Archive for the ‘Sense Of Crisis’ Category
Point-point Kesepakatan GARUT SUMMIT 2009
Bidang Pertanian
- RPJMD perlu ditindak lanjuti oleh organisi perangkat daerah tingkat kabupaten secara optimal
- Uniga Sebagai komunitas akademisi dibidang pertanian memberi dukungan melalui kegiatan agroforestry, agroindustri, agrowisata, dan pertanian organic.
- Dukungan sarana dan prasarana pemerintah ( benih,pupuk, Alsintan –alat mesin pertanian–, Jaringan irigasi, dll) agar dapat dimanfaatkan oleh petani secara partisipatif.
- Perlu peningkatan kemitraan usaha melalui pengembangan komoditas, pengembangan investor, dan pengembangan pasar.
- Perlu penguatan dukungan agroindustri dalam hal peningkatan mutu hasil, diversivikasi produk, dan dukungan alsintan.
- Perlu penguatan regulasi untuk mendukung pengembangan pertaniaan sesuai tata ruang wilayah.
- Perlu peningkatan kualitas SDM dan pemeliharaan SDA untuk pembangunan pertanian secara berkelanjutan.
- Perlu dukungan kebijakan pemerintah dalam pengembangan akar wangi dan Rami.
Bidang Pariwisata
- Pariwisata sebagai Lokomotif pembangunan ekonomi Garut
- Prioritas RPJM untuk tahun-tahun ke depan adalah pembangunan kawasan Cipanas
- Diperlukan dibentuknya badan yang menindaklanjuti rencana pengembangan cipanas, yang terdiri atas pemerintah, swasta, dan seluruh elemen masyarakat
Bidang Pendidikan
- Tenaga Kependidikan
- Diperlukan databes tenaga pendidik di Kabupaten Garut
- Potical will dari pemengang kebijakan yang adil (perlu Pemda yang mengatur pendidikan di Kabupaten Garut yang mencakup seluruh steakholder pendidikan)
- Fasilitas untuk meningkatkan kompetensi guru (buku, kompeter, pelatihan yang terkontrol)
- Pola pembinaan terhadap guru perlu di ubah.
- Pemaknaan sebagai guru.
- Kurikulum
- Perlu digagas tim pengembangan kurikulum Garut yang terdiri dari para steakholder pendidikan.
- Mulok yang khas dengan kondisi Garut (salah satunya adalah Batik Garutan)
- Mengenal tentang diri kita (Spirit perjuangan, spirit orang Garut, karakter orang-orang Garut, dll. ) -
- Ciri-ciri orang Garut (Luhung elmuna, pengkuh agamana, jembar budayana, rancage gawena).
- Mulok entrepreneurship (the spirit of entrepreuneurship)
- Perlu ada tindak lanjut pertemuan untuk membahas mulok khas Garut
- Perlu diperhatikan kebutuhan dan kemampuan kita dalam merumuskan kurikulum khas Garut.
- Peran Serta Masyarakat
- Strategi penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan
- Pemberdayaan media-media untuk meningkatkan peran serta masyarakat – komite sekolah yang tidak netral (memunculkan antipasti keterlibatan masyarakat).
- Peningkatan peran PNF (pesantren) untuk meringankan tanggung jawab guru dalam pendidikan moral.
- Kampanye sekolah gratis pada masyarakat yang tidak memberikan kesadaran pada masyarakat.
- Sosialisasi pendidikan kepada masyarakat.
- Kejelasan informasi mengenai pembiayaan pendidikan kepada masyarakat.
- Perlu ada kontrak antara lembaga pendidikan dengan pemerinah
- Pelibatan di non-keuangan dan di keuangan.
Bidang UMKM
- Pengembangan pasar tradisional melalui repitalisasi pasar , sekaligus dengan pembinaan pelaku pasar.
- Pengembangan industri kreatif melalui peningkatan teknologi produk disesuaikan dengan selera konsumen , baik dari kualitas dan kuantitas produk maupun kemasan produk.
- Kebijakan pemerintah daerah dalam mendukung penggunaan produk dalam negeri khususnya produk kab. Garut. (misal sepatu kulit asli Garut).
- untuk kelembagaan ekonomi diperlukan jalinan kerjasama antara UMKM , pemerintah dan lembaga terkait lainnya..
- perlu adanya pembentukan dewan daya saing daerah dalam ragka meningkatkan produktivitas UMKM Garut
- Dalam rangka identifikasi permasalahan dan pemecahan masalah yang di hadapi UMKM diperlukan PERTEMUAN secara RUTIN Minimal 3 Bulan sekali antara perwakilan pelaku usaha UMKM , asosiasi UMKM , dinas instansi terkait dan lembaga terkait lainnya.
Quote (I)
Bangsa ini rindu dengan kepemimpinan pemuda yang tidak kharismatik, tapi mampu menarik simpul-simpul perhatian massa untuk mendukungnya. Antikemapanan tapi masih bisa survive dalam menghadapi segala tekanan. Pasif dari aktivitas yang mendatangkan kesia-siaan dan berani memikirkan perubahan besar. Tidak disukai banyak orang tapi karya-karyanya bermanfaat untuk banyak orang. Itulah cermin pemuda yang dibutuhkan bangsa ini sekarang. Yang aktivitasnya tak sekedar mengasah bakat, mendalami hobi namun lebih jauh dari itu. Aktivitasnya selalu memberikan pengaruh positif terhadap lingkungannya sekecil apapun
Tentang Kesendirian dan Berduaan
Selepas shalat isya dan di tengah keheningan asrama, ku terduduk di atas kursi geser di kamar 405. Biasanya abis isya di asrama sepi, baru ramai lagi menjelang tengah malam. Entah apa keperluan mereka abis isya ini, mungkin ada yang mencari makan, mungkin ada yang mabit, atau ada liqa? entahlah aku tak mau peduli. Sudah menjadi hal yang biasa kalau abis isya gini aku menjadi orang yang kesepian di asrama (ehem). Biasanya pas dulu menjadi senator, aku sering keluar malam, rapat atau sidang, de el el. Tapi kini aku ingin menikmati malam di kamarku sendiri. Dari lantai empat ini aku menuju ke beranda kamar. Aku duduk di kursi yang ada di sana. Di depanku ada sorot lampu yang cukup terang. Pandangan ku lemparkan ke arah depan terlihat kesepian taman ganesha, hanya sesekali gesekan daun memecah kesenyapan di sana. Ku mencoba melirik ke bawah, kulihat hanya ada beberapa orang lalu lalang di depan kantin, biasanya kalau siang jalan itu ramai sekali. Udara yang sejuk, pendar cahaya semakin membuat malam ini terasa nyaman. Kilau cahaya itu terpantul sempurna ke dalam kolam yang ada di taman ganesha itu. Berkas sinarnya menembus sejuk ke pelupuk mata ini. Angin yang lembut bertiup sedikit demi sedikit menghangatkan malam.
Kemudian kutengadahkan pandang ke atas. Langit hitam pekat yang indah ada berjuta bintang di sana. Tepat di tengahnya bulan sabit terpancang sempurna. Kelip bintang itu menemani gemerlap bulan sabit yang nampak kesepian. Ku dengar alam bernyanyi dalam heningnya. Meski malam, aku dapat mendengar itu dengan jelas. Suara jangkrik mungkin, ataukah katak, entahlah rasanya begitu membuat tentram dalam relung sukmaku.
