling pantas untuk Silmi! Kamu telah dekat dengan keluarganya. Kamu telah sering bertemu dengannya, mungkin hampir tiap hari. Sedangkan aku? Selama empat bulan ini pun aku belum menemuinya. Aku tak begitu dekat dengan keluarganya. Aku bahkan baru tahu bahwa ia punya adik bernama Afni. Selain itu, ia juga pasti punya pertimbangan mengapa ia memilihmu ketimbang aku.”

Kulihat Salim menyeka air matanya, lalu ia berkata padaku dengan sorot mata meyakinkan. Inilah Salim yang kuharap selama ini.

“Mungkinkah Allah mengirim jodoh padaku lewat jalan ini, Man?” Ia tersenyum menatapku. Mukanya semakin cerah, kemudian aku mengangguk mengiyakan.

“Kalau ini memang kehendak Allah, bersediakah kamu meminang Silmi untukku, Man?”

Mataku berbinar. Salim telah kembali menjadi Salim yang dulu.

“Kapan, Lim? Sekarang? Besok? Atau lusa?” tanyaku dengan semangat. Walau hati ini masih terasa goncang, tapi senyum Salim berhasil merekatkan kembali serpihan hatiku yang beterbangan.

“Secepat itukah?”

“Ya! Kamu telah memikirkannya matang-matang selama masa “gentayangan”mu, kan?”

Kulihat ia tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat, lalu ia menganggukkan kepala.

“Tapi kamu harus berjanji padaku kalau kamu akan membahagiakan Silmi dan membuatnya merasa bersyukur mempunyai suami sepertimu nanti. Kamu harus menjadikannya sebagai istri yang paling bahagia di dunia! Jangan terlalu sering kamu mengecewakannya!”

“Akan kupegang janjiku itu!” ujar Salim dengan penuh percaya diri.

“Lalu kapan kamu akan mengutarakan maksudmu itu?” tanyaku penasaran.

“Minggu depan. Soalnya pada saat itu aku gajian. Maklum, awal bulan!” candanya.

Ah, Salim! Kamu bisa juga bercanda. Semoga gajimu sebagai staff pengajar dalam program bimbingan belajar dapat mensejahterakanmu dan keluargamu nanti. Aku hanya bisa merestui dan mendo’akanmu.

“Undangan pernikahan pertama padaku, ya!” godaku

“Oh, pasti!”

Kami berdua tertawa, padahal acara pernikahan itu belum tentu terjadi. Bahkan peminangannya pun belum dilaksanakan. Kemudian kami berangkulan. Di dalam hati, aku tak henti mengucap syukur.

Sementara itu, angin sepoi masih berhembus sejuk di pelataran masjid ini. Di langit, mentari turun perlahan dengan menyibakkan warna jingga. Silmi…berbahagialah engkau, karena telah memilih pendamping hidup sebaik Salim. (xxx)

Written by Deri

Februari 25, 2008 at 11:55 pm

Ditulis dalam Literature

SURAT TERBUKA UNTUK IBU PERTIWI

without comments

Mentari teduh bersinar, membangunkan semesta alam, namun mengapa kau tak jua berhenti menangis? Di tengah kepiluan yang kau alami, aku mengerti. Aku mengerti ada segores luka menganga di ragamu. Ibu aku sebagai anak tak mampu melihat itu lebih lama, tak kuasa menahan air mata ketika kau meringis dalam kegetiran darah-darah yang tumpah. Kelabu sorotmu tak mampu ku terjemahkan dalam kebanggaan. Tapi yakinlah aku tak mau jadi anak yang kurang tahu terima kasih. Aku akan membuatmu bahagia. Aku tak akan membiarkan sebutir air matapun jatuh. Kan kusunggingkan senyummu dalam cita-citaku. Walau kau tak pernah harapkan balas budi aku tak akan berhenti.

Ibu dulu pernah bercerita akan arti sebuah kejayaan. Ingatkah itu? Sesuatu yang kini kita dambakan. Meski sampah-sampah tlah bertebaran di sisimu, takkan kubiarkan kau menyentuh itu, bahkan tak kubiarkan kau mencium bau busuknya. Telah lama kau berkubang dalam keadaan yang penuh kenistaan. Membiarkanmu sendiri dalam tangis. Sungguhpun kau cantik, aku tak melihat itu kala kau menangis. Ibu, aku yakin waktu yang akan membawamu pada senyum tulus. Senyum yang mengukir namamu di petak zaman.