Ya di beranda ini aku sering menghabiskan malam. Sering bergumam, sering menemukan keindahan dalam sebuah inspirasi. Sering menuntunku dalam sunyi di tengah suasana sepi asrama. Dan berjuta cahaya diiringi suara yang harmoni menemaniku berkontemplasi.
“sendirian lagi, nih?”
Tiba-tiba terdengar suara, entah siapa,apa dari mana, aku tak peduli. Aku teralun merasakan nyamannya malam.
“iya,” jawabku pendek
“ah, apakah kau tak bosan selalu menikmati kesepian dengan kesendirian?”
“apa salahnya?”
“tidak aku begitu mengkhawatirkanmu, kau kurasa orang yang aneh, ke mana-mana sering kulihat sendiri. Ke kampus sendiri, di kamar sering sendiri, belajar sendiri, jalan-jalan sendiri, bahkan makan di warung atau di kantinpun kau lebih banyak terlihat sendiri. Kau antisosial, ya?”
![]()
“ah, tidak juga”
“lalu?”
“ya, mungkin karena urusanku sebenarnya belum melibatkan orang lain. Mandi juga harus sendiri, kan?”
“kau tak bisa begitu!!!”
“apa pedulimu? Kau siapa?”
“itu tidaklah penting. Suatu saat mungkin engkau akan mengutuk arti kesendirian. Kenapa kau tidak seperti anak-anak SMA yang sering ada di gelap nyawang1 itu? Meraka selalu beramai-ramai kalau makan. Mengapa tidak seperti teman-temanmu? Mereka selalu bersama-sam. Kalau jalan-jalanpun mereka sama-sama”
“tapi lihat dulu apa yang mereka kerjakan!”
“maksudmu?”
“coba kau lihat apa yang mereka lakukan. Jauh dari apa yang menjadi kebiasaanku bahkan mungkin dien-ku. Anak SMA itu kalau makan di gelap nyawang kulihat mereka malah asyik ngobrol berduaan, dempetan dengan lawan jenis, pegangan tangan, merokok pula. Ya Alloh, selamatkan negeri ini dari kebobrokan remajanya!”
“ah kau terlalu berlebihan, aku tak menyuruhmu seperti itu. Kau bisa saja ajak temanmu yang lain”
“aku selalu melakukan itu kalau aku ada keperluan dengan temanku. Tidak hanya keperluan, kalau mungkin aku dan dia lama tak jumpa, kami sering ngobrol lama dan bercerita. Kau lihat apa yang aku lakukan lebih memiliki dibanding anak SMA yang tadi.”
Kemudian aku dan dia terdiam. Sesaat kulanjutkan kembali perkataanku yang tadi terhenti.
“aku punya pengalaman yang kurang mengenakkan dengan anak-anak SMA yang makan di Gelap Nyawang itu. Waktu itu juga abis isya, aku pikir kok ada ya anak SMA jam segini masih berkeliaran, bergerombol pula, mereka berpasangan. Yang cewek pakaiannya, naudzubillah, walaupun pakaian SMA lebih mirip pakaian SD, kecil sekali. Yang cowok juga sama parahnya, tangan yang satu memegang tangan ceweknya, tangan yang lain dipakai untuk memegang rokok.”
Aku menghela nafas. Kemudian aku melanjutkan ceritaku kembali.
“waktu itu kebetulan aku makan di meja kosong yang cukup besar.”
“hanya kau sendiri?”
“iya.”
“tuh, kan”
“diamlah aku lanjutkan dulu ceritanya”
Sejenak terdiam.
“gerombolan SMA itu mendekat ke arah meja tempat aku makan. Aku tak ambil peduli dengan kedatangan mereka. Tapi anehnya mereka malah makin bergerombol di tempat aku makan. Kemudian salah seorang di antara mereka berteriak ke si pemilik warung, mas, gak ada tempat yang kosong,ya? Aku kaget juga mendengar itu. Menyadari hal itu si pemilik warung kebingungan. Kemudian ia memintaku yang duduk di bangku itu untuk pindah ke meja pojok yang masih kosong. Maaf, mas bisa diisi dulu tempat yang di sana? Masih ada yang kosong tuh! Begitu si pemilik warung itu menyuruhku pindah. Tak berapa lama meja yang aku tempati tadi diisi oleh anak-anak SMA. Kulihat mereka malah acuh dengan hal itu.”
“nah itulah akibatnya kau makan sendiri. Coba kalau kau makan berdua, atau bertiga atau ber-berapalah, asalkan tidak sendiri, pasti kejadian itu tak akan terjadi.”
“aku tak menyesali kejadian itu. Hanya aku merasa miris anak SMA kok udah begitu ya? Aku benar-benar terkejut.”
“zaman udah modern, bung! Kalau kau tidak begitu, orang-orang akan banyak yang tidak simpati padamu.”
“tidak juga”
“percayalah, kau jangan menjadi aneh sendiri dengan gayamu seperti itu. Bisa-bisa nanti kau tak akan mendapatkan pendamping hidup!”
“wakakakaka…..”
Aku tertawa ngakak
“oi, logikanya tidak seperti itu. Aku tak mau membahas itu. Rasanya tak ada hubungannya dengan apa yang kita bicarakan ini. Aku sudah punya rencana dan strategi untuk itu, tapi ayolah….jangan buat sebuah proses mencari pendamping hidup kau kerdilkan maknanya.”
“ok, kita tak akan membahas itu. Tapi coba kau lihat temanmu. Teman-temanmu kan seumuran denganmu. Kurasa pemikiran mereka tak akan seekstrem apa yang dilakukan oleh anak SMA tadi. Mereka selalu berdua, bersama mendiskusikan banyak hal, tapi aku sering melihatmu tak berada di sana. Bahkan dosenmu sampai bilang kau selalu sendiri saja.”
“tunggu kau juga harus lihat apa yang dilakukan temanku dan apa yang dikatakan oleh dosenku.”
“ah, kau terlalu banyak mencari alasan untuk melakukan sebuah pembenaran”
“bukan, aku hanya mempertahankan apa yang menurutku pantas dan sesuai dengan apa yang aku yakini. Kau tak akan mengerti akan hal ini.”
“ok…ok….apa yang ingin kau beri tahu padaku tentang mereka”
“aku punya teman baik. Dulu aku dan dia satu kelompok dalam acara pelantikan kader inti Gamais. Kau tahu, kan Gamais?”
“ya tahulah. Aku juga banyak tahu apa yang kau tahu.”
“dia menjadi ketua kelompok kami. Dia bahkan menjadi mas’ul dalam pembinaan lanjut setelah pelantikan itu. Dia menjadi ketua kelompok mentoring kelompokku. Dia kuanggap orang yang hebat, pemahaman islamnya pasti di atasku. Akan tetapi kini kulihat dia jauh berbeda. Lama kami tak bertemu, suatu hari kami bertemu di kantin salman bersama seorang wanita. Entah siapa. Hai,der! Ia menyapaku. Aku cukup merasa aneh karena biasanya dulu dia selalu menyapaku dengan ucapan salam sembari menunjukkan senyumannya. Tapi saat itu ia menyapaku biasa saja, datar.”
“aku anggap masih wajar itu”
“sebentar aku belum menyelesaikan ceritaku. Yang membuatku kaget, dia memegang tangan cewek itu. Aku terkesiap. Dengan asyiknya dia ngobrol dengan cewek itu seolah aku tak ada di depannya.”
“mungkin dia sudah menikah. Kan banyak tuh temen-temenmu yang udah pada ngebet nikah.”
“entahlah. Tapi tak ada hal yang dapat meyakinkanku akan hal itu. Pada peristiwa itu aku rasa ia berbeda dengan yang dulu. Maksudmu seperti itu aku agar tidak sendiri?”
“itukan salah satunya.”
“tapi aku tak bersepakat dengan itu!!!”
“baik…baiklah…aku tak mau berdebat tentang itu. Tapi apakah kau yakin dengan kedinginanmu itu kau akan tahan dengan suasana seperti ini?”
“pada saatnya nanti kau akan tahu jawabannya”
“ah, lagi-lagi kau mencari alasan”
“hey, sudah ku bilang, kan di awal tadi….”
“baiklah aku tak akan membuatmu marah”
“kurasa cerita itu tak mampu membuatmu diam. Aku punya teman lagi. Dia kakak seniorku. Dulu dia yang menyambutku pertama kali di institut ini. Kau tahu bagaimana dia menyambutku sebagai mahasiswa baru?”
“apa? Tapi pasti tak penting bagiku”
“dia bersamaku, bersama kami, melaksanakan shalat ashar berjamaah. Ia menjadi imam. Kulihat dulu penampilannya sangat menyejukkan. Wajahnya terlihat memancarkan ketenangan. Aku masih ingat pesannya dulu kepadaku dan teman-temanku, jangan menyerah berada dalam masalah, ini adalah tantangan kalian, perjuangkan apa yang kalian pilih dan menurut kalian benar. Kurang lebih pesannya begitu. Aku masih ingat pesan itu sampai sekarang. Aku merasa bersyukur bertemu sosok yang demikian memesona saat aku pertama kali menginjakkan kaki di institut ini. Akan tetapi kekagumanku padanya kini musnah. Ia telah mengkhianati teladan yang ia bangun sendiri saat pertama aku bersamanya.”
“mengapa?”
“ia kini jauh dari hal-hal yang dulu aku temui. Kini ia tampak menjenuhkan bagiku. Suatu ketika saat kami pulang dari perjalanan kuliah lapangan, kulihat ia duduk sekursi dengan seorang cewek, cewek itu temanku.”
“ah, wajar, kan belum ada apa-apa itu… kau cemburu, ya?”
“hey…hey…yang begitu tak menarik minatku. Akan tetapi tak sewajarnya ia begitu. Tapi yang membuatku kaget adalah ketika ia mengusap pipi cewek itu. Cewek itu dengan nyaman menyandarkan kepalanya. Kemudian kakak senior itu berujar, tidur ya, dek. Rasanya saat itu adalah saat termuak aku melihatnya.”
Nafasku tertahan. Menahan kebencian. Kenangan indah dulu, kini telah menjadi mimpi buruk bagiku terhadapnya.
“ia telah berubah. Kini ia lebih sering mengucapkan kata-kata kotor. Bahkan aku sempat mendengar pengakuan rasa bersalahnya terhadap temanku itu, maafkan kakak yang sering lupa shalat subuh untuk mendoakanmu. Kedengarannya perhatian atau permintaan maaf yang tulus, tapi sayang itu dibungkus dengan bau busuk”
“ah kau terlalu berlebihan. Tak pantas kau menilainya seperti itu”
“lalu apakah kau juga pantas menilaiku seperti tadi? Padahal apa yang kau nilai tentangku belum benar adanya. Aku menilainya karena berdasar apa yang aku lihat. Naif sekali, kau!”
“sudahlah tak ada gunanya begini. Toh, aku menginginkanmu tak seperti ini. Banyak cara untuk bisa berdua atau bersama-sama, tapi tak seekstrem seperti yang kau ceritakan barusan.”
“aku tak yakin dengan pernyataanmu. Kalau kau menginginkan aku tak sendiri tiap beraktivitas, tiu juga sering aku lakukan, cuman aku mencoba menghindar dari kesia-siaan, dan dari keinginan busukmu terhadapku”
“mengapa kau berprasangka buruk padaku?”
“sudahlah aku tak mau berpanjang kata, aku tak mau mempersoalkan hal yang sia-sia. Berhentilah!”
Dia dan aku terdiam. Malam semakin sunyi, hanya cahaya itu yang menjadi teman dialog kami.
“apakah itu tak cukup membuatmu memahamiku?”
“setidaknya kau belum mau juga membuka diri pada orang lain. Aku yakin kau orang hebat, mengapa tak kau tunjukkan apa yang kau kemampuan yang kau miliki pada orang lain?”
“jangan mengalihkan maksud pembicaraan. Ku yakin tujuan utamamu padaku bukan itu!”
“baiklah…aku pikir kau keras kepala”
“aku tak terima”
“aku pikir apa yang terjadi pada teman-temanmu itu wajar saja. Banyak kok sekarang yang seperti itu. Coba bukalah dirimu, aku yakin kau bisa lebih baik dari mereka.”
“dengan mengikuti perilaku mereka? Heuh! Untuk saat ini, itu tak menarik minatku sama sekali.”
Kami terdiam kembali. Aku mencoba mengendapkan kata-kata yang barusan aku katakan. Aku mencoba menguatkan itu dalam hatiku.
“kekecewaanku lantas tak sampai di situ”
“kau ingin bercerita lagi?”
“ya, supaya kau lebih mengerti. Aku mempunyai teman, yang aku kira aku dan dia memiliki kecenderungannya yang sama. Kami diproyeksikan untuk mengurusi LDPS (lembaga dakwah program studi). Ku ketahui latar belakangnya juga dari pesantren. Makin membuatku mantap untuk bersama-sama menjalankan LDPS setahun ke depan. Aku semakin yakin saat ia memintaku membantunya.”
“ia laki-laki?”
“tentu. Maksudmu?”
“ah, tidak,”
“aku dengar ia rajin mengikuti tatsqif rutin. Kenal baik dengan beberapa aktivis Gamais. Tapi entah bagaimana mulanya, aku juga jadi muak melihat tingkahnya,”
“kau terlalu cepat menilainya”
“kau akan tahu mengapa aku seperti itu”
Angin berhembus pelan malam itu. Daun-daun bergesekkan. Rasanya dingin mulai merasuki tulangku.
“ini diawali ketika ia mundur dari aktivitas LDPS, mungkin ia kecewa. Tapi pelarian dari kekecewaan itu yang membuat ia malah keluar total dari aktivitas aku dan dia sebelumnya”
“maksudmu?”
“ia kini juga berubah. Pernah aku main ke kosannya. Kulihat beberapa CD film yang covernya menampilkan wanita seronok. Aku terdiam melihat itu. Ia sekarang jadi sering marah. Perkataannyapun tak lagi bersahabat dengan telingaku. Kata-katanya jauh dari yang aku dengar dulu. Dan kini ia sedang mendekati kakak seniornya. Entahlah itu juga aku dengar dari teman-temanku yang lain. Tapi kulihat ia memang sering jalan berdua, sering nonton berdua juga. Aku kehilangan teman-teman seperti dulu. Aku tak mampu berbuat apa-apa karena aku sendiri.”
“nah coba kalau kau bergabung bersama mereka!”
“kalau mengikuti apa yang mereka lakukan tak sudi bagiku”
Aku naik pitam, dingin malam sudah tak ku pedulikan lagi.
“dengar ya, aku tak antisosial seperti yang kau kira, aku manusia biasa. Aku butuh interaksi. Aku butuh manusia lain dalam perjalanan hidupku, namun caranya aku ke sana yang tidak bersepakat dengan kehendakmu terhadapku. Aku tahu apa yang terjadi padaku. Aku pahami itu”
“bagaimana jika orang lain menilaimu persis seperti aku menilaimu?”