Dalam diam aku selalu merutuk pada setiap ketidakadilan. Ingin rasanya kuhapuskan itu dari rautmu. Sungguhpun aku tak mampu, takkan kubiarkan itu merasuki anganku. Melenakanku sedang kau menangis dalam kegetiran. Hanya harapan yang bergejolak dalam hati ini ibu. Aku tak mampu berbuat banyak. Banyak putera-puteramu kini pergi melanglang entah ke mana. Aku yakin mereka belum tentu kembali.

Aku yakin di setiap sudut rumah ada sampah. Menyengatmu dengan kebusukan. Aku prihatin dalam ketidakberdayaan. Aku bingung bagaimana aku harus berbuat agar kau kembali tersenyum. Dan kembali berjaya dalam sejarah. Tertulis di keping-keping zaman.

Akan tetapi aku ragu ini hanya sebuah angan. Ibu mungkin mengerti apa maksudku. Puteramu ini lebih banyak diam menikmati keprihatinanmu tanpa mampu berbuat apa-apa. Jika saja ku tahu dari awal, proses yang membuatmu begini, aku akan bentangkan benih perlawanan dalam setiap ujung-ujung ragaku.

Ibu kini aku hanya mampu menulis dalam kalimat-kalimat kepihatinan yang pendek. Dan berharap ada yang sudi membacanya. Merenungkan akan arti penting kembali membuatmu berjaya. Memang tidak mudah. Aku tahu itu. Tapi tekadku kan mengalahkan segalanya. Kan kurangkai asa dari sekarang. Menyusun kembali monumen-monumen kejayaan agar mereka bisa kembali melihat bahwa ada sebuah negeri yang bernama INDONESIA telah membawa perubahan dunia baru.

End of 24 Februari 2007

Written by Deri

Januari 4, 2008 at 1:29 am

Ditulis dalam Literature

CERITAKAN PADAKU TENTANG MALAM

with one comment

Senja, ada kawan yang memintaku berkisah tentang malam. Tentang kesunyian yang selalu membuat manusia terhening dalam kesendirian. Menatap bulan yang tak sekedar bersinar. Memandang bintang yang tak sekedar berkelip. Malam juga telah membuat kekaguman di hatiku. Tumbuh merintis angan dalam sepi.

Senja, kau mungkin tahu malam tak pernah bersamamu. Malam tak selalu membuatmu indah. Malam telah membisikkan padaku dinginnya. Tapi kini kuminta engkau bercerita tentang rantai-rantai yang membelenggu kawanku itu. Tentang malam yang seperti bisu. Di sini sendiri aku akan mendengarkanmu,

Wahai engkau yang ingin aku bercerita tentang malam melalui sinar. Maaf aku tak bisa berkisah banyak tentang malam. Sinarku tak mampu menembus apa yang membuat malam itu indah menurutmu. Malam juga melambaikanku pada ujung waktu, untuk membuatku kembali datang, menyapa semesta alam. Aku tak pernah mengharapkan sebuah ketinggian yang akan membawaku. Kemudian mengantar pada dera kebimbangan. Menilam kesepian. Menghadirkan gundah di hatimu. Percayalah malam tidaklah buruk. Ia indah. Buktinya aku selalu melihat engkau berterawang dengannya. Menikmati dingin dan sunyi. Gelap dan riaknya yang lembut hingga menentramkanmu.

Ada kalanya sebuah tanya tak bisa dijawab dengan kata-kata. Menjadi sebuah misteri yang akan terjawab seiring zaman memandang hijau. Engkau, engkau mungkin baru pertama kali mendengarku. Di antara kekaguman. Di antara penat yang dulu membelenggumu. Coba ketahuilah bahwa saat satu bintang berkelip, aku tahu itulah akhirku. Malam telah memberikan keindahan yang lain pada semesta dan pada pengagumnya. Akan tetapi mengapa kau tak berkisah tentang itu saja? Tentang sunyinya. Tentang pekat yang menentramkanmu.

Wahai engkau, aku tak tahu siapa yang selalu melukisku. Adakah itu engkau? Percayalah aku dan malam sama saja. Keindahannya menurutmu melegakan dalam kesendirian ujung hari. Kepastian mana yang lebih indah aku tak mampu menjabarkannya.

Engkau mungkin tahu akan arti keindahan. Menentramkan hati. Menyiangi gelisah dengan sejuk abadi. Tapi ketahuilah aku tak lagi mampu membawamu pada semesta keindahan yang terlampau tinggi. Menidurkan impian dan menghambat kenyataan untuk hadir bersamamu.

Andai malam mau berbagi kisah denganku tentang sebuah keindahan abadi merangsang manusia untuk menyadari bahwa hakikat diri itu adalah sebuah keindahan, aku kan membawamu pada ‘singgasana’ waktuku, dan kan kubiarkan kau melihatku seperti apa.