“sayang sekali. Berarti mereka telah menghabiskan pikirannya dengan dugaan-dugaan yang tak ada gunanya.”
“itu bukan alasan logis”
“ya terserah padamu. Rasanya bagiku tak ada gunanya orang lain berpikir tentangku seperti apa yang kau pikir tentang aku. Aku kira mereka buang-buang waktu dan energi saja. Tidak produktif dan tidak ada manfaatnya. Tapi aku akan tunjukkan bahwa aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Ah,,,mengapa aku jadi menduga-duga tak jelas begini”
Ku rehat sejenak dari kata-kataku yang tadi meluncur deras. Ia pun demikian.
“begini, aku berpikir positif saja. Aku yakin pasti lebih banyak orang lain yang tidak berpikir sepertimu terhadapku, dibanding orang yang berpikir sama sepertimu terhadapku. Dan aku rasakan itu memang.”
“seberapa lama kau tahan dengan keadaan seperti ini?”
“mengapa kau bertanya begitu? Aku sendiri nyaman dengan kondisi ini!”
“wajar, kan?”
“jauh dalam lubuk sukmamu terdalam, tidakkah saran-saranmu itu bertentangan dengan hati kecilmu? Kau berlaku itu padaku karena kau harus menepati janjimu? Kau harus menunaikan tugasmu? Kau harus menebus sesuatu yang akan kau hadapi nanti dengan konfrontasi seperti ini?”
Hening, kulanjutkan kembali perkataanku.
“kalau kau menginginkan aku membunuh kesendirianku dengan cara-cara semacam itu, maka itu hanya menjadi mimpimu belaka. Aku tak seperti itu. Aku yakin Yang Di Atas Sana lebih tahu apa yang baik bagiku dan senantiasa melindungiku.”
“aku tak bermaksud begitu, percayalah!”
“pergilah dariku, percuma saja bila kau masih di sini. Tak ada artinya kau terus memaksaku dengan kehendakmu.”
“aku tidak memaksa. Itu terserah padamu”
“ah…itukan menurutmu. Aku tahu siasatmu. Sekali ku lengah itu celah bagimu. Sudahlah tak ada gunanya kau tetap di sini. Pergilah!”
Aku menyadari benar mengapa aku begini, namun aku juga tak akan terus-menerus larut dalam keadaan sepi. Aku juga berteman. Aku sering interaksi membangun jaringan. Hanya sayang mungkin banyak orang yang tak melihat itu. Tapi kukira itu bukan menjadi masalah bagiku.
Malam hening. Kesendirian kembali menemaniku. Mungkin ia telah pergi. Gesekan daun kembali merajai malam, cahaya lampu itu masih terpantul sempurna dari kolam ke arahku. Malam semakin larut. Aku masih sendiri. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka.
“assalamualaikum…”
Akh, ternyata teman sekamarku.
“alaikum salam. Abis dari mana?” tanyaku
“saya mau ini euy,..mabit, lupa bawa jaket.”
Ia kemudian memakai jaket dan mengambil tas, tak berapa lama ia kemudian meninggalkan kamar.
“assalamualaikum…”
“alaikum salam”
Asramapun kembali sepi.
Serupa Tapi Tak Sama
Lama tak menjabat sebagai senator di Kongres KM ITB, rasanya saya ingin mempersembahkan sesuatu untuk sosok yang merepresentasikan lembaga itu, entah himpunan maupun unit di Keluarga Mahasiswa ITB. Ceritanya dimulai ketika saya sering menyaksikan kelakuan anggota dewan di senayan sana lewat televisi. Ada mungkin yang membuat miris, kok bisa ya anggota dewan begitu, atau mungkin kita merasa geram, udah dikasih amanah malah disalahgunakan. Ya begitulah para wakil rakyat kita, walaupun sebenarnya tentu masih banyak yang berlaku sebaliknya. Mafia Senayan kalau kata lagu Slank mah.
Ketika melihat berita semacam itu, saya mencoba membuat komparasi dengan Senator di Kongres Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Dari persamaan dan dari perbedaannya. Komparasi ini mungkin saya buat tidak mencakup semua anggota dewan yang ada di gedung wakil rakyat sana, tapi setidaknya ini mungkin menggambarkan perilaku atau perlakuan anggota dewan yang sering kita saksikan.
Berikut adalah komparasi yang saya bikin
PERBEDAANNYA dulu lah…
- Kalau wakil rakyat di parlemen sana membuat undang-undang atau mengamandemen undang-undang, bisa dapet 500 juta tuh setahun kalau tiap bulan aja bikin undang-undang. Sedangkan seorang senator kalau bikin ketetapan atau bikin amandemen Konsepsi dan AD-ART KM ITB nggak dapet apa-apa. Palingan juga dapet komentar pedas atau tanggapan sinis pas diadakan forum massa Kongres yang dihadiri seluruh elemen mahasiswa ITB.
- Baca entri selengkapnya »
Transformasi Gerakan Mahasiswa dalam Membangun Peradaban Bangsa
Bangsa ini sedang berada pada persimpangan sejarah. Sedang kebingungan ke mana akan melangkah. Bangsa ini perlu ada yang memandu. Bangsa ini terkesampingkan maknanya. Kebanyakan generasi muda inteleknya lebih senang berhura-hura, malas berpikir dan berdiskusi, tidak serius belajar serta terlanjur terjerumus dalam manuver modernisasi yang membuat mereka menjadi kaum oportunis. Mereka adalah manusia yang dididik agar menjadi intelektual yang kontributif, mampu mamahami permasalahan di sekitarnya, kemudian menganalisis serta memformulasikan solusi masalah tersebut dalam bentuk nyata. Tapi apa daya. Definisi tak selaras dengan implementasi. Mereka belum mampu membuat harapan bangsa ini menjadi kenyataan yang lebih baik dari sebelumnya. Kebanyakan mereka tidak memaknai peran yang diemban, posisi di mana mereka berada, serta fungsinya di mata masyarakat. Hanya lebih menonjolkan individualisme yang demikian melambung. Mereka adalah anak manusia yang di dadanya menyandang label MAHASISWA. Generasi–yang katanya–harapan bangsa.
Apa arti kata MAHA di depan kata SISWA?
Pertanyaannya sekarang. Ke manakah para pemuda intelektual terdidik saat ini? Ke manakah para penerus cita-cita bangsa di zaman ini? Di mana kemandirian mereka selaku pengemban amanah rakyat? Mana kegarangan teriakan mahasiswa yang telah meruntuhkan Kerajaan 32 tahun Soeharto?
Jawabannya mungkin bisa terpuaskan jika kita berkeliling kota malam ini. Nongkrong di mall, berkumpul di simpang jalan dengan sekumpulan motor beserta teman-temannya, berdesakkan di konser musik, bersesak-sesak mengantri di loket peluncuran album sebuah grup band, dan berpeluh-peluh keringat di pub sambil menghabiskan dua botol bir.
Mungkin tidak semua. Tapi itulah kenyataannya kini. Gaung hedonisme sudah tak bisa lagi dibendung oleh antibodi idealitas semangat antikemapanan. Dampak negatif globalisasi seakan menghujam deras dalam alur pikiran mereka. Membuat dangkal kreativitas dan menumpulkan kemandirian. Sayangnya zaman ini membuat mereka condong pada satu pilihan yang mengerdilkan intelektualnya.
Sebagai insan akademis yang selalu mencari kebenaran ilmiah, mahasiswa selalu diharapkan mampu memahami keberadaannya berlandas pada Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma merupakan misi yang diembankan masyarakat kepada perguruan tinggi di mana mahasiswa berada di dalamnya dan mendukung tercapainya misi tersebut. Maka inilah mengapa mahasiswa memiliki power untuk menunjukkan arti kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’
Mahasiswa selalu memiliki kemandirian lebih dalam konteks ia memandang hidupnya. Sebagai kelas minoritas yang memiliki kelebihan pikiran dan waktu luang, mahasiswa kerap muncul sebagai pelopor gerakan perlawanan atau perbaikan terhadap kondisi ketidakidealan masyarakat. Gerakan ini dilandasi oleh kesadaran moral, tanggung jawab intelektual, serta pengabdian sosial. Kesadaran inilah yang dulu diyakini membuat mahasiswa memiliki bergaining position di negara ini.
Menyibak Sejarah Pergerakan Mahasiswa
Banyak pergerakan yang dibangun oleh mahasiswa telah melahirkan perubahan di negara ini atau setidaknya apa yang mereka perjuangkan telah melahirkan cetak sejarah bagi bangsa. Pergerakan mahasiswa yang dibangun di negeri ini dulu telah membuat bangsa ini kaya akan sejarah. Mereka menyadari bahwa kebutuhan rakyat saat itu menjadi demikian penting untuk mereka bahas dan cari solusinya. Wujud nyata dari perjuangan mereka dalam menumbuhkan kepedulian terhadap rakyat, membuat mereka menjadi kaum yang kritis, reaktif terhadap ketidakadilan, dan kontrol terhadap jalannya berdemokrasi di negara ini.
Pada zamannya pergerakan mahasiswa di berbagai negara telah melahirkan gejolak sosial yang sangat memberikan pengaruh pada situasi dan wacana pergerakan mahasiswa di berbagai negara lainnya. Demikian juga di Indonesia. Pergerakan mahasiswa di Bolivia, Argentina, Korsel, Filipina, Cina, Iran, dan negara lainnya telah menularkan semangat pergerakan pada mahasiswa Indonesia kala itu. Baik pada masa kebangkitan nasional (1908), masa inisiasi persatuan (1928), masa perjuangan kemerdekaan (1945), masa pergolakan kemerdekaan (1966), dan terakhir masa perjuangan reformasi (1998). Selain pada masa itu, pergerakan mahasiswa telah melahirkan peristiwa sejarah yang sangat dikenang. Di antaranya ada peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) dan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) pada tahun 1978 di ITB sebagai tindakan represif penguasa saat itu terhadap diterbitkannya ‘Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia’ yang terkenal dengan nama “Gerakan Anti kebodohan”. Dari semua akumulasi perjuangan generasi muda intelekual Indonesia telah banyak agenda yang telah dihasilkan dimulai dari masa kebangkitan nasional yang berhasil menyadarkan rakyat bahwa Indonesia harus bangkit dan melawan terhadap segala bentuk kolonialisasi yang ada. Hasil dari masa ini adalah berdirinya Boedi Oetomo sebagai organisasi formal pertama yang didirikan oleh kaum muda pribumi yang intelek. Pada masa inisiasi persatuan (1928) telah melahirkan sumpah pemuda yang intinya menginginkan adanya komponen-komponen yang dapat membentuk sebuah bangsa terwujud. Tahun 1945 mahasiswa selain bertugas untuk menuntut ilmu, mereka juga disadarkan untuk peduli dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa. Banyak mahasiswa yang terlibat pada masa ini, dan hasil yang diperoleh adalah sangat fenomenal (dan mahasiswa saat itu mengambil peran yang cukup besar juga), yaitu kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1966 lahirlah Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) di mana di sana mahasiswalah yang menjadi pelopor. Puncaknya dan peristiwa yang paling fenomenal adalah pada tahun 1998. Generasi inilah yang berani menggulirkan semangat reformasi. Pada masa ini marak terjadi aksi-aksi penumbangan rezim orde baru.
Pada masa itu orientasi dan arah gerakan mahasiswa telahlah jelas. Mereka telah memiliki visi bersama untuk bergerak dan berani melahirkan kepedulian terhadap penderitaan rakyat saat itu. Kesadaran dan kekritisan adalah sikap yang sangat dasar untuk dibangun dalam karakter mereka. Atas dasar menjadi bagian dari masyarakat, mereka bergerak. Maka pada masa itu terkenallah dengan sebutan aktivis. Semua aktivis itu dicetak dengan pola kaderisasi yang rapi melalui kelompok-kelompok studi warisan para seniornya. Mereka dibekali dengan pemikiran dan wacana sosial politik yang berkembang sambil digugah untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka.
Atas dasar itulah sikap kepemimpinan yang mereka bangun. Budaya berdiskusi sangat kental sekaligus fokus dan mengena yang terjadi pada masa itu. Wacana sosial yang dikembangkan sedemikian rupa sehingga membuat mereka menyadari keberadaan mereka sebagai insan akademis yang selalu memakai kaidah kebenaran ilmiah. Penanaman nilai yang dilakukan adalah bagaimana mereka mewujudkan kepedulian mereka. Dengan basic pola kaderisasi dan penanaman nilai, mereka telah membuat sendiri perspektif kepemimpinan menurut mereka. Tak perlu dipungkiri bahwa gerakan yang mereka bangun telah ikut menorehkan sejarah perjuangan bangsa ini. Inisiasi mereka telah melahirkan kuncup peradaban bangsa yang nantinya diharapkan terus berkembang lewat tangan dan pemikiran kaum muda ini.
Gerakan Mahasiswa Dulu dan Kini : Transformasi
Pergerakan mahasiswa lain dulu lain sekarang. Tantangan dan peluang yang dihadapi pun berbeda. Antara kolonialisasi dan globalisasi. Setiap masa memiliki zamannya masing-masing. Setiap masa memiliki sarana pembelajaran dan aktualisasi masing-masing. Setiap masa memiliki cara menjawab tantangan zaman dan masa depan. Oleh karena itu jelas pergerakan mahasiswa per-masa-nya pasti akan berbeda
Kita mengenal gerakan mahasiswa harus berlandas pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka haruslah perguruan tinggi bertugas untuk menanamkan nilai-nilai Tri Dharma tersebut. Secara substantif, keberadaan mahasiswa di perguruan tinggi tak terlepas dari peran perubahan yang dimiliki oleh setiap perguruan tinggi. Dalam perspektif tertentu, mahasiswa juga merupakan aset masa depan sebuah bangsa, karena mereka adalah kelompok minoritas dari masyarakatnya yang terpelajar. Dengan demikian, mahasiswa secara mitos selalu diagungkan sebagai calon-calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Namun, sejauh mana relevansi dari asumsi tersebut dengan realitas yang ada?
Kenyataan menunjukkan bahwa mahasiswa adalah bagian dari mereka yang juga menjadi masalah dari bangsa ini. Ketidakmampuan perguruan tinggi membangun kapasitas keilmuan yang secara kritis mampu memberikan banyak perspektif epistemis, juga berpengaruh pada kualitas mahasiswa yang dihasilkannya. Perguruan tinggi hanya sekedar menjadi mesin/pabrik yang melahirkan produk massal yang bernama sarjana, yang bahan mentahnya adalah mahasiswa. Perguruan tinggi juga hanya menjadi konsumen yang mengikuti selera pasar dalam melahirkan produk-produknya. Dalam konteks lain, perguruan tinggi kemudian menjadi kelompok oportunis yang dibungkus oleh legitimasi ilmiah yang demikian canggih.