Ada hening, ada tanya, ada kekaguman.

Semua terangkum dalam satu kata.

Mengiris sepiku dalam gelisah.

Dan malam menutup kehadiranku.”

Ada hati yang pilu, namun cepat menyadari sebuah tanda tanya besar yang tak akan terungkap dengan seribu bahasa jawaban, aku takkan terpuaskan dengan itu.

Percayalah senja kan kucari arti dibalik semua ini. Sampai kau masih dalam pandanganku, menentramkan jiwa menghadirkan bening yang menghapus keraguan.

End of 14 Mei 2007

Written by Deri

Januari 4, 2008 at 12:56 am

Ditulis dalam Literature

PESAN DALAM KESEPIAN ISYARAT

without comments

Senja, jelasnya aku ingin bercerita tentang engkau dalam kesepian yang membawaku pada kenikmatan suasana. Meneguhkan badai-badai rindu yang mengatenuasi kelupaanku. Mengandam kekeluan risau. Membungkusnya dengan kebebasan hati. Serta kurasakan engkau makin dekat dalam hati ini.

Senja, hanya waktu yang mampu membuktikan keindahan apa yang kini sedang aku alami. Di dalam ketiadaanmu aku berpikir tentang pencarian rasa. Rasa yang membawaku pada dominasi diri. Menenggelamkan kebimbangan, dan mengubahnya dalam gradasi pelangi yang berkilau. Lukiskan itu untukku. Pada saatnya nanti, akulah yang akan menyandang itu.

Senja, aku yakin keikhlasan akan membawaku pada denting hati yang demikian sunyi. Hati yang terisi dengan keberterimaan tinggi. Perkenankan aku untuk memaklumi ini. Aku tahu kau hanya bisa menanggapiku di derai hening. Kemudian mulai berbicara dengan alam sebagai isyarat yang dapat aku mengerti, dan hanya aku yang mengerti.

“Duhai sang pencerita. Engkau mungkin tak tahu bahwa sebenarnya ku mengamatimu setiap saat. Setiap saat kau berpikir akan keindahan, keselarasan, dan keikhlasan menerima. Aku tahu hatimu benar seperti itu. Hanya aku merasa terjebak pada desau semesta yang tak mengerti apa sebenarnya yang kau pikirkan.

Tempatkan aku semampu engkau mengurai cerita tentangku, dan aku tak akan menolak itu. Aku tak akan menyayat pilu di hatimu. Aku tak akan menebar gelisah dalam perihnya engkau menampung kerinduan. Hanya rasa ini demikian tak bisa ku tahan. Rasa untuk sekedar menyapamu, walau dalam mimpi. Tapi jauh lebih dalam yang aku rasakan kerinduanmu mampu menembusku dan menjadi sarana dialog yang menyejukkanku di periode malam.

Ku yakin engkau memahami aku di setiap masa. Di setiap langkahmu. Di setiap peraduan semi yang kurasa kau akan selalu menantikannya. Endapkanlah rasa itu. Khidmatkan dan simpan aku di memorimu, maka di sini aku merasakan apa yang kau rasakan. Percayalah bintang malam ini, bulan malam ini, dan udara yang dingin kan memandu berjuta pesanmu untuk disampaikan padaku, yang malam pun akan merasakan ada suatu suasana yang berbeda.

Duhai engkau, lukislah anganmu demikian tinggi hingga batas di mana aku tak lagi bisa menggapainya. Jangan merasa gelisah karena itulah yang aku inginkan dari apa yang telah kau pikirkan. Bermainlah dengan rasa itu. Kabarkan pada semesta bahwa hanya padaku pesan itu berlabuh.

Tenanglah….

Dan kerjapkan pandangmu pada ujung simfoni cakrawala

Menghiasi detik-detikku di akhir kehadiran.”

Ketahuilah bahwa aku takkan berhenti untuk mencari ke mana pesan itu kan terbawa. Senja aku tak menyangka kau luluh hanya dengan kata-kata. Tapi aku bersyukur, engkau telah begitu setia menghimpun derai demi derai kata yang mengalir dalam setiap kesendirianku.

Senjaku, zaman kan mencatat sejarah ini sebagai memori terindah bagiku. Kendati berjuta kata telah kureka, berlama waktu telah menunggu, takkan pernah ku lepaskan engkau hanya dalam kelelahanku berujar tentang simfoni kehidupan. Dan perlu kau tahu bahwa simfoni itulah yang telah engkau warnai di hatiku.

End Of 17 November 2007

Written by Deri

Januari 4, 2008 at 12:55 am

Ditulis dalam Literature