Keadaan ini membawa konsekuensi pada tidak adanya hubungan yang baik antara gerakan pemikiran kritis di satu sisi, dengan kecenderungan perkembangan perguruan tinggi yang mengarah pada pemikiran dominan (neoliberalisme) di sisi lain. Pada titik inilah sebenarnya terjadi benturan yang sangat berat di internal sebuah perguruan tinggi, yang secara langsung mempengaruhi cara berpikir mahasiswanya. Akibatnya, mayoritas mahasiswa adalah mereka yang tidak kreatif, tidak inovatif, tidak kritis, serta tidak mempunyai visi perubahan secara esoterik dalam memandang masa depan masyarakatnya. Dampak negatif dari globalisasi yang merasuki segala bidang kehidupan masyarakat.
Kondisi ini secara langsung maupun tidak langsung berakibat pada dinamika gerakan mahasiswa yang terbangun dari dalam kampus. Terkadang kita hanya bisa mengurut dada tatkala melihat mayoritas mahasiswa yang apatis, hedonis, dan tidak peduli dengan lingkungannya. Sementara di pihak lain kita juga bisa menemukan sedikit mahasiswa yang kritis, yang dengan kembang kempis mencoba melakukan sesuatu untuk perubahan masyarakatnya. Ironis! Padahal harusnya pada zaman sekarang ini yang mengusung tema globalisasi di mana-mana, mahasiswa harusnya menjadi subjek penilai terhadap keberjalanan proses ini, bukannya turut menjadi objek. Jelas ini menimbulkan masalah.
Gerakan mahasiswa yang dibangun saat ini dengan memakai metode pergerakan masa lalu dinilai tidak memberikan perkembangan berarti dalam merumuskan kembali peradaban bangsa. Metode-metode konvensional seperti aksi (demonstrasi) sayangnya menjadi sebuah tindakan yang terlalu reaktif, dan dianggap sebagai metode satu-satunya. Maka apabila kita lihat metode pergerakan masa kini dan masa lalu sebenarnya tidaklah jauh berbeda, sayang sekali hasilnya sangat berbeda jauh. Pemerintah kini tidak lagi khawatir dengan yang namanya aksi, masyarakat kini telah menganggap itu hanya ritual kemahasiswaan saja. Ditambah lagi dari keapatisan mahasiswa. Ketidakberlanjutannya mereka dalam menjaga komitmen mereka untuk bergerak. Mereka memang selalu ikut ambil bagian dalam tiap-tiap aksi, akan tetapi setelah itu kemudian mereka malas-malasan, tidak mau serius belajar, tidak mau serius berfikir, tidak mau serius berencana dan tidak mau serius berdiskusi bagaimana caranya menawarkan solusi dalam setiap permasalahan yang dihadapi. Parahnya lagi di antara mereka banyak yang berkoar-koar mengenai fasilitas rakyat, ia sendiri yang malah menggunakan fasilitas rakyat itu dengan tidak bertanggung jawab. Maka metode yang dibangun masa kini haruslah menjadi tinjauan ulang yang harus dirumuskan oleh mahasiswa dalam setiap gerakannya. Karena hakikat gerakan itu adalah memberikan pengaruh. Apalagi dalam menghadapi era globalisasi yang sangat kompleks. Agaknya persoalan gerakan harus memiliki dasar dan pedoman yang harus diemban oleh setiap mahasiswa yang masih memiliki kepedulian dalam hatinya.
Maka dari itu idealnya, gerakan, sebagai sebuah proses untuk menumbuhkan sense of leadership mahasiswa diperlukan transformasi. Arti transformasi di sini bukan berarti mereduksi semua metode gerakan kemahasiswaan yang dulu sudah berkembang, akan tetapi lebih dikaitkan pada persoalan atau permasalahan yang menjadi dampak negatif dari globalisasi. Misalnya kebutuhan akan pangan, kerusakan lingkungan, kelaparan, kebutuhan akan energi dan teknologi tepat guna, permasalahan sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya.
Transformasi gerakan mahasiswa yang dibangun untuk masa depan harus memenuhi irisan antar beberapa kepentingan oleh setiap pihak. Sifat gerakan yang dibangun idealnya adalah:
• Membangun Karakter Kebangsaan.
• Menciptakan Pemimpin Masa Depan (Labatorium Kepemimpinan).
• Gerakan Konstruktif (keprofesian dan teknologi, Pengabdian Masyarakat, Entrepreneurship).
Kemudian timbul pertanyaan. Siapakah yang akan memainkan peran untuk mengambangkan sifat gerakan tersebut. Sifat gerakan yang pertama yang harus ditampilkan adalah membangun karakter kebangsaan, sekarang ini banyak mahasiswa yang melandasi gerakannya dengan karakter NATO (No Action Talk Only) atau omdo alias omong doang. Inilah sebenarnya kondisi yang memprihatinkan. Perguruan tinggi yang berperan sebagai lembaga yang ikut turut andil dalam penanaman atau pengajaran, haruslah menanamkan pembangunan karakter, agar sifat ini lebih didasari oleh semangat untuk menjaga keutuhan. Untuk menyadari betapa pentingnya kontribusi gerakan terhadap arah membawa bangsa ini selanjutnya. Perguruan tinggi harus mampu mewujudkan karakter itu yang ada pada mahasiswanya. Dengan berlandas pada potensi dasar manusia (fisik, akal, jiwa) metode pembangunan karakter mahasiswa harus terus ditingkatkan agar dia mengerti seberapa penting perannya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Membangun Karakter Kebangsaan harus terintegrasi ke dalam sebuah sistem tata nilai yang dianut oleh mahasiswa. Nantinya pembangunan karakter ini juga yang akan membentuk pola pikir ilmiah, kritis, idealisme, dan kepeloporan. Pola pikir inilah yang mendasari sebuah gerakan. Gerakan dalam sebuah wujud protes terhadap kondisi sosial yang dinilai tidak adil.
Transformasi gerakan juga harus memunculkan generasi-generasi yang mampu memimpin bangsa ini. Sudah saatnya kaum muda, terutama mahasiswa, mempersiapkan untuk memproyeksikan diri menjadi pemimpin. Mencetak pemimpin muda adalah sebuah urgensi untuk mendinamisasi keberjalanan bangsa ini. Untuk para mahasiswa tempalah diri kalian di berbagai organisasi, baik itu bersifat sosial, politik, ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan lainnya. Organisasi merupakan sarana yang paling tepat dalam mempersiapkan mentalitas kepemimpinan mahasiswa yang nantinya akan menjadi penopang budaya kepemimpinan nasional yang saat ini masih morat-marit dan memalukan. Belajarlah mengenal bidang yang disukai agar dapat memberikan perspektif kritis tentang kepemimpinan (leadership) yang secara visioner mampu merumuskan pola kehidupan bersama yang lebih baik di masa yang akan datang. Ambillah peran strategis yang dapat meningkatkan skill leadership. Dalam menumbuhkan skill leadership, ada beberapa faktor yang dapat menunjang skill tersebut. Pertama, harapan. Harapan adalah matahari di langit jiwa. Tidak ada sesuatu yang sangat dibutuhkan saat reruntuhan kekalahan menghimpit jiwa kita selain dari harapan yang dapat mengembalikan rasa percaya diri untuk bangkit kembali. Di sinilah fungsi seorang pemimpin dan nilai yang dianutnya! Kedua, mengubah diri. Harapan itu menimbulkan tekad untuk mengubah diri, dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Menjadi teladan, adalah cara yang efektif dalam mempengaruhi orang. Ketiga, mencari visi terhadap perubahan. Para penggerak tidak bisa bekerja tanpa perencanaan, mereka butuh planning untuk memelihara semangat gerakannya. Pun ketika ia tidak menemukan orang yang dicari, ia akan membuatnya sebelum energinya habis. Maka dari itu risaulah terhadap penyakit-penyakit yang menyerang bangsamu hari ini. Buatlah kegelisahan hati dengan membaca koran, berita, dan media-media tentang bangsa ini. Bukalah mata atas penjajahan asing atas sumber daya alam Indonesia yang sudah semakin menipis. Kemudian berpikir untuk menjadi pembuat kebijakan strategis di negeri ini. Bangkitkanlah negeri ini ketika kau menjadi pemimpin nanti. Lawanlah semua ekses negatif globalisme. Tumbuhkanlah dalam diri kita keberanian menentang tirani. Serta ingatlah bahwa transformasi gerakan ini harus memunculkan hasil yang signifikan bagi bangsa ini.
Constructive Movement : The Real Transformation Movement
Transformasi gerakan yang ketiga merupakan wujud konkret gerakan yang bersifat pengabdian dan tentunya akan mengarahkan bangsa ini pada kemakmuran dan mungkin kesejahteraan. Dengan gerakan konstruktif yang terdiri dari pengembangan keprofesian mahasiswa dan penerapan teknologi, pengabdian masyarakat, dan kegiatan berwirausaha, diharapkan peran serta kepemimpinan mahasiswa sebagai kaum muda dalam perannya sebagai agent of change, guardian of value dan iron stock menjadi solusi terhadap permasalahan bangsa.
Dengan pengembangan keprofesian dan teknologi yang menjadi inti pengetahuan mahasiswa, diharapkan dapat mengaplikasikan apa yang dipelajarinya di bangku sekolah untuk diabdikan terhadap masyarakat dan bangsa. Metode yang dilakukan adalah dengan sedikit menggeser minat kita terhadap hal yang lebih luas kepada kegiatan-kegiatan penelitian dan keprofesian. Harus ditanamkan kesadaran dalam benak mahasiswa bahwa mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan di bangku kuliah merupakan tanggung jawab moral yang harus dipenuhi. Didasari oleh permasalahan bangsa yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi maka mahasiswa berkesempatan untuk ambil peran dalam penyelesaian masalah tersebut. Misalnya teknologi dalam pemanfaatan energi untuk listrik, teknologi dalam mengelola lingkungan, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi ketahanan pangan dan banyak lagi teknologi yang dalam perspektif pengajaran di perguruan tinggi bisa dikembangkan lebih lanjut untuk kemanfaatan masyarakat dan bangsa ini. Bukan hal yang tidak mungkin mahasiswa melakukan itu dan banyak sarana serta wadah untuk menampung kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan keprofesiannya untuk kegunaan. Di antara ada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI), serta masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang telah banyak melahirkan karya nyata sebagai kreativitas intelektual mahasiswa. Semua karya nyata tersebut tentunya dilandasi atas dasar wujud kontribusi mahasiswa terhadap bangsa.
Jikalau karya nyata itu telah banyak dan termanfaatkan dengan baik, maka perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan Indonesia akan lebih maju. Dengan Iptek yang maju bukan tidak mungkin bangsa ini menjadi bangsa yang terpandang di dunia internasinal. Semua itu akan menjadi cita-cita besar mahasiswa untuk bangsa.
Mahasiswa pun harus bergerak dalam konteks yang lebih real lagi selain mengembangkan keprofesiannya. Keprofesian itu akan lebih terdayagunakan apabila mampu diimplementasikan dalam kegiatan yang bersifat pengabdian. Hal ini merupakan cerminan dari tri dharma perguruan tinggi. Misalnya mengadakan kegiatan Bina Desa atau terlibat dalam mitigasi bencana alam ataupun pelestarian lingkungan. Bahkan kalaupun di lingkungan sekitarnya ada kegiatan kerja bakti dan mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut, maka itu adalah wujud kontribusi yang riil walaupun kecil, tapi mungkin demikian berarti bagi masyarakat di sekitarnya. Sekali lagi kegiatan tersebut harus dilandasi dengan kesadaran tanggung jawab mahasiswa sebagian bagian dari masyarakat.
Efektivitas keilmuan dan latar belakang ilmu akan lebih bermanfaat lagi apabila melibatkan banyak pihak, baik orang lain maupun dirinya sendiri. Dengan melahirkan semangat wirausaha serta upaya untuk mengimplementasikannya akan sangat berguna setidaknya bagi mahasiswa itu sendiri. Setidaknya ia tak akan menambah beban pengangguran yang menjadi salah satu masalah bangsa saat ini. Ia juga membantu pemerintah dalam membuka lapangan kerja baru. Berwirausaha merupakan sebuah wujud gerakan mahasiswa dalam sisi yang mungkin tidak terpikirkan selama ini. Setidaknya negeri ini membutuhkan orang yang berjiwa entrepreneur lima persen setiap tahunnya (ITB dan Manusia ITB untuk Indonesia Incorporated, Cardiyan HIS, President & CEO PT. SWI Group, Jakarta). Peluang mahasiswa dalam menumbuhkan dan menularkan semangat wirausaha sekarang ini sangat terbuka lebar. Asalkan memiliki keteguhan dan kesungguhan untuk berusaha mandiri.
Semua wujud transformasi gerakan tersebut semakin membuka penempatan peran serta kemampuan kepemimpinan mahasiswa sebagai generasi muda untuk turut ambil bagian dalam penyelesaian masalah bangsa. Ikhtiar yang dilakukan mudah-mudahan dicatat sebagai langkah revolusioner untuk mewujudkan tatanan bangsa Indonesia yang madani, adil, makmur, dan berkesejahteraan. Konsep berpikir dalam mewujudkan gerakan-gerakan yang disebutkan di atas sebenarnya masih menggunakan metode bagaimana mahasiswa masa lalu berpikir akan realita bangsa, akan tetapi dengan implementasi gerakan yang berbeda.
Refleksi kepemimpinan mahasiswa dalam memimpin transformasi gerakan ini harus dilakukan dengan semangat penyadaran akan realita masyarakat dan bangsa, menumbuhkan kepedulian yang murni, dan semangat integritas serta pembelajaran yang dimaknai sebagai pemicu semangat untuk berkontribusi. Kritis, ilmiah, pelopor, inisiatif, dinamis, serta kata-kata lainnya yang merupakan sikap dan sifat yang harus disandang oleh mahasiswa di zaman ini. Ingatlah bahwa bangsa ini merindukan putra-putrinya untuk memimpin. Untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik dalam membangun peradaban bangsa.
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi Cakrawala
Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
-WS Rendra-
NILAI STRATEGIS MEMBANGUN JARINGAN BAGI MAHASISWA
Kampus merupakan sebuah tempat yang menyimpan sejuta energi dan pesona yang tak bisa dilukiskan. Di tempat ini kadang idealisme lahir, kadang muncul inovasi luar biasa, atau bahkan mungkin semakin kuatnya jalinan interaksi dan komunikasi antarindividu. Terkadang atau bahkan mungkin sering mahasiswa memanfaatkan ini sebagai wadah pembuktian diri, atau mungkin hanya sekedar alasan klise yang tidak reasonable, yaitu tempat mencari ilmu. Sayang sekali apabila banyak mahasiswa melewatkan hal-hal penting dan strategis ketika ia berkuliah. Jika masa kuliah dilalui dengan datar-datar saja tentu tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dan ini sering dialami oleh banyak mahasiswa ataupun yang pernah menjadi mahasiswa. Padahal kampus bisa memberikan semacam jalan kreatif bagi mahasiswa untuk berhubungan dengan orang lain, baik itu secara personal maupun komunal. Banyak nilai-nilai penting dan strategis di kampus yang apabila mahasiswa mampu memanfaatkan ini akan memberikan nilai tambah untuk masa depannya.
Apa yang menjadi nilai strategis di kampus yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa? Membangun jaringan. Ya, dengan membangun jaringan kita sebagai mahasiswa mampu membentuk pribadi yang kuat dan berwawasan luas dalam menghadapi era persaingan global. Mengapa membangun jaringan memiliki nilai strategis atau setidaknya dapat berperan penting dalam menentukan masa depan mahasiswa? Ada beberapa alasan kuat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, dengan membangun jaringan, mahasiswa dapat meningkatkan orientasi soft skill-nya selain juga fokus terhadap studinya. Ini penting, sebab soft skill sangat berpengaruh dalam interaksi antara mahasiswa dengan masyarakat nantinya. Kedua, membangun jaringan secara tidak langsung dapat menghubungkan mahasiswa dengan dunia kerja yang diinginkan. Misalnya mahasiswa ingin bekerja di industri perminyakan, maka yang dilakukan agar keinginan itu tercapai adalah membuka link atau komunikasi dengan orang-orang yang memiliki pengaruh di bidang industri perminyakan. Begitupun apabila mahasiswa ingin bekerja di bidang entertainment maka dengan membangun hubungan dengan orang-orang yang bergelut di industri entertainment merupakan salah satu cara yang dapat mengakselerasi tercapainya keinginan tersebut. Ketiga, dengan membangun jaringan, mahasiswa –setidaknya– jadi lebih mudah menyelesaikan segala persoalan maupun masalah karena tinggal meminta bantuan kepada orang yang dirasa ahli menangani masalah tersebut. Jelasnya, apabila mahasiswa terkait masalah di bidang hukum di sisi lain mempunyai relasi misalnya seorang pengacara, maka masalah ini akan menjadi sedikit mudah karena kita dapat meminta bantuan pada orang tersebut. Singkatnya, dengan membangun jaringan beberapa nilai strategis yang didapatkan mahasiswa yaitu memudahkan berinteraksi dengan masyarakat, secara tidak langsung menghubungkan mahasiswa pada dunia kerja yang diinginkan, dan membantu penyelesaian masalah dalam aktivitas keseharian. Setidaknya inilah beberapa alasan yang saya rasa paling mendasar untuk menjawab mengapa membangun jaringan itu penting untuk mahasiswa. Saya jadi teringat ketika mantan Rektor ITB, Pak Kusmayanto Kadiman memberikan sebuah statement bahwa mahasiswa ITB itu harus mengenal baik sedikitnya 1000 orang selama masa kuliah. Saya rasa alasan mengapa beliau melontarkan pernyataan seperti itu adalah senada dengan alasan yang saya ungkapkan sebelumnya.
Lalu kalau begitu di manakah kita bisa membangun jaringan? Ada beberapa jalan. Contohnya dengan mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau ikut dalam kepanitiaan suatu kegiatan. Biasanya, para pengurus UKM atau panitia penyelenggara suatu kegiatan akan menghubungi orang-orang penting dan berpengaruh untuk mendukung keberlangsungan kegiatannya atau kinerja UKM-nya misalnya dalam bentuk dana ataupun dukungan. Nah, kita bisa berperan di posisi ini, yaitu menjadi pihak yang berhubungan langsung dengan orang-orang penting dan berpengaruh tersebut.
Dalam membangun jaringan ada beberapa hal yang harus diperhatikan mahasiswa. Hal ini penting agar kita mampu menjaga keberlangsungan proses di atas. Perlu ditekankan bahwa saat kita mulai membuka link dengan orang-orang besar atau yang memiliki pengaruh, tunjukkan semangat kita sebagai mahasiswa, idealnya sebagai kaum muda agar dia melihat kita sebagai mahasiswa yang tidak biasa, mahasiswa yang memiliki idealisme (kebanyakan orang-orang berpengaruh di negeri ini menyukai mahasiswa seperti ini). Kemukakan maksud kita padanya dengan jelas, percaya diri, yakin dan bersemangat bahwa apa yang ingin kita sampaikan padanya adalah sesuatu yang demikian penting. Bila komunikasi dan hubungan ini telah terjalin dengan baik jagalah agar proses ini tetap berjalan. Seringlah melakukan komunikasi dengannya mengenai berbagai hal akan tetapi jangan sampai mengganggu aktivitasnya (beberapa di antara mereka kadang sangat sibuk dengan pekerjaannya). Dan yang terakhir, tanyalah pada orang-orang yang sudah berpengalaman berhubungan dengan orang-orang besar dan berpengaruh, mintalah saran dan tips padanya bagaimana berhubungan dengan orang-orang besar dan berpengaruh di berbagai bidang. Demikian hal-hal yang penting untuk diperhatikan mahasiswa dalam membangun jaringgan. Akan tetapi pada intinya haruslah sering berkomunikasi dengan orang lain dan menjaga kepercayaan serta nama baik kita sebagai mahasiswa. Diharapkan ketika mahasiswa menjalankan proses ini ia tak akan lagi menjadi mahasiswa ataupun sarjana yang tak berguna di mata masyarakat. Semoga hal itu tidak sampai terjadi…….
Selamat Siang Kemahasiswaan
Sebuah Satire
selamat siang kemahasiswaan
sebuah bualan tentang agen perubahan
omong kosong tentang penjaga nilai
gak ambil pusing apa itu iron stock
semua hanya ucapan manis
saat aku datang pertama kali ke kampus ini
dan kini kemahasiswaan berjalan pelan tanpa realitas
telah mati karena kekuasaan yang memaksa
telah mati karena keengganan bergerak dari pelakunya
sudahlah lupakan itu semua
bolehlah itu menjadi agenda kata
yang disampaikan pada adik-adik kita
dan berharap mereka akan terbuka pikirannya
kami mahasiswa terbaik bangsa
mahasiswa yang menghargai tradisi
tapi maaf kami gak bisa berkreasi
maaf juga kalo yang kami omongkan
adalah perkataan senior kami dahulu
sudahlah lupakan kemahasiswaan
kini reformasi telah berjalan
sudah saatnya kita kembali belajar
menyimak perkataan dosen dengan baik
dan tutup telinga mendengar suara rakyat di luar sana
sudahlah lupakan obrolan mengenai bangsa
rasanya obrolan mengenai hedonisme lebih enak dicerna
pulang kuliah sudah gak zaman ngumpul berdiskusi
lebih enak ke mall, pacaran, atau nongkrong-nongkrong
lagian ’kan factory outlet di sini banyak
sayang kalo gak dikunjungi
sekarang sudah gak keren lagi berdemo
kini lebih keren ngantri audisi atau nonton konser musik
walaupun tak jelas bwat apa
tapi yang penting kami enjoy
biarkan kami nikmati kehidupan kami sendiri
kami punya idealisme yang masih bisa dibeli
kami miliki kemapanan dalam berkata
tapi nol dalam bertindak
tapi apa peduli kami?
itu tidaklah penting….!!!!
dan sekarang zamannya telah berubah
kemahasiswaan telah kalah
ah, bukan tapi sudah tak penting lagi
walau kami bawa dalam setiap perkataan dan perbuatan
dan atas dasar kemahasiswaan
itu adalah sebuah simbol belaka

